Foto: www.google.com

Penulis: Ahmad Azwar Batubara

Tahun 2017 merupakan salah satu tahun terberat bagi Indonesia, sebab sepanjang tahun 2017 banyak sekali bencana yang terjadi, mulai dari Gunung Sinabung yang tiada henti erupsi, tanah longsor, gempa bumi dan bencana alam lainnya. Mengutip sumber data dari Kompas.com terhitung sejak awal tahun hingga 4 Desember 2017, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 2.175 bencana yang teerjadi di Indonesia. Adapun jumlah tersebut terdiri dari banjir (737 kejadian), puting beliung (651 kejadian), tanah longsor (577 kejadian), kebakaran hutan dan lahan (96 kejadian), banjir dan tanah longsor (67 kejadian), kekeringan (19 kejadian), gempa bumi (18 kejadian), gelombang pasang/abrasi (8 kejadian), serta letusan gunung api (2 kejadian).

Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Informasi dan Data BNPB dalam hasil wawancaranya di Kompas.com menuturkan bahwa 95 persen kejadian bencana di Indonesia dikarenakan bencana hidrometeorologi. Sebuah bencana yang dikarenakan pengaruh cuaca, seperti longsor, kekeringan, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrim. Dari beberapa bencana tersebut, tercatat banyak sekali memakan korban. Korban meninggal sebanyak 335 orang, korban luka-luka sebanyak 969 orang, korban mengungsi yang menderita sebanyak 3,22 juta orang. Angka yang terbilang cukup tinggi dan serius, mengingat pada dasarnya negara Indonesia adalah salah satu negara yang rawan dan rentan terhadap bencana karena posisi geografis Indonesia yang masuk ke dalam beberapa lempeng dunia seperti Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik.

Berbicara mengenai bencana, Kota Medan khusunya salah satu kota yang tidak luput terkena efek bencana hidrologi. Cuaca ekstrim sepanjang tahun 2017 banyak sekali menggoreskan catatan hitam bahwasanya bencana alam dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Dilihat dari sisi geografis Kota Medan mengutip data dari Jurnal Repository.usu.ac.id disebutkan bahwa Kota Medan terletak antara 2o.27’-2o.47’ Lintang Utara dan 98o.35’-98o.44’ Bujur Timur. Kota Medan 2,5-3,75 meter di atas permukaan laut. Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum berkisar antara 23,0 oC-24,1 oC dan suhu maksimum berkisar antara 30,6 oC-33,1 oC serta pada malam hari berkisar 26 oC-30,8 oC. Selanjutnya mengenai kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata 78%-82%.

Sebagian wilayah di Medan sangat dekat dengan wilayah laut yaitu pantai Barat Belawan dan daerah pedalaman yang tergolong dataran tinggi, seperti Kabupaten Karo. Akibatnya suhu di Kota Medan menjadi tergolong panas. Kecepatan angin rata-rata sebesar 0,42 m/sec sedangkan rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 100,6 mm.

Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30′-3° 43′ Lintang Utara dan 98° 35′-98° 44′ Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5-37,5 meter di atas permukaan laut.

Dengan kondisi geografis yang bisa dikatakan tidak terlalu berada di daerah bencana, namun sepanjang 2017 banyak sekali bencana yang terjadi. Dikutip dari news.liputan6.com Desember lalu tercatat hampir 3000 rumah di dalam 5 kecamatan di Kota Medan terendam banjir dengan ketinggian air dua meter lebih. Penyebab banjir salah satunya dikarena meluapnya sungai Babura dan sungai Deli. Jika diurutkan ke belakang,  tentu saja banyak sekelumit permasalahan yang terjadi sehingga beberapa sungai yang mengelilingi hampir keseluruhan kecamatan di kota Medan bisa meluap ketika cuaca sedang hujan dengan intensitas yang terbilang cukup tinggi. Belum pahamnya masyarakat kota Medan agar sadar terhadap lingkungan adalah sebuah wacana yang hingga sekarang masih belum mampu untuk diatasi. Dapat dilihat di sepanjang sungai Deli masih banyak tumpukan sampah yang menggenang, belum lagi kawasan kumuh yang ada di bantaran dan pinggiran sungai Deli menambah sekelumit permasalahan di kota Metropolitan ini.

