Foto : Istiqomah Kaloko

Masih teringat dengan banyak cuplikan video dan film era 80-an, 90-an hingga awal tahun 2000-an, adegan seorang aktor ketinggalan dompetnya. Kepanikan luar biasa menyelimuti rona wajahnya, dimana dompet tersebut berisikan lembaran-lembaran uang kertas, kartu pengenal, cek tunai, struk pembayaran, serta kartu transaksi dan kartu debet serta kredit. Jika diselisik dan ditelusuri tanpa mendalam pun posisi dompet sebagai benda yang wajib ada dan terus dalam genggaman tangan terang-terangan digeser oleh kepopuleran smartphone atau gawai zaman now dalam bermacam kosa kata bahasa Indonesia sedang menggempur generasi muda Indonesia khususnya kalangan mahasiswa. Banyak yang berdampak, termasuk mahasiswa UIN SU. Posisi gawai  pada zaman sekarang yang masuk ke seluruh lini kehidupan manusia menjelma menjadi barang yang wajib ada dan terus dalam genggaman.

Banyaknya penawaran menarik tanpa batas dengan bermacam spesifikasinya membuat posisi gawai atau gadget menciptakan kesan yang begitu berharga bahkan banyak orang yang memposisikannya sebagai benda yang wajib ada dalam segala aktivitas. Sistem digital yang identik serba dipermudah dan instanable tersebut jelas membawa dampak dan pengaruh positif dan negatif tergantung pada model dan arah pemakaiannya.

Metode penelitian yang dilakukan oleh Tim Pemas (Penelitian dan humas) LPM Dinamika adalah dengan menggunakan metode penyebaran angket ke-8 fakultas se-UIN Sumut Medan. Masing-masing dibagi rata ke seluruh fakultas. Jika ditelisik lebih dalam, ketergantungan mahasiswa UIN SU terhadap gawai sudah memasuki tingkat akut. Oleh karena pengaruh, fungsi dan peranannya yang sudah masuk ke seluruh lini kehidupan mahasiswa, layaknya gawai atau nama lainnya tersebut susah dipisahkan dari kehidupan mahasiswa, dan jika bisa mungkin itu perlu perjuangan ekstra.

Menjadi kebiasaan mahasiswa UIN SU ketika memperhatikan beragam presentasi dengan si penyaji makalah masih tidak bisa terlepas dari gawai di tangannya. Gawai tersebut sebagai alat untuk referensi pendukung dari setiap tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh rekan-rekannya. Tak heran, bila gawai sebagai solusinya. Gudang ilmu pengganti barang primer sebelumnya, buku. Gudangnya bermacam ilmu dan informasi tersebut memang semakin lama mulai beralih ke sistem digital. Layaknya gudang, miliaran ilmu pengetahuan dan informasi menyediakan kebebasan aksesibilitas tanpa batas terhadap dunia tanpa dinding.

Kenapa Gawai Begitu Penting?

Selasa sore (24/4) reporter mewawancarai mahasiswa. “Pokoknya penting banget deh bang dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Dimulai dari media sosial, nge-games, searching, baca berita online dan masih banyak lagi. Paling parahnya, malah seringan awak buka HP dulu baru yang lainnya kalau pas baru bangun tidur,” kata Satria Farma mahasiswa jurusan Muamalah Fakultas Syariah dan Hukum stambuk 2015.

Posisinya yang kini menyesuaikan dengan kebutuhan zaman membuat banyak orang yang mengamini pengaruh yang begitu besar terhadap setiap kedipan mata di depan gawai. “Rasanya tidak ada lagi yang tidak bisa dilakukan di smartphone, semua serba ada dan bisa. Apalagi untuk nge-games, banyak games menarik yang tersedia dan dapat diakses secara bebas, ”Setelah menyampaikan hal tersebut, ia melirik smartphone di saku kirinya seraya melihat waktu.

Lebih lanjut, Satria banyak bermain dengan gawainya dari pagi, petang hingga sebelum tidur. “Kadang pas bangun tidur, pertama buka smartphone dulu baru cuci muka. Tapi saya lebih sering buka Facebook, Twitter, Instagram dan game Combad Mortal.” Katanya wawancara di depan gedung perpustakaan besar UIN SU.

Berbeda dengan Satria, Weni Anggilia menghabiskan waktunya bersama gawai miliknya secara penuh seharian. Adapun untuk porsi pemakaiannya, Weni mengaku memakai gawainya dari bangun tidur hingga akan tidur kembali. Jemarinya belum bisa berpaling dari smartphone-nya, kebiasaannya bergeser drastis dari yang biasanya menggunakan metode sms-an atau telepon, kini dengan adanya aplikasi chatting, semua keperluan seharian hingga persoalan perkuliahan semua terkendali lewat aplikasi chatting khususnya pada grup yang ada dan dengan mudah dapat ter-akses.

“Kadang di whatsapp semua diobrolin. Sampai kadang tahan aja whatsapp-an sama kawan-kawan di grup. Dan di grup juga sarangnya informasi serta sarana silaturahmi. Maka dari itu, kadang sudah tengah malam, aku masih main handphone. Selain itu, saya juga lumayan update di instagram,” ucapnya seraya bercengkrama dengan rekannya.

