Foto: www.google.com

Penulis: Shofiatul Husna Lubis

Kehidupan para Nabi dan Rasul yang berjumlah 25 sudah lebih dulu disinggung Allah pada firman-Nya dalam surah Al-Anbiya’ dan surah lainnya. Allah menguraikan kisah-kisah tersebut agar manusia percaya dan yakin bahwa ajaran yang dibawakan para Nabi dan Rasul tersebut adalah benar adanya. Keyakinan itu haruslah berdasarkan pembuktian nyata dan tampak jelas oleh mata. Allah Swt. memberikan suatu mukjizat yang berbeda-beda kepada para Nabi dan Rasul, seperti halnya Nabi Muhammad Saw. yang diberikan Allah mukjizat berupa Alquran sebagai pedoman hidup bagi manusia agar kebenarannya dapat menerangi alam semesta. Firman Allah Swt. yang artinya:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bawa Alquran itu adalah benar. Tiadakah bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushsilat: 53)

Mukjizat berikutnya adalah Nabi Isa As. yang dapat menghidupkan kembali manusia yang sudah mati, dan mukjizat berikutnya yang dimiliki Nabi Daud As. adalah dapat melunakkan besi menjadi kertas dan dapat dibuat untuk bermacam-macam keperluan hidup tanpa dibakar dan dipukul seperti kebiasaan tukang besi. Dan masih banyak mukjizat yang dimiliki para Nabi dan Rasul lainnya.

Mukjizat tersebut adalah pembuktian nyata sehingga tampak oleh kaum-kaumnya dan dapat mengakui kewujudan Allah Swt. dan mengakui Nabi serta Rasul-Nya sebagai manusia yang diutus membawa kebenaran. Selain sebagai Nabi dan Rasul, mereka juga sebenarnya adalah seorang ilmuwan yang mampu mengamati dan mengenal alam sekelilingnya dengan baik, seperti yang Allah Swt. perintahkan dalam Alquran sebagaimana artinya:

“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus: 101)

Sebuah peristiwa besar Isra Mikraj juga salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw. yang  dipertemukan dengan arwah para Nabi, seperti Nabi Adam As. di perbatasan langit pertama dan kedua, Nabi Isa As. di perbatasan langit kedua dan ketiga, Nabi Yusuf As. di perbatasan langit ketiga dan keempat, Nabi Nuh As. di perbatasan langit keempat dan kelima, Nabi Musa As. di perbatasan langit kelima dan keenam, dan Nabi Ibrahim As. di langit ketujuh. Mengapa harus bertemu dengan para Nabi tersebut? Siapa sebenarnya mereka, serta apa kaitannya dengan sains dan teknologi? Ternyata kalau dikaji lebih dalam kehidupan para Nabi tersebut, maka sebenarnya mereka adalah para ilmuwan yang menguasai sains dan teknologi. Berikut para Nabi yang memiliki pengetahuan sains dan teknologi, di antaranya:

  1. Nabi Adam As.

Nabi Adam dapat mengamati dan mempelajari berbagai sarana dan prasarana kehidupan surgawi, yang kemudian divisualisasikan di bumi. Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi bersama Siti Hawa, bumi masih amat sangat natural. Belum ada bangunan, fasilitas umum, makanan yang beraneka ragam, alat-alat elektronik dan lainnya. Tidak ada apapun kecuali hanya hutan belantara, padang pasir, danau, sungai, dan pantai yang semuanya belum tersentuh oleh manusia. Dengan bekal fasilitas yang pernah dilihatnya di surga, maka Nabi Adam mampu membuat rumah dan peralatannya mirip dengan apa yang ada di surga. Demikian halnya dengan sarana dan prasarana hidup lainnya, selalu dikerjakan dan diupayakan meski dalam kapasitas yang masih sederhana. Dan untuk melaksanakan semuanya itu dibutuhkan Saintek (Sains dan teknologi). Oleh karena itu, jangan pernah menafikannya, justru harus kita miliki sebanyak mungkin untuk menciptakan kemandirian dan menjamin kebutuhan hidup yang sejahtera.

