Anela

- Advertisement -

(Foto: Internet www.qureta.com)

Penulis: Amelia Pratiwi

“Gila kamu, ya. Enggak bisa gitu dong, Anela,” dengan perasaan kesal, seorang gadis yang sedang memegang kertas putih itu menatap nyalang Anela, kobaran api yang membara terlihat jelas di matanya, tetapi bukannya takut, Anela justru terkekeh lucu.

- Advertisement -

“Kenapa sih? Kamu sensi banget tahu, santai saja kali,” jawab Anela tersenyum manis, lalu memilih duduk di kursi kantin sekolah. Ya, mereka berdua sedang berada di kantin sekolah.

Setiap pembelajaran baru pasti akan selalu ada olimpiade antar sekolah. Anela, gadis ini berhasil mewakili sekolahnya. Anela telah berjuang keras selama satu tahun, demi mendapatkan hal ini. Mengikuti lomba olimpiade sains, adalah impian Anela saat duduk di bangku SMP. Sekarang, Anela telah duduk di bangku kelas 2 SMA, yang artinya mimpi Anela telah terkabul, dirinya selangkah lebih dekat dengan mimpi dan harapannya.

“Kamu mau aku tabok, ya?” ucap Frasa, sahabat Anela sejak dua bulan lalu. 

“Kenapa sih, akunya aja enggak papa tuh,” ungkap Anela, lalu menghelai napas dan meminum teh manis pesanannya. Menatap kearah sekitar kantin, mencari seseorang. 

Frasa masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar pagi ini. “Aku benar-benar gak paham sama otak kecil kamu itu, ya. Bisa-bisanya masalah kaya gini enggak cerita ke aku dulu. Kenapa sih? Kamu diapain sama mereka?” 

“Aku enggak kenapa-kenapa, Frasa. Lihat, aku baik-baik saja. Enggak ada luka di badanku, kan? Ini memang kemauanku,” kelas Anela kesal. 

“Aku enggak percaya,” ucap Frasa.

Anela berdecak kesal, matanya kembali menelusuri kantin, dirinya sedang mencari seseorang. Sampai ketika menemukan sosok yang ia cari, Anela tersenyum puas. Matanya melihat dengan binar yang begitu takjub, membuat Frasa bingung. Frasa mengikuti arah pandangan Anela ke mana. Ternyata, sahabatnya tengah melihat segerombolan siswi yang tengah berbincang tak jauh dari meja mereka. 

Frasa terus memperhatikan orang itu, sampai akhirnya ia membulatkan matanya kaget dan menepuk bahu Anela kencang. “Aku tabok beneran kamu, kalau apa yang aku pikirkan sekarang beneran.” 

Anela mengerucutkan bibirnya kesal, tangan kanannya mengusap lengannya yang perih akibat ditabok Frasa. “Halah, udah ditabok juga ini.” 

“Cerita cepetan!” desak Frasa.

“Iya-iya bener. Aku ngerasa enggak pantes buat mewakili sekolah kita. Peserta olimpiade dari sekolah lain itu cantik-cantik semua loh, Fra. Bener kata Emily, dia lebih pantas mewakili sekolah kita daripada aku. Biar kalau kalah enggak malu-maluin banget gitu loh,”  jelas Anela.

Frasa menatap Anela serius, lalu menepuk bahunya berniat menyadarkan gadis di depannya ini. “Siapa yang bilang kamu enggak pantes?”

Sebelum Anela menjawab, Frasa sudah memotong ucapannya. “Jangan bilang enggak ada, ya. Aku heran, kamu itu hidup di zaman apa sih, masih saja kemakan omongan gak berguna gitu, sebel aku.”

“CK, kamu enggak akan paham.”

“Apa yang aku enggak paham, hah?”

“Jadi aku. Kamu enggak akan paham gimana jadi aku yang selalu dibilang ‘percuma pinter kalau enggak sesuai standar kecantikan’. Katanya aku malu-maluin sekolah, karena aku enggak secantik Emily. Mereka bilang, pintar saja enggak cukup, Fra. Apalagi sekolah kita katanya terkenal dengan presentasi dan siswanya cantik-cantik, mereka malu kalau aku yang mewakili sekolah. Katanya juga harus balance, otak dan fisik harus sama. Aku capek dengernya, aku gapapa kalau mereka lebih suka Emily untuk mewakili sekolah kita, tapi jangan cari-cari kesalahan aku terus,” ucap Anela, matanya berkaca-kaca. Ia sedih, sakit hati, dan kesal.

Frasa diam, ia terus membiarkan Anela bercerita, mengeluarkan segala penderitaan yang ia tangguh sendiri. Kebiasaan yang seharusnya terhenti, hal seperti ini bukan hal yang wajar dan pantas untuk dibiarkan. 

