Foto: Dok. Panitia

Penulis: Isma Hidayati

Dalam dunia pendidikan, sejak dahulu hingga kini anak muda Indonesia dari kalangan pelajar maupun mahasiswa masih gencar mencari informasi, terlebih lagi mencari informasi terkait mendapatkan beasiswa di dalam maupun luar negeri. Maka dari itu, sangat perlu bila anak muda mendapat pemahaman mengenai hal itu sejak dini sebagai bentuk proses menempuh jenjang yang diinginkannya, Minggu (11/8).

Pada tahun yang semakin dikatakan milenial ini menjadikan anak muda terlihat jelas arahnya, entah itu sebagai arah yang tak peduli dengan pendidikan, atau pun yang peduli terkait pendidikan. Pemahaman tentang anak muda itulah yang membawa Sahabat beasiswa chapter Jakarta ini menjadikan Pandu Utama Manggala sebagai narasumber dalam sahabat beasiswa summit 2018.

Siapapun orangnya, pasti sangatlah mengenal Pandu Utama Manggala, sosok inspiratif yang merupakan koordinator PPI Dunia dan selalu menjadi bahan perbincangan pada setiap forum beasiswa maupun tentang PPI Dunia. Pandu yang tak banyak bicara dengan jelas memberi pemahaman kepada 85 delegasi sahabat beasiswa. Berulang kali ia ketuskan kalimat, “ayolah, jangan takut bermimpi,” ajaknya.

Menurut pandangannya, dalam mencari informasi terkait beasiswa ini anak muda di Indonesia sangatlah minim. Ia sangat sesalkan bahwa ternyata banyak anak muda yang tak berani memulai mencari beasiswa di luar negeri hanya karena merasa takut gagal.

Mindset anak muda yang masih takut meraih mimpi memang perlu diubah dengan memikirkan hendak menjadi nantinya, Pandu berkata bahwa anak muda yang masih saja tak peduli atas negaranya, atas pendidikan dan kemampuannya, maka akan menjadi sampah demografi, “Jangan jadi sampah demografi, yang akademiknya kurang,  tidak miliki kemampuan, mau jadi apa negara kita nanti,” tegasnya,

Acapkali anak muda belum mampu menyeimbangkan pengetahuan diri antara akademik dengan kegiatan seperti organisasi untuk menguji kemampuan pribadi. Pandu sendiri tak menyalahkan anak muda yang kurang dalam akademik, hanya saja satu saran  yang ia sampaikan yaitu temukan passion terlebih dahulu. “Kurang dalam akademik itu biasa, hanya saja kita memang harus sadar terlebih dahulu, agar kita tidak terus memperbanyak skill, tapi juga harus bisa dalam akademik dan wawasan kebangsaan. Semua itu tak sulit, cukup diawali dengan berusaha menemukan passion sendiri, setelah itu kita akan mengkoordinir diri sendiri untuk mampu menjadi mahasiswa terbaik dengan akademik yang kita miliki,” jelasnya.

Dalam akhir wawancara bersama reporter Dinamika, Pandu menuturkan harapannya kepada anak muda agar jangan berhenti untuk meraih mimpi. ”Jangan pernah berhenti meraih mimpi, karena tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, hanya saja si anak muda ini yang usahanya masih sangat jauh dan masih sangat sedikit. Usaha itu perlu, agar kita tidak jadi sampah demografi,” tutupnya.

Editor : Shofiatul Husna Lubis