Pendidikan Islam Tombak Kesuksesan Anak

(Foto/Ilustrasi/Pexels)

Penulis: Diana Aliya

Fenomena dekadensi moral yang terjadi di tengah masyarakat semakin meningkat dan beragam. Kriminalitas, ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelanggaran HAM, dan tindakan kriminalitas lainnya menjadi bukti krisis jati diri pada bangsa Indonesia semakin merajalela.  Dampak dari perilaku kriminalitas itu tidak hanya satu orang, tapi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, pendidikan karakter menjadi jawaban dari dekadensi moral selama ini.

Pengaplikasian pendidikan agama Islam bisa diterapkan untuk membangun karakter anak. Sebab, pendidikan agama Islam adalah pilar pendidikan karakter yang paling utama. Pendidikan karakter yang ditanamkan kepada anak akan menjadi baik jika penanamannya dimulai dengan penanaman jiwa keberagamaan.

Dalam pendidikan agama Islam, diajarkan akidah sebagai dasar keagamaannya. Kemudian, diajarkan Al-Qur’an dan Hadis untuk pedoman hidupnya. Diajarkan pula fikih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah. Tak hanya itu, diajarkan pula sejarah Islam sebagai keteladanan hidup dan akhlak sebagai pedoman perilaku manusia. Perlu diketahui juga, keberhasilan pembelajaran pendidikan agama Islam ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat.

Pendidikan karakter menjadi hal yang paling utama diajarkan dalam pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam sangat fleksibel karena arah pembelajarannya kepada beberapa aspek, yakni aspek kognitif, afektif, dan pskikomotorik.

Pada aspek kognitif, pendidikan agama Islam mengajarkan keagamaan yang benar-benar lurus. Pada aspek afektif, agama Islam mentransformasikan moral penganutnya dalam pembentukan sikap. Kemudian, aspek psikomotorik dalam Islam berfungsi sebagai pengendali perilaku setiap individu agar tercipta kepribadian manusia seutuhnya.

Tak hanya itu, pendidikan agama Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan berakhlak mulia. Mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan. Dengan demikian, setiap muslim yang dididik dengan cara Islami diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.

Konsep Pendidikan Karakter Dalam Islam

Sebenarnya, pendidikan  karakter telah diterapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa ia menjadi Nabi dan Rasul utusan Allah. Kini, pendidikan karakter Islami adalah ajaran dari beliau yang kita teruskan untuk generasi Islam mendatang. Dikutip dari buku “Cara Nabi Mendidik Anak” karangan Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik anak ada tiga tahapan.

Pertama, mengajarkan orang tua dan pendidiknya terlebih dahulu. Diantaranya, orang tua atau pendidik harus memahami konsep keteladanan, memilih waktu yang tepat untuk menasihati, bersikap adil dan tidak pilih kasih, memenuhi hak-hak anak, mendoakan anak, membelikan mainan, membantu anak agar berbakti dan taat, dan tidak banyak mencela dan mencaci.

Dalam hal ini ada hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Dari Ibnu Abbas ra. berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Ajarlah, permudahlah, dan jangan persulit! Gembirakanlah dan jangan takut-takuti! Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah berdiam diri!” (H.R. Ahmad dan Bukhari)

Kemudian tahap kedua, yaitu mengembangkan pemikiran anak. Disini cara yang efektif adalah dengan menceritakan kisah-kisah yang memberikan hikmah, diantaranya kisah Nabi Ibrahmi, kisah Al- Kifli, kisah orang berhutang seribu dinar, dan kisah-kisah lainnya yang bisa diambil pelajaran dari kisah tersebut dan kisah itu realitas dan jauh dari fiktif. Kemudian, berbicara langsung dengan anak sesuai dengan kemampuan akal anak, berdialog dengan tenang, mengajarkan praktik empiris, diantaranya mengasah ketajaman indra anak sekaligus dapat membuahkan pengetahuan dan pengalaman. Selanjutnya, memberikan figur bermakna kepada anak, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tahap terakhir, yaitu membangun jiwa anak. Jiwa anak dapat dibangun dengan berteman dengan anak, menggembirakan hati anak, membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya, memotivasi anak, memberikan pujian, bercanda dan bersenda gurau dengan anak, memanggil dengan panggilan yang baik, memenuhi keinginan anak, memberikan bimbingan terus menerus, bertahap dalam pengajarann, serta imbalan dan hukuman.