2. Nabi Nuh As.

Pembuktian bahwa Nabi Nuh salah satu seorang ilmuwan adalah dengan adanya hasil desain pembuatan kapal Nabi Nuh dengan ukuran yang cukup besar (mungkin sama dengan Titanic) sementara dia bukan ahli dalam membuat kapal. Karena hasil penciptaannya itu, sebagian kaumnya dapat selamat dari banjir besar yang menenggelamkan hampir sebagian besar di wilayah Palestina sampai ke barat Alpen.

3. Nabi Musa As.

Seorang ahli tambang pasti tahu tempat atau lahan yang banyak mengandung emas, sama halnya dengan Nabi Musa yang mempunyai murid kesayangan yang bernama Qarun. Ia tergolong rajin beribadah, tetapi hidupnya fakir. Ia meminta kepada Nabi Musa untuk diajari ilmu agar bisa mengubah nasibnya yang miskin itu. Setelah mendesak beberapa kali akhirnya Nabi Musa mengajarinya mendulang emas dan menjadikannya kaya raya.

Itulah kelebihan Nabi Musa yang mampu mendulang emas, jika Nabi Musa memiliki ilmu seperti itu, pastilah Nabi Musa juga memiliki pengetahuan tentang cara mencari tempat yang banyak mengandung emas. Maka dari itu sudah jelas bahwa beliau adalah ahli pertambangan.

4. Nabi Yusuf As.

Nabi Yusuf dengan keahliannya dalam hal menafsirkan mimpi. Sehingga dengan kelebihannya beliau dapat menjelaskan arti mimpi Raja Qibty. Karena kemampuannya itu, akhirnya Nabi Yusuf diangkat menjadi menteri keuangan atau pertanian. Tetapi jika keahliannya hanya menjadi penafsir mimpi pastilah tidak mungkin sanggup memangku jabatan tersebut. Maka dari itu beliau diangkat menjadi ahli pertanian.

Banyak ilmuwan-ilmuwan dari negara Eropa yang juga mengakui mukjizat para Nabi sebelumnya, misalnya Prof. Dr. Maurice Bucaille adalah seorang ahli bedah yang meneliti mumi Firaun. Ada dua pertanyaan yang menghantui pikirannya. Pertama, tubuh Firaun mengandung garam yang sangat tinggi, hal itu cukup membuktikan bahwa Firaun mati tenggelam di laut. Kedua, mengapa hanya jasad Firaun saja yang ditemukan dan mengapa tidak terjadi pada bala tentaranya yang lain? Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah oleh temannya yang muslim melalui Firman Allah Swt. yang tercantum dalam Alquran sebagaimana artinya:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (QS. Yunus: 92)

Dari pengertian ayat tersebut sudah membuktikan bahwa semua kejadian sesudahnya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Akhirnya pada tahun 1975, Maurice memutuskan untuk masuk Islam karena mengagumi kebesaran dan mukjizat Alquran.

Begitu pula dengan ilmuwan lainnya yang sudah memutuskan masuk Islam karena hasil penelitiannya yang terungkap jelas dalam Alquran.  Kebanyakan di antara kita tidak mengetahui bahwa para Nabi dan Rasul adalah juga seorang ilmuwan Saintek (Sains dan Teknologi), kita hanya berpikir Nabi dan Rasul itu diutus hanya dalam hal penyempurnaan agama dan ibadah saja, terlepas dari itu kita sering lupa bahwa Nabi dan Rasul itu betul-betul manusia pilihan yang dapat menguasai semua hal. Untuk itu, kita sebagai manusia biasa tidak ada yang tidak mungkin bagi kita. Selagi kemauan ada, ambil i’tibar dari kisah para Nabi dan Rasul. Belajarlah dan pahamilah segala sesuatu  dari alam sekeliling kita, dan buatlah sesuatu yang bermanfaat untuk kesejahteraan kita dan bangsa kita.

Editor : Nurul Farhana Marpaung