Ramadan di Tengah Pandemi, Ajang Kembali Pada-Nya

Ilustrasi. (Foto/Ilustrasi/Pixabay)

Penulis : Sri Julia Ningsih

Barangkali, kita telah melewati bulan Muharram, Safar, Rabi’ul awal, Rabi’ul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ ban dengan mengejar mati-matian dunia yang tidak dibawa mati.

Coba sama-sama lihat ke belakang, bulan-bulan di atas yang telah kita lalui. Apakah kita melalui dengan memprioritaskan Tuhan di atas segalanya? atau mungkin malah sebaliknya.? Kita sibuk menomorsatukan dunia dan sempat mengatakan, “Maaf Tuhan, saya sedang sibuk”. Jika benar, maka bulan Ramadan di tengah pandemi ini, ajang kembalinya kita pada Tuhan.

Kembali yang dimaksud adalah mendekatkan diri pada sang pencipta setelah kita jauh tergelincir dari agamaNya. Meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Memohon ampun atas panggilan-Nya yang dulu pernah kita tunda karena pekerjaan, tugas, deadline, dll. Memohon ampun, atas ketidaksempatan kita bercumbu berdua dengan-Nya di sepertiga malam karena sepanjang hari dunia terasa begitu melelahkan.

Tidakkah kita sadari bahwasannya Dia menunggu sujud kita sebagai hamba?

Tidakkah kita sadari bahwasannya Dia menunggu rintihan kita?

Tidakkah kita sadari bahwasannya Dia menunggu permohonan ampun kita?

Lantas, kemana kita selama ini?

Pura-pura lupa bahwa kita butuh Tuhan? Menanggapi hal ini, sebaiknya kita berpedoman dengan dalil QS. Fatir (35) : 15 yang artinya: “ Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Dialah Allah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) menafsirkan QS. Fatir (35) : 15 di atas sebagai berikut : “Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah dalam segala sesuatu. Kalian tidak bisa tidak memerlukan-Nya sekejap pun. Sebaliknya, Allah maha kaya sehingga dia tidak membutuhkan manusia dan tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya. Maha terpuji pada dzat, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maha Terpuji atas nikmat-nikmat-Nya, karena segala nikmat bagi manusia adalah dari-Nya, maka bagi-Nya segala puji dan syukur dalam segala keadaan”.

Jelas, bahwa kitalah sebagai umat manusia yang butuh Tuhan bukan Tuhan butuh kita. Tidak cukupkah itu menjadi tamparan keras untuk kita? Lalu, masihkah kita enggan kembali Pada-Nya? Semoga tidak.

Ini saatnya kita kembali pada-Nya. Bermunajat dengan hikmat. Pasalnya kini, dunia telah memberikan ruang pada kita untuk istirahat sementara. Seyogianya, Tuhan membuat kejadian yang terbungkus rapi dibalik pandemi ini, agar kita lebih dekat pada-Nya. Namun hal terselubung ini, kurang kita sadari. Untuk itu, mari manfaatkan kelapangan waktu ini sedemikian rupa menyambung habluminallah yang mungkin dulu sedikit terputus. Semoga setelah pandemi ini, kita tak lagi lalai dengan Tuhan. Aamiin ya rabb.

Editor : Rindiani

Latest articles

Addin 311: Hikmah, Hadiah Terindah Dari Yang Maha Indah

“Hikmah adalah aset orang mukmin yang tercecer. Di mana pun ia menemukannya maka ialah yang paling berhak memilikinya.” (Hikmah) Dalam hidup sering kali kita bertemu...

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...