Semangat Baru Muslim dengan Kembalinya Masjid Hagia Sophia

Bendahara Umum. (Foto/Dok. Pribadi)

Penulis: Diana Aliya

“Kamu pasti akan membebaskan Konstantinopel. Panglima perangnya adalah panglima terbaik. Pasukannya juga pasukan terbaik.” (H.R. Ahmad)

Keputusan Dewan Negara Turki pada 10 Juli lalu mengembalikan fungsi Hagia Sophia dari museum kembali menjadi masjid menimbulkan kontroversi. Banyak pihak yang mengecam keputusan tersebut. Namun, tidak sedikit yang berbahagia mendukung titah pemimpin tertinggi Turki itu.

Kesenangan umat muslim terwakilkan oleh Mufti Besar Oman yaitu, Sheikh Ahmed bin Hamad Al-Khalili yang memberi ucapan selamat kepada rakyat Turki dan Presiden Turki melalui unggahannya di Twitter. Mufti Oman memberi ucapan selamat kepada Recep Tayyip Erdogan atas usahanya dalam mengembalikan bangunan yang dijadikan wakaf untuk umat Islam oleh penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih sebagai tempat rukuk dan sujud seluruh muslim. 

Dari Indonesia, ungkapan suka cita dihaturkan oleh Ustaz Abdul Somad, L.c., MA., melalui postingan instagramnya beliau menyampaikan dukungan terhadap kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid. Beliau juga menuliskan Hadis Rasul Sallallahu alaihi wasallam terkait pembebasan Konstantinopel. “Kamu pasti akan membebaskan Konstantinopel. Panglima perangnya adalah panglima terbaik. Pasukannya juga pasukan terbaik.” (H.R. Ahmad)

Dominannya, dunia Barat yang tidak sepakat dengan keputusan ini. Umat Kristiani dunia merasa tersinggung dengan perubahan status itu, khususnya golongan Kristen Ortodoks. Sebab, pembangunan pertama Hagia Sophia pada tahun 532 hingga 537 oleh Kaisar Bizantium, Justinian I dimaksudkan untuk katedral. Hagia Sophia juga merupakan katedral terbesar atau disebut juga sebagai Church of Holy Spirit. Walaupun selanjutnya, Konstatinopel ditaklukkan oleh Kekhalifahan Turki Utsmani dan diubah menjadi masjid. 

Melansir dari tirto.id, Penaklukan yang dipimpin oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1453 tak hanya mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, namun juga mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul. Kemudian, pada tahun 1935 diubah menjadi museum oleh Presiden Turki pertama, yaitu Mustafa Kemal Ataturk.

Ketika menjadi museum, dilakukan restorasi mosaik Kristen dan Islam dengan membuka penutup mosaik Kristen. Hal ini dilakukan untuk mempertontonkan simbol keagamaan antara Islam dan Kristen. Mengapa tidak, mosaik bangunan Hagia Sophia yang dinilai indah oleh para sejarawan dianggap dapat menjadi warisan pengetahuan tentang seni mosaik kuno. Seni mosaik tercantum di dalam Kontroversi Ikonoklastik pada abad ke-8 dan ke-9. Selain itu, UNESCO mengakui Hagia Sophia sebagai salah satu situs warisan dunia yang disebut Area Bersejarah Istanbul sejak 1985 yang mencakup bangunan dan lokasi bersejarah utama kota itu.

Kekecewaan itu juga datang dari Dewan Gereja Dunia, yang mewakili 350 gereja Kristen. Beliau menyurati Presiden Erdogan untuk mengungkapkan kesedihan dan kecemasan mereka. Pandangan mereka terhadap Hagia Sophia sebagai “tempat keterbukaan, perjumpaan dan inspirasi bagi orang-orang dari semua negara dan agama”.

Perihal sebagai tempat perkumpulan antar ras, suku dan bangsa serta Warisan Dunia UNESCO, Receip Tayyip Erdogan memberi ruang moderasi bagi golongan lain dengan tetap membuka Hagia Sophia bagi seluruh pengunjung dari golongan serta belahan dunia mana pun. 

Jadi, kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid adalah suatu keputusan yang tepat. Peralihan status fungsi menjadi masjid untuk tempat beribadah adalah kewenangan Turki sebagai negara yang berdaulat penuh atas Hagia Sophia. Peruntukan Hagia Sophia yang merupakan bagian dari komunitas internasional juga memberikan ruang moderasi bagi golongan lain. 

Selain itu, ini juga merupakan semangat baru Islam untuk terus bersatu. Hagia Sophia adalah kekuatan baru agar Islam tetap bersinar. Kekuatan umat muslim untuk memperjuangkan serta menolong agama Allah.

Latest articles

Kemenristek BRIN Kembangkan Health Passport

Medan, Dinamika Online – Dilansir dari situs resmi satgas Covid–19, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek BRIN) bersama Satgas Covid–19 sedang mengembangkan...

Edukasi Seputar Digital Marketing, Exabytes Adakan Webinar

Medan, Dinamika Online - Guna memberikan edukasi seputar digital marketing, Exabytes mengadakan web seminar (Webinar) dengan topik “Ad Optimization Hacks for Huge Success (Cuan)”...

Beramal Baiklah Layaknya Seperti Lebah

Penulis : Khoiriah Syafitri “Teruslah berbuat kebaikan dan jangan pernah bosan. Sebab tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan itu juga bahkan kebaikan yang lebih...

Masih Bertahan dalam Bosan?

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh,...

Tingkatkan Generasi Qur’ani, JPRMI Adakan Tablig Akbar

Medan, Dinamika Online - Dalam rangka meningkatkan generasi qur’ani organisasi Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengadakan kajian tabligh akbar dengan mengusung tema...