Ziswaf dan Pergerakan Sosial

Ilustrator: Mustika Khairunnisa

Penulis: Iin Prasetyo

Allah berfirman: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya mereka selalu menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung selain Dia,” (Q.S. Al Ra’d:11).

Mahabenar Allah, suatu kaum tidak akan berubah (lepas dari ketimpangan: kesulitan, kelaparan, penjajahan, penindasan ekonomi) kecuali mereka sendiri yang akan mengubahnya. Maka, dalam suatu perubahan sosial, tentu sangat diperlukan agent of change (agen perubahan) sebagai sosok/kelompok yang kontributif dan dipercaya agar ketimpangan-ketimpangan dapat diatasi.

Hadirnya agen perubahan pada zaman sekarang adalah untuk memberi solusi dan membantu masyarakat dalam kesulitan ekonomi dengan cara yang tidak biasa-biasa saja seperti memberi sedekah kepada si kurang mampu sekadar memenuhi makan lepas seharinya, juga bukan sekadar memberi wakaf untuk hal yang tidak begitu produktif dan berkelanjutan yang sebatas makam, masjid, atau madrasah.

Zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) memiliki potensi besar bagi perubahan sosial masyarakat. Pengelolaannya juga harus digerakkan sebagai roda perekonomian untuk terwujudnya perubahan sosial yang positif yakni dari ketimpangan menjadi berkeadilan; dari konsumtif menjadi produktif. Dan dalam pemanfaatannya, ziswaf tidak seperti biasa yakni sebatas konsumsi untuk yang berhak menerimanya dan lepas lalu begitu saja.

Bersama agent of ziswaf (agen ziswaf) sebagai agen perubahan atau orang-orang yang ahli bukan hanya dalam fikih ekonomi (muamalah) tapi bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi di zaman sekarang dalam membuat perubahan membangun usaha-usaha mikro, teknologi finansial, atau bahkan investasi bagi masyarakat sehingga mereka dapat memberdayakan dirinya.

Dr. Muhammad Amin, Lc, MA (2013), dalam penelitiannya “Perubahan Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an: Studi Komparatif  Tafsir Al Thabari dan Tafsir Al Azhar” dari Prof. Dr. M. Quraish Shihab (1996), menjelaskan, penggunaan kata qaum pada Q.S. Al Ra’d: 11 merujuk pada manusia dalam kedudukannya sebagai kelompok, bukan hanya manusia dalam kedudukannya sebagai individu.

Artinya, seseorang betapapun hebatnya, tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian banyak orang. Arus perubahan kepada sekian banyak orang tersebut pada gilirannya dapat mewujudkan, menghasilkan gelombang perubahan dalam masyarakat, atau paling sedikit dapat menimbulkan riak-riak perubahan dalam masyarakat.

Lebih lanjut dalam subbab Pandangan Hamka dan Al Thabari tentang Faktor Perubahan Sosial, Amin menjelaskan bahwa pada tafsir Al Azhar dalam menafsirkan ayat 11 ini Hamka sangat menekankan pentingnya ikhtiar manusia. Ikhtiar manusia inilah yang dapat mengantar perubahan kehidupan manusia. Dari makna ayat ini Hamka cenderung berpendapat bahwa perubahan suatu masyarakat atau suatu kaum tidak akan terjadi jika masyarakat itu tidak mengubah nasibnya terlebih dahulu.

Kemudian pada tafsir Al Thabari, Amin menjelaskan, ketika menafsirkan firman Allah wa idza arada Allah bi qawmin su’an fa la maradda lah pada ayat 11 tersebut, Al Thabari menyatakan bahwa ketentuan Allah berupa keburukan pada suatu masyarakat (kaum) maka, tidak ada yang dapat menghalangi ketentuan ini. Keburukan yang dimaksud oleh Al Thabari adalah kehancuran dan kehinaan di dunia.

Max Weber memandang etika dalam keyakinan Protestan mampu mendorong manusia untuk bekerja keras, demikian ia kemukakan dalam bukunya “The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism”. Selain itu sejarah Islam mencatat dengan jelas bahwa pada hakikatnya Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam telah membawa perubahan sosial yang agung, ia membawa umat dari masa kegelapan ke masa yang terang benderang; masa jahiliah ke masa yang penuh ilmu dan adab seperti dalam Q.S. Ibrahim: 1 menjelaskan bahwa, “Alif, laam, ra, (ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap-gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji”.

Sosiologi memberi kajian dari dua hal di atas bahwa agama mampu membawa perubahan sehingga dapat berperan sebagai agen perubahan. Manusia melalui ajaran-ajaran agama dapat memengaruhi pemikiran dan prilakunya untuk dapat mencapai kesuksesan (terhindar dari kehinaan dunia) bahkan mencapai surga.

Dari Q.S. Ibrahim: 1 tersebut tampak bahwa Al-Qur’an mendukung penuh agar umat dapat mewujudkan perubahan positif. Tentu, dalam riwayat sejarah Islam, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam merupakan agen perubahan yang pertama dan menjadi tuntunan utama bagi agen perubahan di zaman berkemajuan ini dan begitupun pemikiran dan prilakunya tidak akan lekang oleh kemajuan zaman.

Bergerak dari kampus dan sekolah

Pendiri Wakafprenuer Institute Imam Nur Aziz mengemukakan dalam menjalankan wakafprenuer harus memerhatikan 5C yaitu Campaign (kampanye), Create (menciptakan), Conversion (konversi), Competen (kompetensi), Comply (taat regulasi). Wakafprenuer adalah integrasi bisnis untuk menghasilkan dana wakaf secara produktif melalui intreprenuer demi kepentingan umat.