“Dua tahun kamu berjuang, belajar mati-matian untuk bisa mewakili sekolah kita. Terus cuma gara-gara masalah kayak gini kamu berhenti?”

“Kok gitu? Ini bukan cuma gara-gara masalah ini. Ini hal yang buat aku sakit.” 

“Kamu bener-bener berpikir apa yang mereka bilang tentang kamu itu benar?”

“Aku cuma enggak tahan dengernya.”

Frasa tersenyum sinis, “Yaudah, kalau gitu enggak usah di dengerin. Bereskan?”

“Enggak semudah itu, ya,” Anela kesal.

“Kamu bukan enggak tahan dengernya, tapi pikiran kamu yang buat semuanya semakin sulit,” Frasa mengetik sesuatu di ponselnya. “Kamu enggak percaya diri, kan? Bukan enggak tahan denger mereka. Pikiran kamu yang buat kamu ngerasa semakin enggak percaya diri, yang buat semuanya semakin rumit.”

Anela diam. Ia membenarkan ucapan Frasa.

“Anela, kecantikan itu bukan segalanya. Dia cantik terus punya beauty privilege, gitu? Ngerasa kalau semuanya akan lancar, karena dia cantik? Enggak gitu konsepnya. Enggak semua hal begitu alurnya. Kamu harusnya sadar, kamu pintar dan cantik juga. Bahkan langkah kamu lebih maju daripada Emily. Kamu yang dipilih untuk mewakili sekolah bukan Emily, Kenapa? Karena dia enggak layak. Coba kamu pikirkan, kalau karena cantik, putih, dan punya beauty privilege segalanya, seharusnya dia yang dipilih kepsek, bukan kamu. Sadar dong!”

Anela menangis. “Tapi, hampir satu sekolah bilang Emily yang pantas. Karena, setidaknya jika kita kalah, kita masih bisa memenangkan piala peserta terfavorit.”

“Idih, siapa yang bilang? Itu yang bilang begitu kayaknya yakin banget Emily bakalan kalah. Nih ya dengar, kamu itu siswi paling pinter di sekolah kita. Aku heran banget, hal enggak wajar gini kenapa selalu menjadi wajar sih,” Frasa sangat kesal, di sekolahnya kecantikan selalu menjadi prioritas.

“Karena emang gitu, kalau kita enggak cantik kita enggak akan di-appriciate.” 

Frasa menatap Anela tak percaya, dia akan bersumpah memukul seseorang yang tengah meracuni otak cantik sahabatnya ini. 

“Denger, kamu enggak harus menjadi cantik sesuai standar kecantikan untuk bisa menunjukkan ke dunia siapa kamu sebenarnya. Kamu cukup menjadi Anela yang percaya diri dengan kemampuannya. Kamu cukup percaya ke diri kamu sendiri kalau kamu bisa, dan kamu layak, karena kamu sudah berusaha dengan keras untuk mendapatkan hal ini. Kamu enggak harus menjadi cantik untuk bisa juara, Anela.” 

Ucapan Frasa berhasil mengubah pola pikir Anela, gadis keras kepala yang cantik, namun hobinya overthinking selalu. Anela memang seperti ini, ia lahir dari keluarga yang selalu membandingkan fisik satu sama lain. Anela tumbuh menjadi gadis cerdas yang tidak percaya diri karena lingkungannya. 

Sejak kecil, perbandingan fisik antar saudara sudah ia lalui. Anela selalu dibandingkan hanya karena warna kulitnya yang gelap dan tubuhnya yang tidak ideal, sejak kecil Anela selalu berusaha merubah penampilannya sampai ia lupa bahwa ia memiliki kelebihan yang luar biasa. Tapi kini ada Frasa, sahabatnya yang sudah membuatnya sadar, bahwa tidak harus menjadi cantik untuk bisa mendapatkan sesuatu. Ia hanya butuh rasa percaya terhadap diri sendiri, lalu kecantikan akan terpancar dengan sendirinya. 

“Iya, kamu benar Frasa. Aku enggak harus jadi cantik untuk bisa mewakili sekolah kita, karena nilai yang ada di dalam diriku enggak terletak di wajah. Aku punya otak yang pintar, harusnya ini memang udah cukup buat aku jadi percaya diri,” jelas Anela tersenyum. 

Frasa tertawa, lalu menyentil kepala Anela gemas. “Seharusnya kamu udah tahu ini, enggak perlu sampai aku marah-marah dulu.”

“Punya rasa insecure itu wajar tahu, kan rasa insecure juga yang bisa buat kita semakin berkembang.”

“Iya deh, iya. Pokoknya kamu enggak boleh mengundurkan diri, kamu harus maju mewakili sekolah kita, dan pulang sebagai juara.”

Anela mengangguk setuju, “Aku pasti menang. Kan aku pinter banget.”

Editor: Nurul Liza Nasution

Share article

Latest articles