Ditambah banjir yang menggenangi wilayah sentral di beberapa titik Kota Medan. Rasanya terlalu miris sampai-sampai di wilayah yang sangat strategis bisa terkena banjir. Lambannya pemerintah kota Medan dalam menyikapi permasalahan ini seakan tidak ada usaha untuk memperbaiki tata kota yang lebih baik. Masih di tahun yang sama, pemerintah di Kota Medan melakukan sedikit pergerakan, dengan merenovasi saluran pembuangan air (drainase) yang ada pada wilayah rawan banjir di kota Medan, namun bukannya mengurangi permasalahan justru menambah permasalahan baru dan banjir bukannya berkurang namun terus bertambah.

Pembangunan bangunan permanen yang sekarang sedang gencar-gencarnya didirikan juga belum terlihat, bahwa pembangunan tersebut benar-benar sudah mengkaji dampak lingkungan yang ada di sekelilingnya. Kita boleh berkaca, dengan beberapa kota lainnya. Terkhusus penanganan bencana banjir yang memang tidak bisa kita pungkiri selalu terjadi di tiap kota. Contohnya saja di kota Bandung, menangani banjir yang melebar ke ruas jalan protokol di kota Bandung dengan cara membuat tol air, sebagai solusi alternatif dalam penanganan banjir karena mampu meresap air yang tergenang.

Berkaitan dengan hal tersebut, sudah seharusnya kota Medan memiliki solusi alternatif dalam penangan banjir, karena banyak sekali kerugian yang akan terjadi jika bencana klasik ini terjadi, bukan hanya kerugian dalam hal materil namun juga terkadang hingga meregang nyawa.

Kurangnya ruang terbuka hijau

Mengutip jurnal dari e-journal.uajy.ac.id ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai infrastruktur hijau perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan.

Berdasarkan peraturan menteri dalam negeri nomor 1 tahun 2007 pada bab 1 pasal 1 ayat 2 yang menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan yang selanjutnya disingkat RTHKP adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika. Ruang terbuka hijau (RTH) penulis kira dapat menjadi solusi alternatif untuk penanganan banjir yang selalu terjadi. Kita bisa menghitung dengan jari RTH yang ada di kota Medan, misalnya saja taman Teladan, taman Beringin, taman Ahmad Yani, benar-benar sangat minim dan taman-taman tersebut belum dikelola secara maksimal

Jika dilihat dari fungsinya, RTH mampu menjadi solusi alternatif untuk meminimalisir banjir yang ada di kota Medan. Dalam pemilihan pohon yang akan ditanam di RTH juga harus diperhatikan dan dikaji, misalnya saja pohon trembesi atau disebut juga pohon Kihujan (Samanea saman) merupakan salah satu pohon penghijauan terbaik dengan pertumbuhannya cepat, batangnya besar, kuat dengan bentangan kanopinya lebar dan mampu menyerap 28 Ton Co2 pertahunnya mampu menyimpan 900 meter kubik air juga menyalurkan 4000 liter perhari atau juga pohon Mahoni  (Swietenia sp) sangat cocok untuk penghijauan di sekolah, jalan raya atau lingkungan karena pohon Mahoni memiliki kemampuan filterisasi udara, pohon Mahoni dapat menyerap 47- 69 % polusi.

Dari segi fungsi, RTH juga bukan hanya mampu menjadi solusi alternatif ketika banjir terjadi, namun juga banyak sekali manfaat RTH bagi masyarakat kota khususnya. Kondisi masyarakat kota yang super sibuk dengan aktivitasnya menimbulkan perilaku yang berbeda antara penduduk kota yang satu dengan lainnya disebabkan kota tersebut sehingga menimbulkan permasalahan psikologis, yaitu Enviromental Strees.

Temuan tim peneliti dari University of Exeter Medical School, Inggris yang dipublikasikan pada jurnal Environmental Science & Technology menyebutkan bahwa kota dengan sedikit Ruang Terbuka Hijau (RTH) akan berdampak negatif terhadap kesehatan mental masyarakatnya. Sebaliknya, kota yang memperhatikan kualitas dan kuantitas RTH akan berdampak positif pada masyarakat kota tersebut. Penghayatan penulis, banjir bisa diatasi bukan hanya kesadaran masyarakatnya untuk peduli dengan lingkungan, namun dukungan penuh dari pemerintah dengan lebih banyak membangun RTH di kota Medan. Bukan hanya banjir yang teratasi, namun juga psikologis masyarakatnya.

Editor : Maya Riski