the_look_of_silence_1Bila The Act of Killing (Jagal) bercerita tentang upaya pembenaran diri sendiri demi kebenaran semu, maka The Look of Silence (“Senyap”) bercerita tentang usaha rekonsiliasi demi berdamai dengan masa lalu. Tidak tepat jika menyebut Senyap adalah sekuel langsung Jagal, karena menurut hemat saya, sebutan antonim ketimbang sekuel adalah julukan yang lebih tepat untuk Senyap, Kenapa? Karena Jagal berbicara dengan nada bangga yang didasari oleh kekejian masa lampau, sementara Senyap berbicara dengan nada lirih, yang dibangun oleh rasa duka dan kepahitan selama bertahun-tahun.

Adi Rukun adalah seorang dokter kacamata. Sehari-harinya ia pergi ke rumah para pasiennya, memasangkan lensa, dan bertanya: “apakah sudah terang atau belum?”. Adi lahir pada tahun 1968, dua tahun setelah kakaknya, Ramli, meninggal. Ibu Adi berkata kepadanya bahwa Adi adalah pengganti Ramli, sebuah penghiburan yang diberikan Tuhan kepada Ibu yang kehilangan anaknya. Adi, yang belum pernah bertemu dengan kakaknya pun mencari tahu siapa para pelaku pembunuh kakaknya, mengharapkan jawaban “maaf” dari para pelaku yang sudah mencabut nyawa kakaknya. Adi pun memulai perjalanannya, mengoyak luka lama dengan cara berkonfrontasi dengan para pelaku, demi mencapai sebuah perdamaian yang hakiki.

Sejatinya, lebih sulit untuk menerima maaf ketimbang meminta maaf. Raut wajah Adi yang getir saat ia menyaksikan para pembunuh yang dengan bangga memperagakan pembunuhan para anggota PKI sudah menggambarkan suasana hati Adi yang berkecamuk: ia marah, sedih, dan kesal. Berkali-kali kamera menyorot wajah Adi yang gusar dan kecewa saat ia menyaksikan para pelaku bercerita sambil tertawa. Terlebih lagi di dalam satu adegan, di mana ada yang berkata: “saya potong payudaranya, baru lehernya.”  Tidak hanya Adi yang terluka saat mendengar perkataan itu, saya pun ikut terluka.

Senyap makin menegangkan saat Adi berkonfrontasi dengan para pelaku yang bertanggung jawab dibalik insiden pembunuhan kakaknya. Para pelaku bercerita tentang betapa bangganya mereka melibas para anggota PKI kepada Adi, betapa mulianya tindakan mereka, dan betapa mereka merasa pantas untuk mendapatkan sebuah piagam penghargaan atas kerja keras yang mereka lakukan. Namun semua berubah drastis saat Adi berkata:

“Saya adik Ramli, adik orang yang kalian bunuh.”

Sontak raut wajah para pelaku berubah dan mereka pun mencari-cari alasan. Berdalih kalau mereka tidak bertanggung jawab atas hilangnya nyawa kakaknya, berdalih kalau mereka melakukan kewajiban negara, berdalih kalau mereka memberantas para kaum yang tidak beragama. Sementara saat mereka terus berdalih, Adi hanya memperhatikan mereka dengan tatapan kecewa.

Senyap bisa membuat penonton terhubung langsung dengan filmnya karena senyap lebih personal danrelatable daripada Jagal. Senyap juga didukung dengan visual yang begitu kelam dan tajam. Berbanding terbalik dengan Jagal yang kasar dan surreal. Membuat Senyap tidak bisa dibilang lebih baik atau lebih jelek dibandingJagal, namun setara. Karena pada akhirnya, saya merasa kalau Senyap dan Jagal adalah sebuah satu kesatuan yang berlawananMereka hidup berdampingan, dalam dua kubu yang berbeda.

Tidak ada nilai yang bisa saya berikan untuk Senyap. Yang bisa saya berikan untuk Senyap hanyalah tepuk tangan tanpa henti kepada semua orang yang turut bekerja dalam pembuatan film ini, terlebih lagi kepada Adi Rukun. Apa yang sudah Adi lakukan adalah sebuah tindakan berani yang membuka mata setiap orang yang menontonnya. Tatapan mata Adi yang tajam dan yakin di sepanjang film seolah-olah mengatakan bahwa apa yang sudah berlalu tidak bisa berlalu begitu saja. Apa yang berlalu mesti dipertanyakan, apa yang berlalu mesti dipertanggungjawabkan, dan apa yang berlalu tidak bisa begitu saja dilupakan. Lewat Senyap, Adi mengajak kita untuk berdiri berdampingan, lalu meneriakan suara kebenaran dengan lantang dan berani, bersama-sama, memecah kesenyapan.

Louayy Darussalam