Suka Menunda, Ku Ditinggal Mereka dan Dia

0
Ilustrasi. (foto/ilustrasi/unsplah)

Penulis : Isma Hidayati

“Ayo sini ikut foto!” suara yang berbeda namun dengan kalimat yang sama kembali kudengar. Aku hanya menggeleng dan masih tetap menopang daguku. Aku membenci momen ini, momen dimana aku terpaksa tertawa dan bersenang-senang bersama mereka yang telah mendahuluiku.

“Kenapa diam aja abang? Tak nak berfoto bersama Wirda?” aku memutar kepalaku ke sebelah kanan, karena suara yang menanya ini tak asing bagiku.

“Selamat ya, udahlah dek tahun depan saja kita foto bareng.” aku tersenyum sambil berdiri meninggalkannya.

Baca juga: Menjaga Alam, Solusi Mengurangi Bencana

“Kalau tidak mau tahun depan, jangan diulangi kesalahannya, kalau sekarang diam terus dan tidak mau menjadikan ini motivasi, abang akan tetap menjadi orang yang terbelakang,” kalimat terpanjang yang keluar dari bibirnya akhirnya ku dengar. Namun, aku masih tetap mengabaikan. Aku malu, fikirku. Aku melanjutkan langkahku menuju masjid dekat kampus yang tidak terlalu ramai, dan dengan banyaknya waktuku ini, aku mengingat semua, semua yang terjadi padaku sebelum aku merasa duka dan tersiksa seperti saat ini.

***

Sedari tadi aku duduk diam sendiri menunggu kehadiran teman sekelas diruangan ini. Ruangan yang terlihat bersih terasa tetap sunyi, padahal matahari yang bertengger diangkasa semakin sangar terlihat. Ruangan kelas masih tetap kosong, baterai habis, dan listrik dikampus mati. Apa aku salah liat jam? Pikukku terus didalam hati. Aku semakin merasa gelisah karena tak ku lihat sama sekali wajah 36 teman-teman ku dikelas ini. Kemana? Aku hanya mencoba tetap tenang dan masih setia pada ponsel yang ku genggam, walau dalam keadaan mati.

Assalamu’alaikum.” suara nyaring yang sudah jelas aku mengenalnya pun akhirnya dapat terdengar diruang kelas itu.

“Wa’alaikumsalam warrahmatulahhi wabarakatuh,” aku menjawab dengan semangat, sambil berdiri sigap menghadap kearahnya. “Kenapa lama kali datangnya? Aku dari jam 1 di sini lah,” sambungku dengan suara sedikit keras.

Baca juga: Hadiri HPN, Jokowi Sebut Wartawan Adalah Karibnya Setiap Hari

“Ngapai pula kamu jam satu udah di sini? Udah di bilang jam tiga masuk pun,” jawabannya membuatku terkejut. “Lain kali lebih teliti baca chat dari grup kelas Reyhan Muhammad.” Hingga akhirnya Doli yang merupakan kosma kami menyebutkan namaku. Nama yang terlalu booming di kalangan kampus, sejak aku semester awal hingga semester tujuh seperti sekarang ini.

Kelas yang tadinya sangat sepi pun tak lama kemudian pun kelas menjadi ramai dan riuh,dan kembali hening, hening dan sangat hening. Karena suara langkah kaki yang menuju kelas kami semakin  jelas terdengar. Dan benar, kehadiran yang sebenarnya tak ditunggu-tunggupun akhirnya datang dan membuat fikiranku menjadi buyar, penglihatan ku pun mulai pudar.

Dia, yang kami sebut-sebut sebagai dosen Killer, Pak Jo panggilan yang biasa digunakan untuk memanggil dirinya. Fisika akan makin terasa rumit ketika dia masuk. Bukan karena dia terlalu kurang menjelaskan tapi karena terlalu pintar dalam menerangkan. Ah, ada dosen semacam itu.

“Jangan main kasar`”

“Siapa yang main kasar?” mataku terperangah melihat sosok menyeramkan itu hadapanku, ternyata yang sejak tadi menarik telingaku adalah Pak Jo, bukan mimpiku. Sudah terlanjur kulawan, dan dia langsung mencoret absenku, dia tak menganggap kuhadir. Hanya karena perkara aku tertidur di kelas aku harus mendapat masalah lagi? Padahal aku adalah mahasiswa dari kelas ini yang datang lebih awal. Lengkap sudah bullyanku terhadapnya, bahwa dia dosen killer, aneh, dan terlalu sensitif.

Baca juga: Ani Idrus, Sang Wartawati Nasional

Mata kuliah Pak Jo pun berakhir untung hanya satu SKS, bukan langsung pulang, kami akan menyambung ke mata kuliah yang lebih membuat ku eneg . Kimia, mata kuliah yang menurutku entah untuk apa dipelajari. Bermenit-menit kami menunggu, dan dia tak kunjung datang. Tapi, mata kembali segar, karena yang datang dia, sosok yang selalu membuat mata ngantuk ku menjadi segar kembali.

