Foto: www.pinterest.com

Penulis : Siti Arifah Syam

Rekam jejak pemilihan Presiden Republik Indonesia kala itu “Joko Widodo beserta wakilnya Jusuf Kalla,” maka kita akan spontan masuk ke dalam era perubahan yang signifikan. Konsep Revolusi Mental yang digadang-gadang mampu merubah serta meningkatkan mental rakyat Indonesia terasa gurih untuk dibincangkan kala ini. Mengapa? Jawabanya sudah pasti menjurus kepada realisasi yang sudah dijalani.

Tercatat sudah dari tahun 2014 hingga hari ini, genap masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo berusia 4 tahun. Sepak terjang serta pelaksanaan program kerja yang telah disusun dan disajikan kala debat pemilihan Presiden saat itu pun mulai terlihat satu per satu. Pertanyaan Revolusi mental pun mencuat, sebab jika diusut secara nalar sehat, program yang satu ini memiliki dampak yang cukup besar bagi rakyat Indonesia, terkhusus bagi agen perubahan bangsa, generasi muda yang akan meneruskan setafet kepemimpinan Joko Widodo, di tahun-tahun selanjutnya.

“Revolusi Mental” merupakan jargon yang diusung oleh Joko Widodo sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014, namun nyatanya tak banyak penjelasan konkrit perihal frasa ini. Jika dilihat secara nalar nyatanya revolusi sudah mampu bergerak baik dari segi politik, ekonomi mau pun budaya. Namun yang menjadi titik fokus kala ini adalah perubahan mental.

Jika diuraikan satu per satu dari makna revolusi dan mental maka akan dituai satu pemahaman yang berbeda. Revolusi memiliki arti berputar arah, dan mental, atau yang lebih tepat disebut dengan mentalitas memiliki arti cara berpikir, atau belajar dan merespon. Maka pada dasarnya dapat dipahamkan bahwasanya Revolusi Mental sebenarnya dicanangkan sebagai ajang untuk merubah mental-mental rakyat Indonesia secara cepat dan spontan.

Namun pada realita yang ada, mentalitas rakyat Indonesia masih perlu dibenahi. Menilik fenomena kehidupan masyarakat yang bercorak warna dan pemandangan amat mudah untuk memberikan penilaian perihal kenyataan pahit ini. Berbicara perihal mental, maka sudah pasti ada kaitanyya dengan kepercayaan diri sendiri. Seseorang akan mampu menilai dirinya dari kadar dan kesenggupannya saat melalui satu kesulitan dihadapannya.

Tercatat dalam pemberitaan Kompas.com 17 November 2014, pertanyaan tentang Revolusi Mental pun mencuat dalam satu forum diskusi dengan tajuk “Revolusi Mental” di Balai Kartini. Salah satu jawaban datang dari politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Jawaban politisi tersebut menjurus kepada pengenalan Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK). Maka pada ungkapannya di bagian awal, beliau menjelaskan bahwasanya Presiden Joko Widodo juga pernah merasakan seperti yang dirasakan oleh meraka, namun dengan kegigihan yang dimiliki Presiden Joko Widodo, akhirnya beliau berhasil merubah diri, hingga akhirnya sampai pada kadar tokoh yang paling dipandang.

Dalam balasannya Jokowi juga menyebutkan bahwasanya dalam mewujudkan Revolusi Mental ini, masyarakat harus mampu mengenali orisinal bangsanya sendiri. Indonesia misalnya, sebagai salah satu Negara yang berkarakter santun, berbudi pekerti, sopan dan ramah. Maka hal inilah yang akan menjadi modal dasar Indonesia dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera. Demikian sebaliknya, ketika rakyat Indonesia melupakan akan hal tersebut maka korupsi, kolusi dan nepotisme akan muncul hingga menjadikan Indonesia semakin bobrok.

Sejahteranya Negara sebenarnya tidak bisa hanya dipraktikkan dari sepihak saja. Teori dan reaslisasi pada hakikatnya harus saling beriringan dalam menyuksesekan satu tujuan. Terbukti dengan program Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Joko Widodo ini, pada hakikatnya tidak akan mampu terealisasikan apabila masyarakatnya tidak mau dibimbing dan merubah kebiasaan menjadi satu perubahan.

Revolusi yang pada nalarnya adalah satu pergerakan atau perubahan harunya menjadikan Indonesia bisa bergerak lebih cepat lagi sebab ada misi dan tujuan yang telah dipersiapkan Presiden Republik Indonesia dalam konsep ini. Maka penduduk Indonesia sebagai rakyat yang ada di dalamnya wajib mendukung dan merealisasikan terlepas dari setuju atau tidaknya dengan terpilihnya Joko Widodo dan serangkaian program kerja yang telah dirangkainya.

Maka pada akhirnya, antara Presiden dan rakyat Indonesia memerlukan kerja sama yang solid. Mengingat ungkapan Jokowi yang menerangkan bahwa salah satu ciri khas Negara Indonesia adalah bergotong royong. Jargon tetaplah jargon, program kerja tetaplah program kerja. Jutaan teori pun yang tertulis dalam susunan program kerja Presiden Republik Indonesia jika tanpa adanya dukungan masyarakat Indonesia untuk menyukseskannya maka semua tidak akan pernah terealisasikan.

Maka pada akhirnya Revolusi Mental yang nyatanya juga menjadi konsep Presiden Soekarno Hatta dalam mewujudkan kesejahteraan Negara Indonesia ini bukanlah sekedar teori namun juga mampu terealisasikan dengan apik. Meskipun pada nalar yang sehat butuh waktu yang cukup lama untuk merubah karakter dan mental-mental rakyat Indonesia ini menjadi mandiri dan mau bekerja sama.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry