Remaja, Digital, Literasi, dan Etika

(Foto/Dok. Pribadi)

Penulis: Rindiani

Remaja adalah titik di mana mereka berusaha untuk membangun identitas, untuk membentuk kelompok sosial, dan menegosiasikan makna budaya yang mereka miliki. Babies with superpower. Begitulah panggilan bagi para remaja yang memiliki kemampuan dan kegiatan dengan media digital yang belum sepenuhnya mengerti apa makna dan efek dari tindakan mereka tersebut.

Ketika sekelompok remaja duduk di kafe. Hanya suara keyboard handphone dan laptop, tidak ada suara lain lagi yang terdengar. Ada yang mendengarkan musik dan bermain game, tertawa sendiri sembari chatting via WhatsApp, ber-Facebookria. Ada komunikasi yang terjadi, tapi tidak dengan komunikasi antarpribadi yang biasanya menjadi penanda berkumpulnya sekelompok remaja. Dan begitulah gambaran budaya remaja sekarang yang berteman dengan teknologi.

Teknologi mendekatkan sekaligus menjauhkan. Teknologi diciptakan awalnya sebagai perpanjangan dari indera manusia. Dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi dan beragamnya konten yang ditawarkan oleh provider, ketergantungan dan kebiasaan remaja menggunakan teknologi tidak terbantahkan lagi. Layaknya telah menjadi budaya dalam kehidupan sosial remaja.

Seperti berselancar di dunia maya menjadi salah satu budaya masyarakat, disadari atau tidak. Sayangnya, laju penetrasi internet tidak berjalan seiring. Portal berita abal-abal yang masih punya banyak pembaca, penipuan di dunia maya yang masih kerap terjadi. Apakah hal ini kemungkinan disebabkan rendahnya pemahaman mengenai penggunaan teknologi digital yang digunakan untuk menerima dan menyebarkan informasi secara efektif atau rendahnya kemampuan literasi digital?

Literasi digital yaitu kemampuan untuk bisa mencari, menemukan, menggunakan, dan menyebarluaskan kembali informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan menggunakan media digital. Literasi digital merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh pengguna internet, khususnya remaja.

Rendahnya literasi digital, membuat para remaja terpapar dengan berbagai risiko, seperti rentan terhadap informasi hoaks, mempertaruhkan keamanan data pribadi dengan menggunakan aplikasi yang tidak aman, kecanduan media sosial, melakukan atau menjadi korban perundungan (bullying), serta ketidakpahaman akan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi reputasi mereka di ranah daring yang dapat memiliki konsekuensi di dunia nyata.

Oleh karena itu pemahaman akan dampak buruk literasi digital perlu ditekankan pada pengguna, terutama remaja. Sebab, pengguna terbesar media sosial adalah remaja. Mereka menggunakan media sosial sebagai media aktualisasi diri. Seperti dua sisi mata uang, era literasi digital dapat memperbaiki keadaan, dapat juga memperburuk keadaan.

Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada psikologis remaja yang cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan. Maka, literasi digital dikembangkan di sekolah dan masyarakat sebagai bagian dari pembelajaran sepanjang hayat.