Penulis            : Muhammad Alfiansyah

 Berita-berita hoax yang tersebar di berbagai sosial media menuntut kejelian pembaca berita, yang informasinya disampaikan tanpa pertanggung jawaban dan acap kali dikonsumsi publik dan tentu itu merugikan banyak pihak.

Berita hoax lebih sering dan lebih mudah ditemukan di media massa online, selain mudah diakses, berita-berita di media massa online juga lebih akrab dengan masyarakat luas. Misalnya berita yang dikeluarkan seorang jurnalis di media online isinya menyudutkan seseorang dengan berita kebohongan tanpa didasari data dan fakta yang jelas, ini menjadi kerugian besar bagi seorang yang namanya dicatut dalam pemberitaan bohong ini. Orang yang menyebarkan berita ini merasa sedang dilindungi oleh hak kebebasan mengeluarkan pendapat, akan tetapi sebenarnya itu bisa dikatakatan pencemaran nama baik.

Masalah pemberitaan hoax ini hasilnya malah akan menimbulkan permasalahan baru bagi yang terkena dampak beritanya. Misalnya pencemaran nama baik, di dalam tulisan yang menyangkut dirinya tentu mendeskripsikan hal-hal yang tidak baik.

Indonesia sekarang benar-benar lagi darurat berita hoax. Berita yang sering hadir hanya fitnah dan provokasi yang memecah belah, perilaku seperti ini jika terus saja dipelihara maka akan berdampak buruk bagi perkembangan sikap bijak bersosial media di Indonesia.

Menurut website resmi Kominfo.go.id yang dikutip dari E-Marketer dikatakan pengguna internet di Indonesia mencapai angka 112 juta jiwa dan menjadi peringkat ke-enam tertinggi di dunia. Tetapi hanya beberapa saja yang dapat memilih dan memilih mana berita yang benar dan mana berita yang tidak benar. Hal ini tentu seharusnya diperlukan kontrol sosial dari berbagai pihak baik keluarga, masyarakat maupun pemerintah.

Pengguna media online bahkan bisa aktif, mengambil peran dan independen dalam menentukan konten-konten dalam  media online kapan pun dan di mana pun. Sosial media secara bebas dan mudah untuk menambahkan, menyebar, dan memodifikasi baik gambar, tulisan, video. Hal ini yang menjadi cikal bakal munculnya berita-berita hoax di sosial media.

Berita-berita hoax yang tersebar dan tanpa penyaringan dari masing-masing individu banyak didapati di indonesia. Dengan itu pemerintah mengeluarkan undang-undang untuk menekan angka hoax di media massa dalam undang-undang ITE nomor 11 tahun 2008 pasal 28 ayat 1 Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. Usaha pemerintah menangani hoax sudah terlihat dengan disahkan nya undang-undang ini.

Beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan banyak pesan Watshapp yang disebar di banyak grup, yang isinya memuat informasi mengenai salah satu warung makan yang diisukan menggunakan bahan makanan yang dilarang untuk dikonsumsi dalam agama islam. Kabar itu langsung menyebar luas dan menuai banyak tanggapan dari berbagai pihak.

Kabar-kabar yang belum tentu kebenarannya tentu merugikan pihak yang bersangkutan, setelah kabar itu mencuat sudah pasti dampak buruknya terhadap penjual makanan, orang-orang yang bertanggung jawab menyebarkan berita tersebut tanpa ada verifikasi kebenarannya sangat meresahkan bukan hanya bagi pemilik warung yang sudah pasti dirugikan secara materil, tetapi juga para penikmat di warung tersebut yang  terhasut dengan berita itu yang sudah merasa tertipu, padahal berita itu belum jelas kebenarannya, bahkan bisa di cap berita HOAX  karena didalam gambar ataupun video yang tersebar tidak tampak jelas apakah benar itu diwarung tersebut atau bukan.

Penikmat sosial media harus paham dan mengerti bagaimana membedakan kabar yang bohong dengan kabar yang benar keberadaannya, melihat data dan sumber dari kabar mungkin bisa sedikit banyaknya membantu untuk mengetahui isi dan kualitas sebuah kabar yang tersebar. Selain itu pengawasan dari keluarga juga diperlukan.

Dalam sosial media, beragam paradigma komunikasi muncul. Ada model komunikasi yang sifatnya satu arah, dimana satu pihak memberikan informasi kepada pihak lain, dan pihak yang lain hanya menerima informasi tersebut. Ada pula model komunikasi yang sifatnya partisipatoris, dimana pihak-pihak yang berkomunikasi melakukannya secara dialogis. Pada model ini, pengguna sosial media saling berbagi informasi, pendapat, pandangan, pengetahuan, pengalaman, keinginan dan membangun kerangka tindakan untuk mencapai tujuan kemajuan bersama.

Memang pertumbuhan internet di dunia ini sangat memicu juga tumbuhnya para pelaku sosial media, pelaku media online yang cerdas harus memilih dan memilah berita yang sampai dengan melihat siapa penulis berita tersebut apakah orang yang bisa di percaya atau seorang penulis yang memiliki krediblitas yang baik atau bukan. Selain itu pula menjadi pembaca yang cerdas bisa pula dengan melihat refrensi yang ditujukan oleh penulis, biasanya seorang yang sedang membaca informasi akan terlena dengan rujukan-rujukan sumber yang disuguhkan penulis tanpa melihat ulang apakah itu sumber resmi ataupun tidak.

Menjadi pembaca yang cerdas itu penting guna untuk tolak berita hoax yang sangat meresahkan pengguna sosial media, banyak hal yang harus di teliti kembali ketika membaca sebuah berita, apalagi ketika berita tersebut berita yang berbau sensitif, kepekaan dan tidak langsung percaya akan isi berita juga bermanfaat. Kembali telusuri isi dari kabar tersebut, lihat juga sumber dari berita sehingga berita-berita hoax dapat diminimalisir keberadaan dan juga dampaknya ketika berita tersebut sudah menjadi konsumsi khalayak ramai khususnya para pembaca media online.

Sumber            : Tulisan diambil dari beberapa referensi.

Editor : Aminata Zahriata