Mendesak Penguasa Menonton Film “Tanah Surga Katanya”

0

bang haki

Oleh: Ahmad Hakiki

 

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya

Tapi, kata kakekku hanya orang kaya yang minum susu

Tiada badai tiada topan kau temui, kain dan jala cukup menghidupimu

Tapi kata kakekku ikannya diambil negara asing

Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya

Tapi, kata kakekku “awas” ada udang di balik batu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya

Tapi, kata dokter intel belum semua rakyatnya sejahtera

Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.

Puisi dengan bait yang sederhana, namun kritis dibacakan oleh Salman, tokoh utama film Tanah Surga Katanya mengejutkan kunjungan para pejabat di sebuah desa terpencil di Kalimantan Barat dekat perbatasan Malaysia. Wajah pejabat diperlihatkan begitu gusar, karena merasa tersinggung. Begitulah pemandangan sekilas adegan dalam film terbaik di ajang Festival Film Indonesia tahun 2012.

Makna bait mewakili betapa peliknya permasalahan di negara ini. Di era yang serba info teknologi ini, masih saja di wilayah perbatasan yang tidak merasakan keadilan para penguasa. Bahkan, parahnya, mereka tidak mengenal mata uang rupiah karena sudah terbiasa dengan mata uang negara tetangga. Sepertinya penguasa lupa atau memang terkesan menutup mata atas apa yang dirasakan saudara kita di perbatasan. Mungkin karena itulah, Herwin Novianto selaku sutradara film ini membuka mata hati kita bahwa kehidupan di perbatasan butuh perhatian.

Tahun 2014 ini, sejatinya harus memulai momentum kepedulian terhadap masyarakat yang tinggal di perbatasan. Kalau tidak, pemerintahan baru tidak ada bedanya dengan pendahulunya. Warga perbatasan semakin geram dan wilayah pasti akan mengikis sedikit demi sedikit karena sudah dicaplok negara tetangga.

Seperti di film Tanah Surganya, secara langsung sang sutradara menunjukkan kelunturan nasionalisme di perbatasan. Kakek Salman (Pak Hasyim) salah satu tokoh utama tersebut, adalah seorang tentara veteran yang mempunyai masa lalu berperang melawan Malaysia, sehingga tak sudi baginya untuk menginjak tanah Malaysia apalagi menetap di sana. Ia mempunyai seorang anak bernama Haris. Haris digambarkan sebagai seorang anak yang putus asa akan masa depannya di Indonesia. Ia kemudian merantau ke tanah sebelah untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Bekerjalah ia di negara sebelah. Dan terbukti, dari pakaian dan kebutuhan Haris dikatakan sudah mapan, itu ia katakan saat berdialog dengan ayahnya. Ia mengajak ayah dan kedua anaknya untuk tinggal di Malaysia karena akan sejahtera. Namun, ayahnya menolak. Iming-iming kesejahteraan, perawatan kesehatan, tempat tinggal yang layak, tak membuat Kakek Salman “Wah”. Ia memilih untuk menetap hidup di wilayah perbatasan Indonesia, meskipun kondisinya tidak mengenakkan. Namun, yang membuat sakitnya selalu terasa saat Haris menikah lagi dengan perempuan Malaysia, dan akhirnya menjadi warga negara Malaysia.

Hal lain yang menyakitkan adalah tokoh dr. Anwar yang baru tiba di desa perbatasan untuk mengabdi. Dokter ini bingung, penduduk lebih mengenal “Ringgit” (mata uang Malaysia) dibandingkan dengan “Rupiah” (dianggap palsu). Ketika dia diminta mengajar anak-anak, ia sungguh terkejut saat mereka tidak tahu lagu Indonesia Raya dan lebih kenal Kolam Susu-nya Koes Plus.

Dari segi infrastruktur lebih parah, di film digambarkan bahwa segalanya jauh dari yang diharapkan. Sekolah yang hampir ambruk karena kayu yang sudah lapuk, jaringan telekomunikasi yang susah, jalan antarkota hanya bisa menggunakan jalur sungai dan memakan waktu yang lama. Tidak adanya fasilitas kesehatan dan banyak lagi membuat warga hanya bisa pasrah menjalani hidup. Yang sungguh menyahat hati adalah penggambaran wilayah perbatasan dua negara. Pembatasnya adalah jalan aspal dan jalan tanah, dari sana sudah terlihat kesenjangan kesejahteraannya.

Ada sesuatu yang unik, yakni masyarakat perbatasan yang boleh masuk ke negara sebelah tanpa ada surat izin. Sepertinya ada kesengajaan negara tetangga untuk mempersilakan warga perbatasan masuk mencari nafkah di sana. Wilayah perbatasan negara tetangga saja sudah mempunyai hiruk-pikuk pasar yang ramai. Tentunya itu jadi bumerang bagi penguasa. Bagaimana tidak, warga perbatasan merasa dianaktirikan. Tidak adanya pasar sebagai tempat menggantung hidup, justru membuat mereka hijrah ke negara sebelah untuk melanjutkan hidup lebih baik.

Tentunya masih banyak sekali hal yang menarik yang bisa kita tarik hikmahnya dari film ini. Film Tanah Surganya harus ditonton semua pejabat sebagai pukulan telak, agar lebih menghargai warga perbatasan dengan kesejahteraan. Triliunan anggaran yang dicanangkan, tak satu pun jatah yang di dapat. Semoga pemerintahan baru ini mengawali kiprahnya di perencanaan pembangunan nasional untuk membangun besar-besaran wilayah perbatasan, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, “harus”.

Banyak hikmah dari film ini. Tentunya tidak kesenjangan saja yang dipertontonkan, namun banyak juga pelajaran yang dapat diambil. Contohnya saja dr.Anwar, seorang dokter muda yang ikhlas mengabdi ke daerah perbatasan untuk keperluan di sana. Catatan bagi para wisudawan yang tidak hanya mengemis mencari pekerjaan di kota saja, tentunya wilayah seperti perbatasan juga membutuhkan ilmu para wisudawan agar mereka juga tidak ketinggalan dan keperluan bisa terisi satu per satu, “harus”.

Semangat untuk sekolah juga patut dijadikan contoh. Orang perbatasan yang jauh dari gaya-gaya kaum muda kota, mesti dipertahankan adat istiadatnya. Jangan sampai gaya kota yang amburadul menghancurkan semangat mereka untuk menjadi pintar akhlaknya dan intelektualnya. Gaya amburadul mesti dibinasakan tentunya, “harus”.

Ending film pun sangat terasa. Di ending justru emosi meningkat, sehingga kita memukul hati sendiri. Sungguh luar biasa film ini. saya mendesak agar kita dan penguasa menonton film Tanah Surganya, “harus”. Karena di ending film, kita dipermalukan negara tetangga dalam perhelatan sepak bola terbesar di Asia Tenggara. Sepak bola yang menjadi kebanggaan bangsa ini, dan yang diharapkan mengangkat derajat negara ini. Harus terus merana sampai sekarang.

Apapun yang terjadi

Jangan sampai kehilangan cinta pada negeri ini

 

 

Editor: Rahmi Irada Lubis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.