Foto: www.google.com

Penulis: Firda Adinda Syukri

Bukan menjadi hal baru saat mendengar desas-desus tergantikannya media cetak dengan media elektronik. Hadirnya perusahaan media online saat ini menjadi penyebab timbulnya persepsi baru di masyarakat bahwa posisi media cetak semakin lama akan semakin tergantikan. Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan media cetak untuk mencari cara bagaimana agar tetap menjaga eksistensinya di tengah zaman yang serba digital ini.

Tidak bisa dipungkiri, perlahan demi perlahan media cetak pun mulai membuka platform digital melalui situs online mereka. Ini menjadi salah satu upaya agar perusahaan media cetak tetap mengikuti permintaan masyarakat yang ingin serba cepat dan mudah dalam menerima informasi. Namun di samping itu, pemberitaan media cetak tetap dilakukan. Siapa sangka dibalik persaingan sengit antara media cetak dengan media elektronik malah justru menjadi dua kekuatan yang saling bersinergi.

Dikutip dari laman www.republika.co.id, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, Arif Budi Susilo “Media cetak dan online akan saling bersinergi dan tidak akan saling mematikan karena keduanya memiliki konsep pemberitaan yang berbeda,” ujarnya kepada republika di Jakarta. Wajar saja jika dikatakan demikian, karena faktanya sampai saat ini media cetak tetap mampu bertahan dengan pemberitaannya secara aktual dan mendalam. Ibarat 5 W+1 H, keduanya memiliki perbedaan yang mencolok, ketika media online memberitakan apa, siapa, di mana, dan kapan, maka media cetak mengupas lebih dalam perihal mengapa dan bagaimananya suatu peristiwa.

Masih dikutip dari laman republika online, melalui pernyataan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Eko Maryadi yang juga tetap optimistis akan flatform media konvensional berupa media cetak memiliki masa depan yang baik. “Sampai sekarang, peran media cetak belum tergantikan. Kedalaman dan ketajaman muatan pemberitaan media cetak tidak bisa tergantikan oleh media online,” tuturnya.

Optimisme para penggiat dunia jurnalistik sangat terlihat jelas dan mematahkan persepsi akan tenggelamnya media cetak. Saya jadi teringat akan perbincangan dengan dosen di kampus mengenai maraknya media online. Ia mengatakan bahwa memang benar zaman sekarang serba digital, namun bukan berarti media cetak tertinggal, sebab media cetak tetaplah menjadi sarana yang ampuh dari segi keilmiahannya dibanding media online. Kalau dipikir-pikir memanglah benar begitu adanya. Kita tidak mampu meninggalkan media cetak dengan sepenuhnya bertumpu pada media online. Secara sepintas memang media online memiliki persaingan dengan media cetak, namun faktanya bisa saling menguatkan ketika zaman sudah menuntut serba digital media online dengan sigap menyebar informasi terbaru, lalu media cetak memperkaya informasi melalui lembaran kertasnya.

Hoax, Tantangan Yang Menguatkan

            Memperkuat keyakinan akan eksistensi media cetak bisa juga dilihat dari menyebarluasnya hoax. Sebut saja kasus pabrik hoax oleh Saracen. Dikutip dari laman www.tribunnews.com, Saracen merupakan produsen konten fitnah dan ujaran kebencian atau hate speech serta hoax. Konten ini lalu disebar di grup Facebook yang beranggotakan lebih dari 800 ribu akun. Dengan mudahnya berita yang dikemas olehnya dikonsumsi banyak orang.

Setelah kasus ini terungkap, masyarakat benar-benar tersadar keakuratan media online masih dipertanyakan. Pasalnya media online begitu mudah dibuat oleh seseorang dan dengan mudahnya pula di akses semua orang. Tak heran jika sampai saat ini media cetak masih dipilih untuk sumber berita terakurat dibanding media online. Walau pada dasarnya hoax tetap menjadi tantangan tersendiri bagi media cetak lantaran harus benar-benar lebih cerdas lagi dalam mengemas berita.

Minat Baca Rendah, Tantangan Tak Berujung

Masih membahas isu pergeseran media cetak dengan media online. Jika dilihat dari sisi lain sebenarnya isu ini kemungkinan muncul bisa dari beberapa sudut pandang, misalnya dikarenakan zaman yang memang serba digital atau bisa jadi karena minat baca di Indonesia yang masih sangat rendah. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Hal tersebut diungkapkan oleh Subekti Makdriani, PustakawanUtama Perpus RI saat menjadi pembicara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota tahun 2017, di Pendopo Kabupaten Kendal, Senin (15/05/2017) dikutip dari laman tribbunnews.com.

Rendahnya minat membaca di Indonesia ini, tentu menjadi tantangan yang tak berujung bagi media cetak. Saya pribadi merasakan bahwa atmosfer digital yang kita rasakan ini bukan menjadi penyebab utama tergantikannya media cetak dengan media online, melainkan karena minat baca di Indonesia masih sangat minim. Kalau dipikir-pikir kehadiran media online mungkin hanya turut menguatkan rendahnya minat baca yang berpengaruh pada media cetak tentunya. Ini bisa teratasi jika minat baca di Indonesia lebih ditingkatkan. Contohnya saja negara Jepang. Jepang merupakan negara maju yang lebih dahulu mencicipi zaman digital. Namun, faktanya ribuan bahkan jutaan eksemplar koran disebarluaskan setiap harinya. Jika persepsi masyarakat Indonesia menyatakan bahwa media cetak akan tenggelam dengan media elektronik semisal online, mungkin itu bukan karena derasnya arus digital saat ini, tapi dikarenakan minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat minim.

Tantangan Media Sesungguhnya

Terlepas dari hoax dan minat baca, saya tertarik menyinggung sedikit perihal politik yang erat kaitannya dengan media. Betapa banyak sekarang media dijadikan alat politik. Apalagi kemudahan di era digital ini yang siapa saja bisa dengan mudah membuka perusahaan media online. Bahkan bisa segmentasinya terkhusus ke mana pesanan dari si pemegang kekuasaaan. Dengan mudah media menjadi praktik politik. Tentu inilah tantangan yang sesungguhnya. Independensi sebuah media mulai tergoncang. Di era serba digital ini begitu banyak tantangan media. Namun, meskipun demikian, bukan berarti media harus tumbang, tapi harus tetap bertahan mengubah tantangan menjadi kekuatan.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis