Foto: Internet

Penulis: Regi Amelia

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (surah Al-Ahzab ayat 33)

Islam merupakan agama yang mengatur kehidupan manusia  Aturan yang diletakkan akan dijadikan sebagai pedoman hidup. Tetapi jika ada aturan yang dilanggar, maka akibat buruk akan didapatkan. Bukan hanya diri sendiri, bahkan orang lain juga.

Di antara persoalan besar yang dihadapi oleh manusia adalah yang berkaitan dengan wanita, dikarenakan wanita mempunyai kedudukan yang sangat istimewa. Walau pada kenyataanya perhatian tersebut dipahami oleh masayarakat secara berbeda, tetapi seharusnya perbedaan tersebut  tidak perlu dipermasalahkan, Namun sayangnya perbedaan tersebut sangat mencolok dalam hal yang mikro, misalnya dalam masalah batas aurat, jumlah waris, ada tidaknya wali saat nikah dan lain-lain. Sebab harta paling berharga yang dimiliki wanita adalah rasa malu dan harga diri.

Hal tersebut sudah jelas tertera dalam ayat alquran surat An-Nur ayat 31 dan 60 bahwa: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Allah melarang para wanita untuk tabarruj setelah memerintahkan mereka menetap di rumah. Tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan mereka keluar rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan muhrimnya.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf, 7: 31).

Dari ayat di atas sudah jelas bahwa kebolehan untuk berhias Namun Islam tidak sepenuhnya melarang seorang wanita untuk berhias, justru ia mengajarkan cara berhias yang baik tanpa harus merugikan, apalagi merendahkan martabat wanita itu sendiri.

Al-Qur’an memberikan arahan kepada wanita bagaimana seharusnya mereka bersikap, bersuara dan bergaul dengan lawan jenisnya. Allah berfirman,“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Larangan Tabarruj

Sudah jelas bahwa yang harus diperhatikan bagi wanita yang hendak berhias adalah ia menghindari perbuatan tabarruj. Sebab salahsatu dampak tabarruj adalah mendatangkan laknat Allah swt seperti sabda Rasulullah saw: “Akan datang di akhir umatku nanti laki-laki yang naik pelana (mewah) layaknya laki-laki yang turun ke pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka mengenakan pakaian namun telanjang, di kepala mereka seperti punuk unta kurus. Kutuklah wanita-wanita itu karena sesungguhnya mereka itu terkutuk. Jika setelah kalian ada kaum, tentu wanita-wanita kalian akan melayani wanita-wanita mereka sebagaimana wanita-wanita kaum terdahulu melayani kalian.”

Memperhatikan Masalah Aurat
Sudah sepantasnya seorang wanita yang berhias hendaknya ia paham mana anggota tubuhnya yang termasuk aurat dan mana yang bukan. Sebab pada asalnya secara umum wanita itu adalah aurat, walaupun terdapat perincian terkait aurat wanita ketika ia di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya, di hadapan wanita lain, atau di hadapan mahramnya.
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya, “Wanita itu aurat, apabila ia keluar (dari rumahnya) setan senantiasa mengintainya” (HR Tirmidzi, dinilai shahih oleh al-Albani).

Memperhatikan Cara Berhias yang Dilarang
Sebagai seorang wanita kita juga harus memperhatikan cara berhias yang dilarang Allah swt. Seperti diantaranya adalah al-washl (menyambung rambut), al-wasim (menato tubuh), an-namsh (mencukur alis atau yang seperti alis sambungan) dan at-taflij (mengikir gigi). Semua perbuatan ini tidak boleh dikerjakan meskipun dengan niat mempercantik diri di depan suami. Kita bisa menggantinya dengan menjaga kebersihan badan, menyisir rambut, mengenakan wewangian dan mengenakan baju yang menarik.

Tingggalkan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.