Foto: kirahfz.id

Penulis: Rizka Rahma Fajri Sitorus

Sebagai seorang manusia yang terlahir sempurna, kita tidak terlepas dari yang namanya berprasangka, karena kita dikaruniai hati untuk menimbang segala yang ada di dalam maupun di luar diri. Suatu prasangka senantiasa menghiasi berbagai hal yang berkenaan dengan sisi-sisi kehidupan. Misalnya, ketika kita diberi rezeki berupa harta atau benda dalam jumlah sedikit, lalu kita berprasangka kepada Allah Swt, bahwa Dia seakan tidak adil terhadap kita, padahal belum tentu demikian. Karena bisa saja ketika Allah Swt memberi rezeki yang berlimpah, justru kita pergunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh agama (diharamkan). Tak ada jaminan bahwasanya hal yang memuaskan diri itu selalu berakibat baik. Bisa saja rezeki yang kita sangka bernilai sedikit, ternyata itulah yang terbaik untuk keberlangsungan hidup kita. Bukankan Allah Swt lebih mengetahui atas diri kita? Jadi, berprasangka negatif tadi bisa dikategorikan suuzan atau buruk sangka.

Bagaimana dengan kehidupan di dunia ini, terkait hubungan sesama insan yang tak jarang secara spontan menghina, serta mencemooh. Jika kita berada diposisi sebagai korban cemoohan, apa yang kita rasakan? Jika kita bukanlah orang yang penyabar, maka diri ini akan dikuasai oleh amarah, membalas cemoohan dengan kata-kata yang lebih dahsyat menyakitkan hati. Padahal di balik semua itu tersimpan rahasia agar kita bisa lebih mengintrospeksi diri. Namun, kita telah lebih dulu dibutakan oleh buruk sangka terhadap sesama. Sebenarnya, jika kita renungi hal itu bisa memberikan nilai positif. Tetapi, berburuk sangka tentu bukanlah energi positif yang harus dibina dan dipelihara di relung hati.

Jika kita tetap memelihara sifat buruk sangka, niscaya sejumlah kerugian akan didapatkan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Suuzan atau berburuk sangka merupakan suatu gerak hati secara negatif yang jelas berbuah dosa. Seperti menganggap orang lain tidak baik tanpa dasar yang jelas dan berusaha menyelidiki atau mencari-cari keburukan orang lain. Ha ini sudah disinggung Allah Swt dalam surah Al-Hujurat: 12 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasngka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?  Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang”.

Berburuk sangka membuat kita menjadi rugi karena apa yang kita nyatakan berupa kebohongan besar. Jika kita memfitnah atau melakukan semacam tuduhan terhadap seseorang, padahal itu tidak benar, bukankah itu suatu kebohongan besar? Di lain sisi kita telah merusak nama baik orang tersebut. Rasulullah Saw bersabda:

“Jauhilah prasangka itu, karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berburuk sangka kepada orang lain juga akan memunculkan sifat dan sikap buruk lainnya. Adapun sifat dan sikap itu ialah, ghibah, membenci, hasad, menghasut, bahkan juga dapat memutuskan tali silaturahmi dengan saudara. Seperti sabda Rasulullah Saw yang artinya:

“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat disisi Allah Swt sebagai seseorang yang benar (jujur). Berhati-hatilah terhadap dusta, sesungguhanya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR. Bukhari).

Marilah kita lupakan segala dendam yang masih bergejolak dalam jiwa. Kita tepis pengaruh negatif  dari prasangka buruk yang masih bersemayam di lubuk hati. Lebih baik kita ubah prasangka negatif itu menjadi prasangka positif atau husnuzan, baik kepada sang pencipta maupun kepada sesama manusia. Yakinlah bahwa dengan berbaik sangka segalanya akan menjadi jauh lebih baik. Tak ada yang memungkiri bahwa segala yang berawal dari kebaikan niscaya juga akan berujung pada kebaikan. Karena dengan berprasangka baik kita dapat menarik hal-hal yang baik dalam kehidupan kita lahir dan batin.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis

*Dikutip dari berbagai sumber