Warga Sumut Lakukan Aksi Damai Tolak Pemusnahan Babi

3
Massa yang mengatasnamakan gerakan #Save Babi melakukan aksi long march saat menolak pemusnahan ternak babi tekait virus kholera di Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara, Senin (10/2/2020). Dalam orasinya mereka menolak pemusnahan ternak babi terkait wabah virus kholera Afrika karena selama ini berternak babi telah menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. (Foto/ANTARA /Septianda Perdana)

Medan, Dinamika Online – Pada hari Senin (10/2) ribuan warga Sumut tergabung dalam gerakan aksi damai menolak pemusnahan babi di Sumatra Utara. Mereka menggelar unjuk rasa di depan kantor DPRD Sumut. Aksi  ini bertajuk gerakan ‘Save Babi’ yang merupakan bentuk penolakan terkait isu pemusnahan babi akibat wabah African Swine Fever (ASF) yang sedang viral, Selasa (11/2).

Isu pemusnahan babi muncul paska wabah ASF atau demam babi Afrika dan Hog Cholera. Dalam aksinya, mereka membawa sejumlah atribut seperti ulos dan spanduk menolak rencana pemusnahan babi di Sumatra Utara. Aksi tersebut  juga mendapat pengawalan dari pihak kepolisian.

Baca juga: LPM Dinamika UIN SU Pertahankan Penghargaan ISPRIMA 2020

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap mengutarakan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut tidak pernah berencana melakukan pemusnahan massal ternak babi di Sumut setelah virus African Swine Fever (ASF) mewabah. “Tidak ada pernyataan Gubernur Sumut berencana melakukan pemusnahan babi, itu hanya omongan orang yang tidak bertanggung jawab dan membuat masyarakat Sumut resah,” paparnya seperti yang dikutip melalui Humas Sumut pada Selasa (10/2), “Soal Wabah Babi Gubernur Tidak Pernah Berencana Lakukan Pemusnahan Massal.”

Pemusnahan massal (stamping out) boleh dilakukan bila hewan ternak terjangkit penyakit zoonosis, sedangkan ASF tidak tergolong zoonosis. Di Indonesia stamping out sendiri bertentangan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 95 Tahun 2012, kecuali hewan yang terjangkit penyakit zoonosis (berbahaya bagi manusia), itu harus segera diputus penyebaran virusnya.

Baca juga: Hadiri HPN, Jokowi Sebut Wartawan Adalah Karibnya Setiap Hari

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi B DPRD Provinsi Sumut Victor Silaen menyebut saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Gubernur Sumut, Menteri Kesehatan dan sejumlah pihak terkait untuk menuntaskan permasalahan wabah ASF.  “Provinsi Sumut telah  melakukan pertemuan-pertemuan dengan instansi terkait maupun pihak-pihak terkait untuk melakukan penanggulangan terhadap virus ASF ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ketua Komunitas Save Babi, Boasa Simanjuntak mengatakan aksi mereka hari itu juga untuk mendeklarasikan Hari Kedaulatan Babi atau Gerakan 102. Menurutnya, gerakan 102 tidak pernah membuat acara reuni, namun akan membuat peringatan setiap tahunnya. “Ini gerakan spontanitas. Dalam suku Batak, babi tidak bisa digantikan. Babi adalah binatang paling bersih, mandi tiga kali sehari. Kalau tidak mandi, babi akan menangis,” kata Boasa.

Reporter : Devi Junita Sari dan Sri Julia Ningsih

Editor      : Miftahul Zannah

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.