Foto: @pamungkasragil_

Penulis: Rizka Rahma Fajri Sitorus*

Apakah ada hal yang akan menjadiindahtanpaadanya rasa menerimadi dunia ini? Apakah akan ada rasa penerimaan yang tulus jika hati kita dipenuhi rasa ketidakpuasan akan nasib yang ada pada diri kita? Jawabnya tidak. Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut? Caranya ialah dengan syukur, kita mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah Swt. Syukur sangat sering terdengar di telinga kita, dan begitu mudah diucapkan. Lalu, bagaimana dengan praktiknya, implikasi serta tindak lanjutnya? Apakah kita sudah benar-benar bersyukur dalam menyikapi segala hal? Atau malah sebaliknya, kita menjadi setengah kufur atas segala hal yang kitanilaiburukadanya? Lantaskita pun menjadi lalai atas segala nikmat Allah Swt yang tak terhitung jumlahnya. Naa’udzubillahi min dzalik.

Syukur, berasal dari kata syakara, yaskuru, syukran, dan tasyakkara berarti ‘mensyukuri-Nya; memuji-Nya’. Kata syukur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: 1) Rasa terima kasih kepada Allah, dan 2) Untunglah (menyatakan lega, senang dan sebagainya). Secara etimologi, syukur adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat Allah Swt., baik diekspresikan melalui lisan, dimantapkan dengan hati maupun dimanifestasikan lewat perbuatan. Dapat disimpulkan bahwa syukur adalah berterima kasih kepada Allah Swt, merasakan senang dan lega, serta menyebut dengan lisan nikmat yang diberikan oleh-Nya, memantapkan dalam hati, juga berbuat baik lewat amaliahnya.

Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kita harus bersyukur kepada-Nya, Tanpa kekuasaan Allah Swt maka kita tidak akan bisa seperti sekarang ini. Bukankah kita dulu terlahir tanpa mengenal dan mengerti sesuatu pun? Saat kita terlahir ke dunia lalu mata kita terbuka, namun tak ada yang dapat kita lihat dengan sempurna, itulah awal kita mengenal dunia ini. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an, surah An-Nahl : 78

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur”.

Sungguh besar karunia dan kuasa-Nya. Dia yang menciptakan manusia menjadi ada dan kelak mengembalikannya menjadi tiada. Tak pantas rasanya jika kita enggan untuk bersyukur kepada-Nya apalagi sampai kufur yang itu hanya akan mendatangkan murka-Nya. Firman Allah Swt dalam surah Ibrahim : 7

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnyaazab-Ku sangat pedih”.

Nabi Musa as, memiliki umat yang banyak dan dengan usia mereka yang relatif panjang. Mereka ada  yang kaya dan ada juga yang miskin. Suatu hari ada seorang miskin menghadap Nabi Musa as, saking miskinnya pakaian orang itu tampak compang-camping dan lusuh. Kemudian ia berkata kepada Nabi Musa as, “Ya Nabiyullah, tolong sampaikan kepada Allah Swt, permohonanku agar Allah Swt menjadikan aku orang kaya”. Mendengar permintaan orang itu, Nabi Musa as tersenyum dan berkata kepadanya, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah Swt”. Si miskin terkejut dan kesal, lalu berkata “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, makan pun aku jarang. Pakaian yang aku gunakan pun hanya sehelai ini saja?!”. Si miskin kembali tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian datanglah seorang kaya menghadap Nabi Musa as, dengan penampilan bersih dan pakaian rapi. Ia berkata “Wahai Nabiyullah tolong panjatkan kepada Allah agar aku dijadikan seorang yang miskin, terkadang aku terganggu dengan hartaku”. Mendengar itu, Nabi Musa as tersenyum, ia berkata “Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah Swt’. Namun orang itu menjawab, “Ya Nabiyullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah Swt? Dia telah memberiku mata, yang dengannya aku dapat melihat. Dia anugerahkan aku telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja,dan juga telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya.” Akhirnya si kaya pun pulang. Hari berikutnya si kaya semakin ditambah kekayaannya oleh Allah Swt, karena selalu bersyukur kepada-Nya. Adapun si miskin menjadi semakin melarat, karena Allah Swt telah mengambil semua kenikmatan yang ada pada dirinya. Ini terjadi karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah Swt.

Cerita tersebut memang lain dari yang biasa kita saksikan. Disini si miskinmenjadi orang yang tak pandai bersyukur (kufur) dan si kaya yang senantiasa bersyukur terhadap apa yang Allah berikan padanya, sehingga semakin berlipat ganda harta kekayaannya. Peristiwa ini membuktikan kebenaran firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 7. Oleh karena itu bagaimana pun keadaan kita saat ini tak ada alasan untuk bersifat angkuh dengan menafikan karunia-Nya yang maha luas. Apapun dan bagaimana pun keadaan kita sekarang adalah karunia Allah Swt yang sepatutnya disyukuri. Karena di luar jangkauan mata kita ini, masih banyak orang yang kehidupannya jauh lebih sulit dari kita.

Sudahkah kita bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya? Sungguh setiap yang ada dalam diri kita hakikatnya adalah titipan belaka, pemilik sejatinya ialah Allah Swt.

Editor             : Aminata Zahriata

*Dikutip dari berbagai sumber