Wahdatul ‘Ulum dalam Harapan UIN SU

Pemimpin Redaksi, Iin Prasetyo. (Kamerawan/Taufik Syahputra)

Penulis: Iin Prasetyo

Menteri Agama RI Fachrul Razi bersama Rektor UIN SU Prof. Dr. Syahrin Harahap, M.A. dan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi telah mengukuhkan pengurus Pusat Studi Moderasi Agama di UIN SU pada Rabu, (9/12/2020). Rektor UIN SU telah mengemukakan konsep studi moderasi agama ini sebagai integrasi ilmu bahwa UIN SU akan mendidik dan melahirkan sarjana dengan kapasitas hafiz, menguasai teknologi, memahami Al-Qur’an serta berwawasan moderat, dan cinta NKRI. UIN SU kini menjadi pusat integrasi ilmu dengan paradigma wahdatul ‘ulum, pemberdayaan masyarakat, dan moderasi beragama.

Dalam acara Silaturahmi ASN Sumut bersama Menteri Agama RI saat itu, seperti yang diberitakan redaksi LPM Dinamika UIN SU adapun jajaran pengurus yang dilantik, yaitu Dr. Phil. Zainul Fuad, M.A. (ketua); Dr. Irwansyah, M.Ag. (wakil ketua); Muhammad Jailani, M.A. (sekretaris); Muhammad Aswin, MAP (Wakil Sekretaris); Prof. Dr. Katimin, M.Ag. (anggota); Dr. H. Arifinysah, M.Ag. (anggota); dan Dr. Arwarsyah Nur, M.Ag. (anggota).

Wahdatul ‘ulum sebuah konsep besar Prof. Syahrin untuk membawa perguruan tinggi negeri keagamaan Islam yang baru ia pimpin ini, siap menjadi pusat penerapan integrasi ilmu umum dan ilmu agama sebagai upaya pembangunan peradaban yang islami untuk memajukan bangsa dan negara. Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN SU itu mengonsepkan wahdatul ‘ulum sebagai paradigma yang digunakan UIN SU dalam penerapan integrasi ilmu pada seluruh pengembangan ilmu baik pengajaran, penelitian, dan pengabdian.

Wahdatul ‘ulum (wahdad al ‘ulum) secara etimologi berasal dari kata wahdad, artinya satu, dan ‘ulum artinya ilmu-ilmu, bentuk jamak dari kata ‘ilm. Tesis Wahdad Al-‘Ulum menurut Imam Al-Ghazali karya Abdul Muhaya (Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, 2014) menjelaskan, konsep wahdad al-‘ulum pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan konsep wahdad al-wujud. Wujud dalam pandangan Ibn Arabi artinya satu, yaitu Allah. Artinya, pada hakikatnya, ilmu adalah satu, tetapi ilmu seolah mewujud dalam jumlah yang banyak.

Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan sesuatu itu sendiri. Maksudnya, ilmu merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang objek (pengetahuan itu sendiri) secara benar. Abdul Muhaya menyimpulkan penelitiannya itu bahwa alasan Imam Al-Ghazali memiliki konsep kesatuan ilmu (wahdat al-‘ulum), karena dua hal penting. Pertama, keraguan Al-Ghazali terhadap kelompok yang menyatakan ahli kebenaran (mutakalimun, Syi’ah Isma’iliyyah dan filosof), yang ternyata kebenaran ajaran mereka hanya bersifat logik, spekulatif dan belum sampai pada hakikat kebenaran; yaitu kebenaran yang dia temukan saat menjadi sufi. Kedua, adanya motivasi untuk mengembalikan posisi ilmu secara benar; sebagai sesuatu yang suci (cahaya) berasal dari zat Yang Maha Suci (Allah), karena itu harus digunakan dengan suci (niat yang tulus ikhlas) untuk zat Yang Maha Suci (Allah).

Prof. Syahrin, konseptor paradigma Wahdatul ‘Ulum kini ‘tancap gas’ di awal-awal kerjanya sebagai rektor UIN SU dengan dikukuhkannya Pusat Studi Moderasi Agama tersebut. Tentu, gagasan ‘Kampus Merdeka’ dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bisa seiring sejalan dengan paradigma Wahdatul ‘Ulum UIN SU. Sebab, IAIN SU dulunya yang kini telah menjadi UIN SU tidak ada dikotomi ilmu agama dengan ilmu umum, yang ada adalah kesatuan atau integrasi ilmu seperti yang dikonsepkan. Kedua hal ini menjadi energi besar untuk bagaimana civitas academica UIN SU agar punya paradigma kesatuan ilmu, pengabdian, dan moderat beragama tidak hanya ditekankan oleh para mahasiswanya, tetapi birokrat dan bapak/ibu dosen juga sebagai muasal ilmu bagi para mahasiswanya memiliki integritas dan kapabilitas.

Melihat bagaimana gagasan besar Kampus Wahdatul ‘Ulum UIN SU ini tentu akan memberi dampak yang besar juga bagi civitas academica-nya secara khusus dan untuk peradaban bangsa dan negara pada umumnya. Namun, sebesar apa pun gagasan itu, jika realisasinya tidak begitu dirasakan tentu dampaknya pun demikian. Ide itu murah, eksekusinyalah yang mahal. Oleh karena itu, antara konseptor dengan eksekutor haruslah seiring sejalan, tidak ada ide besar tanpa kontribusi besar, dan dampaknya sejalan dengan seberapa yang dilakukan.

Dikukuhannya pengurus Pusat Studi Moderasi Agama UIN SU ini adalah langkah awal untuk bagaimana dampak besar itu dinantikan dari para pengurusnya. UIN SU yang kini memiliki delapan fakultas (Ushuluddin dan Studi Islam, Ilmu Tarbiah dan Keguruan, Syariah dan Hukum, Ekonomi dan Bisnis Islam, Dakwah dan Komunikasi, Ilmu Sosial, Sains dan Teknologi, dan Kesehatan Masyarakat) plus Pascasarjana ini adalah bukti kesatuan ilmu atau wahdatul ‘ulum. Dalam memperkuat literasi wahdatul ‘ulum terutama referensinya di UIN SU ini, tentu bagaimana peran Pusat Studi Moderasi Agama sebagai tim eksekusi akan dinanti para mahasiswa sebagai insan akademik yang diharapkan memiliki paradigma wahdatul ‘ulum.