Tip Mengatasi Krisis Identitas

(Foto/Ilustrasi/Freepik)

Penulis: Wahyu Nizam

Krisis identitas adalah permasalahan yang dikemukakan oleh seorang psikoanalis sekaligus psikolog terkenal bernama Erik Erikson, ia percaya bahwa krisis ini sering terjadi oleh banyak orang yang berada dalam lingkungan hidupnya. Mengutip jurnal Turkish Journal of Pediatrics dikatakan; remaja sangat rentan mengalami perubahan suasana hati. Hal ini menyebabkan banyak kawula muda lebih banyak mengeksplor pikirannya untuk mempertanyakaan akan keberadaan hidupnya di dunia.

Misalnya siapa dirinya, akan menjadi apa di masa datang? Seberapa penting hidup ini? Dan segala yang serupa dengan itu. Pikiran-pikiran yang begitulah yang memicu sensitivitas yang tinggi saat seorang remaja dalam menghadapi suatu tantangan atau masalah. Inilah yang kemudian disebut sebagai krisis identitas.

Penyebab terjadinya krisis identitas ini beragam, banyak orang yang mengartikan krisis ini hanya terjadi pada remaja. Padahal tidak begitu, banyak kalangan umur paruh baya, atau bahkan usia lanjut yang mengalaminya, tentu ini bergantung dari apa-apa yang terjadi di sekitar kehidupan individu terkait.

Contoh dari masalah-masalah tersebut adalah tekanan pergaulan, masalah akademik, perceraian orang tua, mengalami peristiwa traumatis, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan. Dan sedikit banyaknya dari masalah-masalah tersebut memengaruhi cara melihat dan menilai diri sendiri.

James Marcia seorang ahli teori meluaskan lagi makna krisis identitas yang dikemukakan oleh Erikson, menurutnya krisis identitas pada remaja merupakan pergolakan emosi. Lebih lanjut, Marcia merumuskan ada empat fase yang menjadi tahapan remaja saat berada dalam masa krisis.

Keempat fase itu dimulai dari diffusion, yaitu merasa diri tidak perlu adanya komitmen atas identitas, kemudian forclosure sebagai keyakinan tidak akan mengeksplor diri lebih jauh untuk menemukan identitas, selanjutnya morotarium menjadi aktif mengeksplor identitas, namun tidak menentukan pilihan dan yang terakhir adalah achievement ketika telah berhasil menentukan identitas diri.

Bagi sebagian besar anak muda memang cenderung mengalami krisis identitas, bahkan dapat berujung depresi dan masalah mental lainnya. Namun, setiap permasalahan pastilah ada solusi, meskipun tidak begitu cepat untuk diselesaikan. Dalam mengatasi krisis identitas ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, di antaranya

  1. Pilih hal yang kamu sukai

Jangan memaksa diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan, atau sesuatu yang tidak kamu sukai. Contoh kecilnya dalam memilih pakaian, makanan, sampai ke kegiatan organiasi. Pilihlah yang memang menjadi kesukaan dan keahlian kamu di komunitas atau organisasi tersebut.

Selain itu, kita juga bisa menggali kemampuan diri lebih dalam. Jika kita tidak bisa melakukannya sekarang, mungkin nanti. Cobalah untuk melihat lebih jauh ke dalam diri, perubahan apa yang ingin kita lakukan. Dan setelah itu tanyakan pada diri, apakah sudah cukup puas dengan perubahan tersebut?

  1. Lebih sering bertanya dari pada menuntut diri sendiri

Terkadang di masa krisis banyak sekali tuntutan yang datang, baik dari orang tua, keluarga lainnya, dan teman. Mereka semua mempertanyakan tentang pernikahan, selesai pendidikan, sampai pekerjaan. Di posisi ini kita harus lebih sering menanyakan hal-hal yang membuat kita merasa termotivasi dan mencari kebahagiaan, daripada memaksa diri untuk melakukan sesuatu. Misalnya; apa yang membuatku bahagia? Apa pekerjaan yang aku inginkan?

  1. Mencari dukungan

Tidak bisa kita ingkari, terkadang memang hal-hal yang menyakitkan itu datang dari orang terdekat kita. Tetapi, dari orang terdekat jugalah kita lebih banyak mendapatkan semangat. Kata-kata motivasi, pelukan, melakukan aktivitas bersama, dari dan dengan teman adalah cara yang baik agar kita terhindar dari stres. Dengan begitu, kita akan merasa lebih percaya diri dan rileks dalam mengatasi krisis yang sedang kita lalui.

Editor : Nurul Liza Nasution