Negara Mayoritas Muslim, Indonesia Anti Cadar?

Ilustrasi: internet

Penulis: Richa Ardelila Hutabarat

Islam merupakan agama mayoritas di tanah air. Tak hanya sekadar itu, penduduknya merupakan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Tapi, mengapa masih banyak muslim yang tidak suka dengan pakaian takwa, baik itu dipakai oleh perempuan maupun laki-laki? Padahal berpakaian takwa merupakan kewajiban setiap Muslim. Banyak manfaat yang akan didapatkan seorang muslim apabila dalam berbusana sesuai dengan syariat Islam, salah satunya ialah jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak hanya berpakaian takwa saja, cadar juga merupakan sunah bagi muslimah yang haram hukumnya jika dihina dan wajib untuk menghormatinya.

Namun, dulu higga saat ini cadar (niqab) menjadi buah bibir masyarakat, memang belakangan ini pakaian takwa banyak diminati dan seolah-olah menjadi tren masa kini. Dan anehnya di beberapa universitas yang berlandaskan ajaran Islam ada yang melarang menggunakannya. Banyak yang beranggapan cadar identik dengan budaya Arab, menyeramkan, bahkan ada yang menyebutnya teroris. Lantas bagaimana dengan wanita-wanita bercadar yang memiliki tujuan mulia untuk mendapatkan rida Allah Subhanahu Wa Taala dengan cara tidak mengumbar kecantikannya? Apakah mereka pantas dicap sebagai seorang teroris?

Kain selembar yang dipakai di wajah mereka tersebut berujuan untuk lebih menjaga kecantikan mereka dari pandangan orang-orang yang bukan mahram mereka. Mereka hanya tidak ingin kecantikan mereka mendatangkan dosa dan jadi fitnah dunia. Bukankah ini tujuan yang mulia? Ditambah lagi setiap individu berhak menentukan kehidupan mereka asalkan tidak mengganggu orang lain.

Dalam Alquran surah An-Nur ayat 30-31 telah dijelaskan, bahwasannya Allah Subhanahu Wa Taala berfirman ynang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki beriman: “Hendaknya mereka merendahkan pandangan mereka dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaknya mereka menutup kain kudung kedadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau anak lelaki mereka, atau anak lelaki suami mereka atau saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengetahui tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar memelihara auratnya dan menjaga pandangannya dari apa yang nampak, tapi kenapa masih banyak orang-orang yang beranggapan jika cadar dipakai wanita muslimah dianggap sebagai perendahan baginya? Pendapat tersebut tak hanya dianggap oleh non muslim, bahkan muslim pun banyak yang beranggapan seperti itu. Cadar dianggap sebagai tanda terorisme. Kurangnya ilmu agama yang dimiliki merupakan salah satu penyebabnya. Sungguh sangat disayangkan jika seorang muslim beranggapan seperti itu. Tak hanya cadar, gamis, peci dan celana di atas mata kaki menjadi hal sensitif di tanah air terutama di ibu kota.

Kita sebagai masyarakat jangan mudah terkena tipu muslihat oleh oknum yang berniat untuk memecahbelahkan Islam dan mengadu domba umat beragama di tanah air. Karena sudah sangat jelas, contohnya kejadian pemboman di tiga titik gereja di Surabaya yang lalu. Itu merupakan salah satu cara mereka agar umat beragama di Indonesia terpecah belah.

Maka dari itu kita sebagai masyarakat bijaksanalah ketika melihat sesuatu yang berbeda di sekitarmu dan janganlah menghakimi mereka jika mereka berbeda. Dan sebagai seorang yang berpendidikan jangan menghakimi seseorang berdasarkan penampilannya, karena belum tentu cadar menunjukan jati diri seorang teroris. Serta kita tidak pernah tahu apa alasan di balik wanita memakai cadar. Saya tidak memakai cadar tapi secara pribadi sangat dekat dengan mereka bahkan sahabat saya seorang wanita bercadar. Dan saya sangat menghormati cadar yang dipakai wanita muslimah dan sangat kagum dengan diri mereka.

Editor: Rizki Audina

Latest articles

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...

Satgas Covid-19 Jabarkan Tingkat Kesembuhan Semakin Meningkat

Medan, Dinamika Online -Dilansir dari laman resmi Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menjabarkan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 dalam seminggu terakhir. Tercatat pertanggal 22 September, jumlah...

Addin 322: Bersahabat dengan Al-Qur’an

Penulis: Rafika Hayati Dalimunthe Al-Qur’an adalah kitab mulia yang diturunkan Allah subḥānahu wa ta’āla kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan menjadi tuntunan serta pedoman...

SEMA FSH Helat Diskusi Bedakan Fakta dan Hoaks

Medan, Dinamika Online – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Syariah Dan Hukum (FSH) mengadakan diskusi media dengan tema "Membedakan Fakta Dan Hoaks". Pemateri pelatihan ini...