13262110_1116641398394826_968677585_oJudul               : Untuk Apa Hidup Kalau Hanya Numpang Ngeluh

Karya              : Khalifi Elyas Bahar

Penerbit           : DIVA Press

Tebal               : 224 Halaman

Cobaan atau ujian biasanya kerap menyelimuti kehidupan manusia. Keduanya merupakan bagian dari drama kehidupan yang telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Namun, manusia terkadang mudah rapuh pada keadaan yang justru membuatnya lemah dan hanya bisa mengeluh. Manusia sering kali menganggap bahwa mengeluh seolah menjadi pilihan efektif saat mereka ditimpa sebuah cobaan atau ujian. Padahal mengeluh bisa mengakibatkan manusia terpuruk dan hancur. Seharusnya dengan adanya cobaan atau ujian hidup, manusia dapat menjadikannya sebagai sebuah proses pembelajaran dan pematangan diri untuk hidup yang lebih baik.

Dengan membaca buku yang berjudul “Untuk Apa Hidup Kalau Hanya Numpang Ngeluh?” karya Khalifi Elyas Bahar dapat memberikan pemahaman baru bagi kita, bagaimana menghadapi hidup agar lebih indah dengan bersyukur dan tentunya tanpa berkeluh kesah. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa mengeluh itu dapat berakibat negatif untuk diri sendiri. Dijelaskan pula bagaimana seharusnya kita lebih sabar dalam menyikapi setiap cobaan yang datang kepada kita.

Hidup terkadang manis, namun terkadang pahit. Ia mengalir bak air dengan riak dan gelombang yang menyertainya. Hidup juga layaknya sebuah drama dengan skenario yang kadang sulit ditebak. Dimana manusia hanyalah aktor yang perlu memperbaiki skill, keterampilan, mental, karakter, dan juga amal (Hal. 16-17).

Manusia diciptakan bukan untuk lemah, tetapi untuk kuat. Padahal Allah sudah memberikan keistimewaan berupa akal yang seharusnya menjadi sarana untuk membuat kita dapat berfikir dan tidak gampang mengeluh. Sebagai umat muslim, kita juga telah diajarkan bagaimana cara menerima setiap keadaan baik masalah maupun kebahagiaan.

Untuk itu, janganlah mengeluh. Karena orang yang suka mengeluh, tanpa sadar akan memiliki sebuah sikap pesimis dan ragu-ragu (skeptis) terhadap semua realitas, pengalaman hidup yang dirasakannya. Keluhan-keluhan yang selalu muncul dapat memicu beban pikiran yang berdampak stress (Hal. 99-100).

Oleh karena itu, sebelum keluhan-keluhan itu mendatangkan hal yang tidak diinginkan, alangkah lebih baiknya jika kita menyikapinya dengan penuh optimis. Karena obat yang paling mujarab bagi seseorang yang sedang mengalami keterpurukan adalah Sabar.

Sabar dapat mengantarkan kita untuk mencapai pengetahuan dalam mengaktualisasikan diri. Sabar merupakan anugerah agar kita mampu menghadapi segala sesuatu yang menimpa kita dengan ketabahan dan keteguhan hati. Dengan sabar, kita bisa menempa diri agar tidak mudah menyimpulkan atau mengambil keputusan, tanpa disertai keimanan. Terutama pada kondisi hidup yang tak menyenangkan. (Hal. 121-122).

Oleh karena itu, jangan mengeluh! Sebab, sikap mengeluh akan selalu mengganggu kita, membuat kita jauh dari sikap lembut dan membuat hati kita terkunci. Jangan mengeluh! Karena mengeluh akan membuat hati sedih, wajah berubah muram, semangat mengendur, dan menghilangkan harapan-harapan yang indah nan gemilang. So, Bersabarlah dalam menghadapi setiap realita kehidupan.

Buku yang dikemas dengan warna silver dan bunga berwarna orange ini sangat menarik untuk dibaca, juga dapat dijadikan renungan untuk kita semua. Dengan bersabar, semoga kita dapat hidup bahagia, tanpa berkeluh kesah lagi. Masih suka mengeluh?? Baca buku ini !

Selamat membaca!

Peresensi        : Laila Mahfuza

Editor             : Aminata Zahriata