Wakafprenuer ini mulai diperkenalkan dari kampus ke kampus dan sekolah ke sekolah kepada kaum terpelajar yang diharapkan bisa dibentuk sebagai pengemuka perubahan sosial yang lebih baik. Badan Wakaf Indonesia (BWI) pun mulai menggerakkan entreprenuer berbasis wakaf dari kalangan mahasiswa, wakaf industri desa untuk pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat desa, bahkan juga menginisiasi sukuk wakaf.

Sebuah organisasi amal, Charities Aid Foundation (CAF) setiap tahunnya memublikasikan laporan World Giving Index (Indeks Derma Sedunia/WGI), mencatat Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia pada 2018 yang bertengger di posisi pertama dengan skor 59% setelah pada tahun sebelumnya di posisi kedua dengan skor 60% setelah Myanmar.

Dalam catatan WGI 2018 tersebut, Indonesia membawahi lima negara kaya  yakni Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Irlandia, dan Inggris. Walau pada 2019 CAF mencatat Indonesia di posisi kesepuluh namun skornya tidak terlalu jauh yakni 50% dan posisi teratas ada Amerika Serikat dan Myanmar dengan skor 58%. Melihat persenan tersebut, artinya di Indonesia masih banyak orang-orang baik yang ingin berderma. Kemudian, fakta-fakta yang ada ini harus dikelola dengan baik dan benar dengan diciptaknnya bibit-bibit unggul dari kalangan terdidik dalam kontribusinya sebagai agen ziswaf.

Selain sosialisasi dan kampanye literasi wakaf kepada kaum terpelajar di kampus dan sekolah sudah selayaknya juga otoritas ekstrakurikuler sekolah dan otoritas kemahasiswaan untuk menggerakkan secara optimal sehingga pemahaman yang ada bukan sekadar teori. Dan ketika mereka lulus dan bekerja serta menjadi pemimpin dapat memahami wakaf bagi kesejahteraan sosial masyarakat guna menopang pembangunan negara.

Namun, zaman terus berubah, sosialisasi untuk menumbuhkan pemahaman terhadap manfaat wakaf juga harus masif. Oleh karena itu, wakaf yang merupakan bagian dari ziswaf melihat potensi besarnya bagi kemaslahatan umat harus memiliki inisiator yang ahli baik secara teknis syariah, teknis teknologi dan pemasaran, dan teknis yuridis yang kesemuanya itu berawal dari edukasi pelajar-mahasiswa. Mereka adalah bibit cendekiawan yang harus dibentuk sebagai agent of ziswaf (agen ziswaf) yang merupakan bagian besar dari agen perubahan agar pengelolaan ziswaf semakin optimal bagi negara.

Ziswaf dan Toleransi

Islam yang universal, mampu melingkupi segala aspek dalam perubahan sosial sebab Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam pun tidak mengenalkan Islam sebatas ritual ibadah. Selanjutnya ekonomi syariah adalah tatanan ekonomi kemanusiaan atas dasar tolong-menolong, keuntungan bisnis yang tidak menindas, dan bisnis yang memiliki gaya etika atau spiritulitas.

Pun, ziswaf adalah bentuk ibadah yang dapat dilihat dari dimensi vertikal (tanda patuh kepada Allah) dan horizontal (saling tolong-menolong antarsesama). Maka, kelirulah bahwa anggapan pemanfaatan ziswaf ini mengamini egoisme umat Islam, padahal pada prinsipnya Islam adalah rahmat bagi alam semesta — rahmatan lil alamin.

Amanat UUD 1945 pasal 34 (1) menyatakan “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, hal ini sesuai dengan latar belakang ziswaf yang begitu memerhatikan pemenuhan kebutuhan bagi si kurang mampu. Wakaf yang dikelola untuk pembangunan sarana umum seperti rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi, rumah baca, dll. juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum, di sinilah romantisnya Islam sebagai agama yang mengerti betul tentang bagaimana hidup yang empati tanpa memandang SARA. Dengan begitu, sewajarnyalah negara jangan mendukung setengah-setengah dalam mengoptimalkan kontribusi ziswaf. Jika dengan demikian tidak menutup kemungkinan kalau pendapatan utama negara dapat dari hasil pengelolaan ziswaf.

Selain itu ada pembelajaran besar dari pandangan “bekerja keras adalah bentuk semangat kapitalisme,” harta adalah bagian dari martabat seseorang. Namun demikian, lagi-lagi romantisnya Islam memberi tahu bahwa harta adalah titipan Tuhan.

Allah menghendaki hambanya yang bekerja keras demi mencapai kekayaan. Jika Allah Yang Mahakaya dan Mengayakan menjawab kerja keras hambanya dalam usaha untuk kaya (memeroleh harta) maka itu adalah hal yang sangat mudah bagi-Nya untuk mengayakan si hamba. Akan tetapi dapatkah hambanya yang kaya tersebut mampu membersihkan hartanya sebagai bentuk rasa syukur? Dengan cara apa? Jawabannya: ber-ziswaf. Allahu alam bishawaf.

Editor : Miftahul Zannah

Latest articles

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...

UIN SU Wisudakan 649 Mahasiswa

Medan, Dinamika Online - UIN SU mewisudakan sebanyak 649 mahasiswa pada sidang senat terbuka Wisuda ke-73. Prosesi ini berlangsung di Aula Utama Kampus II...