Terkait cara Rasulullah membangun jiwa anak dengan memenuhi keinginannya, Rasulullah menggunakan pendekatan psikologis. Beliau mengakui cara ini sangat efektif untuk menyelesaikan persoalan anak. Dalam hal ini, Utsman bin Madh’un menghadap  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa anak kecilnya.

Rasulullah Saw. bertanya, “Ini anakmu?” Ia pun menjawab, “Benar, ya Rasulullah” Kemudian Rasulullah bertanya lagi, “Kamu mencintainya, ya Utsman?” “Sungguh demi Allah, saya mencintainya ya Rasulullah” jawabnya. “Mau ku buat cintamu bertambah kepadanya?” Tanya Rasulullah lagi. Ia pun menjawab mau kepada Rasulullah. Lalu, Rasulullah bersabda: “Barang siapa berusaha menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang, Allah akan membuatnya merasa senang sehingga di akhirat ia benar-benar akan merasa senang”. (H.R. Ibnu Asakir).

Konsep pendidikan dalam Islam yang paling penting sebenarnya adalah dari keluarga. Jika dari keluarganya dididik dengan baik karakternya, maka baik pula ia di masyarakat. Selain itu, lingkungannya juga harus mendukung. Kawan sejawatnya juga harus baik. Karena anak sangat mudah terpengaruh dengan  perilaku buruk temannya.

Maka dari itu, orang tua juga harus mengontrol dengan siapa anak berteman. Salah satu caranya dengan memberikan pendidikan Islam di lembaga pendidikan Islam, seperti sekolah Islam atau pesantren. Dengan demikian, anak akan terbiasa dengan lingkungan yang bernuansa Islami. Sehingga terbentuk sedemikian rupa di dalam jiwa dan raganya.

Pendidikan Karakter Islami Tombak Kesuksesan Anak

Pendidikan karakter bukanlah berupa materi yang hanya bisa dicatat dan dihafalkan serta tidak dapat dievaluasi dalam jangka waktu yang pendek. Namun, pendidikan karakter merupakan suatu pembelajaran yang teraplikasi dalam semua kegiatan siswa baik di sekolah, lingkungan masyarakat dan keluarga melalui proses pembiasaan dan keteladanan. Hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Oleh sebab itu, keberhasilan pendidikan karakter ini menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, masyarakat, dan orang tua.

Keberhasilan pendidikan karakter ini tidak dapat dinilai dengan tes formatif atau sumatif yang dapat dinyatakan dalam skor. Tetapi, tolak ukur dari keberhasilan pendidikan karakter adalah terbentuknya peserta didik yang berkarakter yakni, berakhlak, berbudaya, santun, religius, kreatif, inovatif yang teraplikasi dalam kehidupan di sepanjang hayatnya. Orang yang berkarakter baik pasti disukai semua orang, sehingga berguna kemanapun ia pergi. Jika semua orang Indonesia berkarakter baik, maka tidak akan ada diskriminasi di Indonesia. Serta akan aman, damai, dan sejahtera kehidupan berbangsa dan bernegara.

Editor : Miftahul Zannah

Latest articles

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...

Satgas Covid-19 Jabarkan Tingkat Kesembuhan Semakin Meningkat

Medan, Dinamika Online -Dilansir dari laman resmi Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menjabarkan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 dalam seminggu terakhir. Tercatat pertanggal 22 September, jumlah...

Addin 322: Bersahabat dengan Al-Qur’an

Penulis: Rafika Hayati Dalimunthe Al-Qur’an adalah kitab mulia yang diturunkan Allah subḥānahu wa ta’āla kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan menjadi tuntunan serta pedoman...

SEMA FSH Helat Diskusi Bedakan Fakta dan Hoaks

Medan, Dinamika Online – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Syariah Dan Hukum (FSH) mengadakan diskusi media dengan tema "Membedakan Fakta Dan Hoaks". Pemateri pelatihan ini...