Sudahkah Kita Menjadi Lilin Kecil untuk Pendidikan?

1
Ilustrasi menjadi lilin. (foto/ilustrasi/pexels/Dazzle Jam)

Penulis: Syafrita

Dilansir dari laman cnnidonesia.com, Indonesia merupakan negara dengan kualitas pendidikan yang masih rendah. Hal ini diungkapkan langsung oleh Bank Dunia. Selain itu, pemerataan pendidikan juga masih dianggap belum signifikan. Hal ini tentu mengundang pertanyaan, sebenarnya sudah sejauh mana solusi terkait peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dijalankan?

Sesuai dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2018, tercatat 55 persen anak usia 15 tahun yang mengalami buta huruf. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan negara Vietnam yang bahkan kurang dari 10 persen. Untuk itu, dari segi pengenalan huruf atau aksara kepada anak-anak di Indonesia perlu digencarkan kembali.

Baca juga: Menjaga Alam, Solusi Mengurangi Bencana

Meskipun seperti yang kita ketahui, Pemerintah Republik Indonesia sudah berusaha untuk menanggulangi masalah seperti ini. Dengan meningkatkan pembiayaan, meningkatkan partisipasi para pelaku lokal pendidikan, peningkatan kualitas maupun kuantitas guru, hingga sampai tahap kesiapan peserta didik.

Apakah solusi tersebut sepenuhnya mampu memberikan dampak ke seluruh pelosok tanah air? Jawabannya tentu tidak. Indonesia terdiri dari 33 provinsi, 98 kota, 416 kabupaten, 7094 kecamatan, 8490 kelurahan serta 74957 desa. Hal ini merupakan jumlah yang sangat banyak. Khususnya seluruh desa yang ada di Indonesia. Setiap desa tentu memiliki keunikan dan sumber daya yang mampu diandalkan masing-masing. Sumber daya alam yang mampu menghantarkan desa tersebut menjadi sumber penghasilan.

Baca juga: Hadiri HPN, Jokowi Sebut Wartawan Adalah Karibnya Setiap Hari

Sekarang, sangat banyak desa wisata yang tak sekadar dijadikan tempat berkunjung karena alamnya yang indah nian. Namun juga karena penduduk desa mampu memanfaatkan alam sekitar menjadi ruang belajar yang nyaman untuk anak-anak yang berada di sana. Maka tak heran, beberapa masyarakat kadang dengan sengaja membuat satu perkampungan yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Misalkan Kampung Inggris.

Lalu apakah sebatas itu saja? Tidak. Usaha kita sebagai manusia yang sejatinya harus memberikan manfaat kepada orang lain, turut ikut andil dalam setiap pelaksanaan pendidikan yang ada di Indonesia. Meskipun dimulai dari hal yang paling kecil, yaitu mengajarkan anak-anak desa membaca. Sebab dari membaca lah segala cakrawala mulai dapat terbuka.

Baca juga: Warga Sumut Lakukan Aksi Damai Tolak Pemusnahan Babi

Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Mulia.”

(Q.S Al-Alaq: 19 ayat 1-3)

Allah memerintahkan umatnya untuk membaca. Segala sesuatu dimulai dari membaca. Maka pelajaran pertama yang bisa kita bawa ke pelosok negeri adalah mengajarkan anak-anak membaca agar tidak buta huruf. Agar Indonesia menjadi negara dengan kualitas pendidikan yang baik. Apakah kita bisa memulai hal tersebut sendirian? Tentu tidak.

Baca juga: Virus Corona Sampai ke Sumut, Benarkah?

Kita membutuhkan beberapa tangan untuk saling merajut pendidikan ke pelosok-pelosok tanah air. Diperlukan kerja sama yang solid agar tujuan yang ingin kita capai pun mendapatkan hasil yang maksimal. Maka dengan niat mulia serta usaha terbaik itulah kita mampu menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi kegelapan akan ilmu pengetahuan.

Paling tidak, kita berangkat bersama saling beriringan untuk menuntaskan masalah-masalah pendidikan yang ada di negeri kita ini. Karena kita pemuda Indonesia. Rasa cinta tanah air serta benih-benih kebaikan haruslah ditanam sedini mungkin. Supaya kita dapat merasakan panen buahnya di hari kemudian.

Editor : Miftahul Zannah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.