Puasa Ramadan Sebentar Lagi, Ketahui 3 Hal Ini!

- Advertisement -

(Foto/Ilustrasi/Freepik)

Penulis: Richa Ardelila Hutabarat

Tak terasa hari demi hari terlewati semakin mendekatkan kita kepada bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim, yaitu bulan suci Ramadan. Bulan diturunkannya Al-Quran ini adalah bulan yang penuh akan kemuliaan dan keberkahan, dan hal yang wajib kita laksanakan di bulan Ramadan ialah berpuasa.

- Advertisement -

Puasa Ramadan merupakan puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadan dari mulai fajar hingga terbenam matahari. Sebagai seorang muslim sudah tahukah kita mengenai keutamaan puasa di bulan Ramadan? Apakah keutamaan berpuasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum? Sah atau tidak kalau kita lupa makan dan minum saat berpuasa? Kira-kira berapa lama jarak antara sahur dan salat? Mungkin dari kita sudah banyak yang mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, atau mungkin ada yang belum tahu? Baiklah, di sini penulis akan mengingatkan kembali penjelasan mengenai pertanyaan di atas yang tentunya disertai dengan dalilnya.

Keutamaan puasa Ramadan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Barangsiapa tidak berpuasa di bulan Ramadan tanpa adanya uzur (halangan) atau sakit, maka jika ia berpuasa selama satu tahun untuk menggantinya (meng-qadha), Allah tidak menerimanya.” (HR. Imam Al-Bukhari)

Hadis tentang tema ini juga terdapat dalam riwayat Imam Muslim berikut:

Diriwayatkan dari Humaid dia berkata: “Anas pernah ditanya mengenai puasa Ramadan saat dalam perjalanan, lalu ia menjawab: ‘kami dulu pernah berpergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam di bulan Ramadan, namun orang yang berpuasa tidaklah mencela orang yang berbuka, dan yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa.”’ (HR. Imam Muslim)

Puasa adalah menahan diri dari memasukkan sesuatu di dalam perut. Dengan begitu, puasa akan rusak karena makan, minum, atau menghisap rokok. Puasa tidak rusak karena fashd (mengeluarkan sejumlah darah dari urat nadi guna pengobatan), berbekam, bercelak, atau memasukkan alat ke telinga.

Selain itu, apabila terjadi sesuatu yang tidak disengaja, seperti tertelannya debu di jalanan dan masuknya lalat ke dalam perut ketika berkumur, maka puasa tidak akan batal selama tidak berlebihan.

Tujuan berpuasa adalah menahan diri dari hawa nafsu, bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum. Bisa jadi dia telah bergibah, mengadu domba, atau berdusta yang semua hal itu bisa merusak puasanya. Sebagaimana hadis di atas, bagi orang yang memiliki uzur, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu dan menggantinya di lain waktu. Seperti dalam firmannya dalam surah Al-Baqarah ayat 184:

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Lupa makan dan minum saat berpuasa 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menyantap makanan karena lupa padahal ia sedang berpuasa, hendaklah ia sempurnakan puasanya, sebab Allah lah yang memberi makanan dan minuman tersebut.’” (HR. Imam Al-Bukhari)

Hadis tentang ini juga terdapat dalam riwayat Imam Muslim berikut:

Diriwayatkan dari Abu Huraira radhiallahu ‘anhu berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda: ‘Siapa yang makan dan minum karena lupa sedangkan ia puasa, maka hendaklah diteruskan puasa itu, karena Allah telah memberinya makan dan minum.”’ (HR. Imam Muslim)

Jika seorang muslim makan dan minum sedangkan ia lupa berpuasa maka hal tersebut dimaafkan alias puasanya tetap sah karena ada uzur lupa. Makan dan minum dalam keadaan lupa tersebut merupakan rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Dan orang yang makan dan minum tersebut di saat berpuasa tidah diperintahkan untuk mengqodho puasanya. Namun, ia diperintahkan untuk menyempurnakan puasanya. Nah, hal ini harus diingat jika kita tidak sengaja makan dan minum sedangkan kita berpuasa maka hal tersebut tidak mengapa dan tetap dilanjutkan saja puasanya. Sebab, makan dan minum itu rezeki yang diberikan oleh Allah.

Ibadah setelah makan sahur

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit berkata: “Suatu hari kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam kemudian beliau pergi untuk melaksanakan salat. Aku bertanya: ‘Berapa antara azan (subuh) dan sahur?’ Dia menjawab: ‘Sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat (ukuran yang menunjukkan pertengahan, tidak sedikit dan tidak banyak).’” (HR. Imam Bukhari)

Hadis tentang ini juga terdapat dalam Imam Muslim berikut:

Diriwayatkan dari Anas dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berkata: “Kami makan bersama Rasulullallah shallallahu ‘alahi wassalam, dan sesudah itu kami beranjak untuk menunaikan salat.” Kemudian aku bertanya: “Kira-kira berapa lama jarak antara sahur dan salat.” Nabi menjawab: “Kira-kira selama pembacaan lima puluh ayat.” (HR. Imam Muslim)

Dari hadis di atas (Sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat) menunjukkan bahwa waktu salat subuh dekat dengan waktu sahur atau waktu di mana seseorang mulai menahan makan dan minumnya.

Menyegerakan makan sahur pada pertengahan malam tidak dilarang. Namun, itu menyalahi sunnah. Karena sahur sebaiknya dilakukan pada penghujung malam. Kenapa demikian, ditakutkan jika seorang makan sahur di pertengahan malam bisa jadi ia akan tertinggal shalat subuh nya karena tertidur dan yang dikhawatirkan juga keadaan tubuh yang tidak lagi fit karena sehabis makan melanjutkan tidurnya. Tujuan dari sahur untuk memperkuat badan saat akan menjalankan puasa dan aktifitasnya. Oleh sebab itu, syariat menganjurkan untuk sahur di waktu sahar, yaitu penghujung malam.

Editor: Khairatun Hisan

Share article

Latest articles