“Aduh dek,, wajah kau dek.” Sambil menopang dagu aku mencoba menggombal wanita satu angkatan ku, walau satu angkatan aku tetap memanggilnya dengana adek. Wirda, wanita keturunan Melayu yang selalu kucoba mendekatinya dari awal masuk kuliah hingga kini, namun selalu acuh terhadapku. Entah karena aku terlalu tampan dan dia merasa aku tak pantas untuknya, atau entah karena dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan lelaki lain. Inilah moment yang aku sukai, dimana Wirda datang ke kelas-kelas untuk menyampaikan jadwal-jadwal pengajian rutin setiap minggunya. Walau dia berbicara bukan spesial kepadaku, itu sudah membuatku sangat senang.

***

Malam ini, bulan tampak indah menggantungkan diri dilangit yang hitam. Bintang pun berkumpul diangkasa membuat suasana malam semakin indah, hingga aku mengabaikan pesan grup teman sekelasku untuk mengerjakan tugas bersama. Aku hanya menikmati suasana malam dibalkon kamarku sambil mengingat-ingat senyum manis Wirda.

Baca juga: Pura-pura Nikah Tapi Kok Bikin Baper

Kebiasaan malam ku ini sudah seperti hoby, berkhayal, bersenang-senang dengan teman-teman, itu suatu kebanggaan bagiku. Mama terus marah karena skripsiku hingga kini masih berantakan, mata kuliah yang tak lulus di semester tiga, empat, dan lima, masih tetap belum juga terselesaikan. Haha! Intinya aku tetap menikmati hidup bahagia ini.

Mama memanggilku berulang kali, akupun turun ke bawah, katanya ada temanku yang datang. Aku membuka pintu rumah dan kulihat 3 temanku datang. Dan yang membuat kuheran, Sholihin abang seniorku pun datang bersama teman-temanku.

“Kenapa weee,” tanya ku spontan

“Gimana skripsimu? Terus gimana rencana kita yang mau study banding sama-sama?”

“Cuma mau nanya itu?, haha. Aman, santai. Nanti aku kabari,” jawabku dengan lagak seperti biasa.

Baca juga: Warga Sumut Lakukan Aksi Damai Tolak Pemusnahan Babi

“Dek, jangan terbiasa menunda. Udah kau editkan film abang yang kemarin abang minta?” tanya Bang Sholihin. Aku diam sejenak, dan membuatku semakin ingin emosi karena pertanyaan mereka membuatku diam.

“Nanti kukerjakan bang, eh udah malam ini, besok aja di bahas ya,” aku masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka. Entah kenapa mereka tak ada perlawanan atau marah sama sekali. Aku kembali ke balkon kamarku dan kembali melanjutkan khayalanku.

***

Pundakku terasa dipukuli dengan lamban, aku memutar badanku ke belakang sekedar memastikan siapa yang sanggup membuyarkan penyesalan ku, “Dek, salat dek udah azan, ayok jamaah,” ah ternyata Pak Khadir, Nadzir Masjid. Akupun menyegerakan untuk salat dan kembali mencoba mengkoreksi diri sendiri. Sebeginikah aku menjadi seorang mahasiswa? Impian terbesar untuk wisuda bersama dan segera menikahi Wirda malah harus kupendam dengan sendirinya saja.

Hari-hari kulewati dengan rasa gelisah, kecewa, dan penuh duka. Karena aku masih menjalani semester tujuh dengan mahasiswa yang baru naik jenjang. Wajah asing terus ku lihat, entah ini karma atau hanya upaya Allah agar menyadarkanku, yang jelas aku selalu dirundung kesedihan. Satu jam setelah aku duduk di perpustakaan, Wirda menemuiku dengan tetap sama, senyuman yang dihadirkannya kepadaku.

“Kenapa dek?”

“Maaf bang, ini hanya nak antarkan undangan.”

“Undangan siapa dek?”

“Baca saja bang, yasudah, Wirda pamit, nak antarkan undangan ke teman lain. Assalamu’alaikum.” Wirda pergi dengan meninggalkan senyum. Akupun langsung membuka undangan yang berbalut pita, dan membacanya.

Baca juga: Virus Corona Sampai ke Sumut, Benarkah?

Oke fix! Dia menikah dengan lelaki lain, padahal dia tau perasaanku sejak dulu. Aku langsung menutup kembali undangannya dan membuangnya di tong sampah. Ah! Ini menambah perasaan dukaku. Aku benar-benar membenci hari ini. Sudah ditinggal mereka wisuda, sekarang aku ditinggal Wirda menikah

“Dek, kembali kepada Allah, dan jangan terbiasa menunda.” ujar Sholihin, senioranku yang duduk bersama ku sejak tadi. Kata-katanya yang sejak dulu diucapkannya pun kembali ku dengar.

Editor : Rindiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.