Foto: Putri Chairunnisa

Objek  wisata baru  yang terletak di Kecamatan Namo Rambe di sapa hangat dengan nama “Istana Jambutidak hanya berisi tanaman jambu saja, tetapi juga dikenalkan oleh beragam tanaman lain yang turut menjanjikan kepuasan tersendiri bagi pengunjung yang datang. Minggu, (2/12).

Jambu air Tong Sam Sie, jambu air Taiwan King, jambu Klutuk Mutiara, dan jambu Klutuk Kristal merupakan  tanaman yang mayoritas tumbuh di tanah seluas hampir tiga hektar tersebut menjadi alasan tercetusnya nama Istana Jambu. “Ini luasnya hampir tiga hektar, mayoritas tanamannya adalah jambu makanya dibuat namanya istana jambu”, ujar Jenni selaku pemandu wisata.

Sambil berjalan mengelilingi perkebunan, Jenni turut memaparkan keunggulan jambu-jambu yang terletak di istana jambu tersebut. “Jambu Tong Sam Sie berbentuk lonjong sedangkan jambu Taiwan Red berbentuk bulat. Untuk keunggulannya, Tong Sam Sie lebih terasa manis namun untuk produksi buahnya lebih banyak Taiwan Red”.

“Begitu juga untuk jambu klutuk yang juga memiliki keunggulan masing-masing, jambu mutiara itu berbiji dan jambu kristal tidak berbiji, untuk rasanya lebih manis yang  tidak berbiji tapi untuk bentuknya lebih bagus yang berbiji sebab yang tidak berbiji bentuknya kriput seperti jeruk purut,” tambah wanita berkulit kuning langsat tersebut sembari menunjuk kearah buah jambu klutuk tidak berbiji diatas pohon.

Asyiknya lagi, kita tidak akan bosan selama berada di wisata tersebut sebab selain pohon jambu kita juga menemukan beragam tanaman lainnya seperti sayur dan buah-buahan. “Disini terdapat dua belas jenis buah seperti jambu air yang terdiri dari dua macam, jambu klutuk yang juga terdiri dari dua macam, buah ajaib, pisang, nona, rambutan, matao, sirsak, jagung,  dan durian. Selain itu juga terdapat sayur- sayuran seperti bayam dan kangkung,” papar Jenni sambil mengingat macam-macam tanaman tersebut.

Perawatan yang dilakukan untuk tanaman di istana jambu ini juga terjamin. Untuk sayur-sayuran mereka menerapkan sistem organik dan untuk buah-buahan dengan perkawinan juga cangkok batang. “Awalnya kami hanya memiliki dua buah pohon jambu dan satu buah pohon nona lalu untuk seterusnya kami melakukan sistem cangkok hingga tanamannya bisa sebanyak ini bahkan sekarang kami juga menyediakan bibit tanaman untuk diperjaul-belikan dan untuk sayuran sendiri kami tidak melakukan penyemprotan apapun sebab kami menanamnya dengan sistem organik,” tambah Jenni lagi.

Dalam istana jambu tersebut, tanaman nona merupakan tanaman yang dikembang-biakkan dengan sistem perkawinan dengan tanaman sirsak. “Tanaman nona ini kami kawinkan dengan sirsak agar rasa nona yang pada dasarnya asam akan berubah menjadi rasa sirsak yang manis walau tidak mengubah bentuk dari buah nona tersebut. Bila dari batang tanaman yang dikawinkan sudah tumbuh sendiri maka akan dipotong dan ditanam menjadi satu pohon yang baru,” tambahnya sekaligus menggoyang batang pohon yang sudah siap untuk dipotong tersebut.

Selain itu, perawatan tanaman juga didukung dengan pembuatan perangkap lalat buah dengan tujuan mengurangi kerusakan buah di pohon. “Pohon-pohon besar di istana jambu ini kami gantungkan perangkap lalat bernama kinglu yang terbuat dari bahan kimia. Kinglu ini bekerja dengan menyebarkan harum untuk memperdaya lalat, nantinya lalat akan tertipu dan masuk kedalam botol yang digantung dengan demikian kerusakan buah akibat lalat akan terminimalisir,” tutup Jenni mengakhiri pembicaraan.

Reporter : Siska Ramayani Damanik dan Devi Junita Sari

Editor      : Ridha Amalia

Tingggalkan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.