Foto: Dok. Panitia

Penulis : Hafiz Hasan Noor

Perpecahan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya membuat kerisauan di dalam ruang kelas, banyaknya keributan antara yang satu dengan yang lainnya semakin melambung tinggi, karena kerisauan akan keadaan ini serta perlunya pembenahan pada masing-masing individu, maka usulan Makrab (malam keakraban) pun muncul dengan tujuan mengkaji ulang kesolidaritasan anggota satu dengan lain.

Tepat pada Jumat 18 Juli di tengah teriknya panas matahari diselimuti macetnya Kota Medan kami melangsungkan perjalanan menuju arah Barat Laut dengan perjalanan kurang lebih 3 jam hingga tiba di lokasi, Desa Bandar Baru Sibolangit. Gundukan bukit dan luasnya halaman serta didampingi hijaunya rerumputan menjadi sahabat baru selama dua hari satu malam, serta bangunan yang membentuk rumah panggung menjadi tempat peristirahatan kami selama di sana.

Tingkat suhu pun mulai berbeda dari biasanya. Warna langit menggambarakan akan tibanya bulan membersamai gelapnya malam, dan tibalah kami di lokasi dengan mengendarai angkutan umum Kota Medan. Instruksi dari pihak panitia mulai dilontarkan untuk melaksanakan breafing mengenai rangkaian acara yang dilakukan. Usai itu, kami memohon perlindungan kepada Allah agar selalu dalam lindungan-Nya.

Panggilan azan dari surau terdekat mulai berkumandang yang menandakan tibanya salat magrib. Selepas itu, kami kembali ke lokasi dan membacakan sepotong surat Yasin yang diniatkan untuk salah seorang teman seperjuangan kami yang terlebih dahulu dipanggil sang pencipta. Kami bergerak memanggang ikan dan ayam untuk santapan malam ini.

Dunia Makrab selalu identik dengan sesuatu yang harmonis, selepas makan malam adalah sesi tukaran kado dengan ditempelkannya pertanyaan di atas kado itu dengan syarat setiap individu harus menjawab sejujurnya. “Jadi nanti ada kertas pertanyaan di atas kado kalian harus jujur untuk menjawab semua itu kalau ada yang tak jujur hati-hati sajalah,” ujar salah seorang panitia.

Sebanyak 34 orang yang mengikuti kegiatan ini hanya satu orang saja yang tak bisa membersamainya, karen sesuatu yang tak bisa dielakkan. Selesai sesi tukar kado dengan ekspresi wajah yang sudah letih ternyata pihak panitia masih memiliki satu agenda acara tanpa diketahui peserta Makrab yaitu sharing station atau mengungkapkan perasaannya selama dua tahun berada di kelas.

Sesi menguakkan perasaan per individu akhirnya ditutup dengan prakata ketua panitia selama mengemban amanahnya. “Jangan terlalu besar berharap kepada uang, ingat carilah pengalaman yang hebat untuk mendapatkan uang yang banyak, dan pembelajaran yang dapat aku petik dalam melaksanakan amanah ini salah satunya adalah melunakkan hati insan yang sudah beku dan mengambil keputusan atas sumbangsih ide yang dilontarkan demi kepentingan bersama,” ujar Hafiz Hasan Noor.

Perdebatan dan perpecahan sudah terminimalisir, tingkat keharmonisan sudah kembali hangat di antara satu sama yang lain. Perjalanan menuju hari esok kini semakin nikmat dengan adanya games. Kemudian, kegiatan ditutup dengan mandi bersama di suhu udara yang tak biasanya dirasakan. Canda tawa pun mulai bangkit, teguran, sapaan juga sudah menjadi budaya yang ditanamkan. Dari hal ini, kekompakkan dan komitmenlah yang harus diperjuangakan agar solidaritas itu tetap bertahan hingga akhir.

Editor: Maya Riski