Lain halnya dengan Mutia Mira Nisa, Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester 8, dia ikut juga memakai gawai dalam presentasi di kelas, namun secara implementasinya pada presentasi, dia tidak menggunakannya sepenuhnya. “Kalau kami di kelas itu dibolehkan sama dosen. Namun, kalau saya biasa saat akses internet, saya tidak sepenuhnya memakai informasi pada internet tersebut, biasanya saya kembangkan lagi,” Terangnya saat diwawancarai di lantai 2 Masjid Al-Izzah UIN SU.

Divisi Litbang Dinamika Bubuhkan Data

Untuk mengetahui tingkat ketergantungan mahasiswa UIN SU terhadap gawai, Penelitian dan humas (Pemas) Divisi Litbang LPM Dinamika melakukan mini riset untuk memperoleh data dengan mengambil topik penelitian tentang ketergantungan mahasiswa terhadap penggunaan gawai ketika melakukan presentasi makalah dan yang serupa dengannya. Hasilnya, 60 % mahasiswa menyatakan gawai penting untuk mempermudah presentasi, baik itu dalam bentuk makalah, laporan mini riset, studi lapangan, review jurnal dan semacamnya. Sisanya, 29,5 % mahasiswa mengakui gawai adalah hal yang sangat penting dan 10,5 % menyebut gawai sama sekali tidak memiliki posisi istimewa (Tidak Penting) untuk kegiatan presentasi. Bagaimana kondisinya di lapangan?.

Sumber : Litbang LPM Dinamika (Annisa Kinasih)

Gawai Membantu Presentasi

Menurut Fitriana Wahyuna Limbong, mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum jurusan Al-Ahwalus Syakhsiyah Semester II, berdasarkan pandangannya pribadi, ia tidak setuju bila gadget dibilang benda yang penting, namun di beberapa situasi gadget atau gawai sangat membantu. “Menurut saya gadget itu tidak terlalu penting di saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, karena untuk mendapat informasi yang akurat kita harus benar-benar merujuk kepada buku atau kitab-kitab yang telah ada. Kalau kita ambil informasi dari internet, itu kurang akurat karena siapa saja bisa menulis disitu. Tapi saya mengakui bahwa memang kita membutuhkan gadget dan jaringan internet di beberapa situasi saat presentasi misalnya, karena terkadang dalam menjawab pertanyaan audiens ada beberapa materi yang tidak kita kuasai atau tidak termasuk di dalam makalah yang akhirnya kita merujuk ke internet di situs- situs terpercaya saja agar infonya akurat,” jelasnya.

Rizlan Syahputra Sambas, mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Semester IV, bahwasannya ketergantungan terhadap gadget merujuk kembali kepada konteks seberapa dalam kita memahami materi. “Menurut saya, gadget itu penting atau tidaknya tergantung dengan penguasaan materi kita terhadap makalah. Karena terkadang materi yang kita baca dari buku-buku yang ada, hanya terdapat sedikit informasinya. Inilah pentingnya gadget, karena dengan internet materi akan sangat luas kita dapati,” katanya.

Menurut Muhammad Ardhony, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT), Semester II, bahwasannya gadget juga memiliki peranan penting di saat kita tidak menguasai materi atau tidak memiliki  jawaban yang mumpuni karena keterbatasan informasi. “Menurut saya, gadget juga mengambil peranan yang penting dalam kegiatan belajar mahasiswa, karena terkadang kita kurang memahami materi yang kita sajikan dengan cakupan yang sangat luas. Misalnya saja untuk menjawab pertanyaan audiens yang masih berkaitan dengan materi namun jawabannya tidak kita temukan di dalam makalah,” tutupnya.

Ujian Pakai Gawai

Ketergantungan mahasiswa UIN SU terhadap pemakaian gawai pada bermacam proses perkuliahan ikut terinfeksi terhadap akses internet pada kegiatan yang notabenenya dilarang akses internet. Pada Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) juga dimanfaatkan banyak mahasiswa UIN SU untuk menjawab soal-soal yang diberikan oleh dosen. Bahkan banyak dosen yang acuh dan hanya sekadar memberikan arahan untuk tidak menggunakan segala akses komunikasi pada pelaksanaan ujian.

“Ujian kadang pakai sih. Tapi, itu tergantung. Kadang kalau dosennya terlalu mengawasi, maka pandai-pandai kita kalau mau searching. Namun dosen itu berbeda-beda. Sebagian kasih kesempatan untuk searching internet, tapi sebagian lagi tidak membolehkannya,” katanya.

Poros perkembangan teknologi zaman ini memang begitu pesat. Sistem manual ditinggalkan. Bahkan, kegiatan perkuliahan yang seharusnya dilakukan dengan sistem manual, penjelasan oleh dosen yang bersangkutan kepada mahasiswa dan mahasiswi, sampai sebagian harus dilakukan dengan sistem menyesuaikan kecanggihan teknologi informasi zaman ini.

Hasil survei Litbang itu kemudian membuktikan betapa mahasiswa UIN SU yang terkena dampak kemajuan teknologi ikut memanfaatkannya dalam kegiatan perkuliahan yang tidak semestinya menggunakan gawai. Presentasi mahasiswa menjadi begitu dipermudah, namun bisa saja memutus semangat membaca buku bagi mahasiswa.

Reporter : Rahmanuddin, Syafrita, dan Annisa Kinasih

Editor      : Putri Syakbania Dalimunthe

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry