Knalpot Racing Kok Ditilang? Ternyata Ini Alasannya!

(Foto/Ilustrasi/Freepik)

Penulis: Ahmad Fadhlan

“Mberrr…” Begitulah kira-kira suara yang kita dengar dari motor matik yang knalpotnya sudah dimodifikasi suka-suka. Kamu risih dengan suaranya? Apalagi kalau tetangga kita punya yang seperti itu, rasanya sangat menjengkelkan ya, dan ingin melampiaskan rasa kesal dengan mengeluarkan kata-kata.

Ngomong-ngomong soal knalpot, ternyata benda yang berfungsi sebagai saluran gas buang ini berasal dari Bahasa Belanda, lho. Melansir dari kumparan.com, rupanya knalpot merupakan serapan kata ‘knalpijp kapot’ atau pipa pembuangan dalam Bahasa Belanda. Pemerhati sejarah kolonial belanda, Lilie Suratminto mengatakan, kata tersebut kemudian disesuaikan dengan pelafalan orang Indonesia, dari ‘knalpijp kapot menjadi knalpot.

Selain sebagai saluran akhir dari sisa pembakaran, ternyata ada fungsi, yaitu sebagai peredam suara dari bisingnya proses pembakaran di ruang bakar. Menurut KBBI, knalpot adalah bagian motor berbentuk pipa panjang yang berfungsi meredam bunyi letupan tempat saluran buangan gas. Jadi, fungsinya adalah meredam bunyi, bukan hanya sekadar saluran pipa ke belakang agar kaki kita tidak panas, hehe.

Setelah melewati empat langkah proses pembakaran, yaitu hisap, kompresi, tenaga, dan buang, hasil sisa pembakaran haruslah dibuang agar proses pembakaran berjalan dengan lancar. Di bagian ini pula sang pengemudi bisa mengambil kesempatan untuk tampil beda, yaitu mengubah bentuk jalan keluar gas buangnya agar bersuara keras. Biasa disebut knalpot racing atau aftermarket.

Memakai barang aftermarket untuk modifikasi kendaraan baik untuk peningkatan performa atau pun tampilan bukanlah hal yang dilarang kok. Tetapi, ada hal-hal yang harus kita perhatikan dalam memodifikasi kendaraan kesayangan kita. Misal; jika ingin mengubah spesifikasi mesin dan warna motor, pastikan juga kalian mengubahnya di STNK. Namun, untuk knalpot ini benar-benar tidak boleh, ya.

Kebisingan knalpot ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 7 tahun 2009. Dalam aturan tersebut dijelaskan, bahwa tingkatan kebisingan untuk motor kapasitas 80-175cc adalah maksimal 83 dB dan di atas 175cc maksimal 80 dB. (dB= Decibe/satuan keras suara).

Sebelum mengklaim bahwa knalpot aftermarket yang dipakai tidak terlalu bising, mari pahami aturan berikut. Di UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) berisi: “Setiap pengendara sepeda motor yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan seperti; spion, lampu utama, lampu rem, klakson, pengukur kecepatan, dan knalpot dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp250.000 (Pasal 285 ayat 1).

Bisa disimpulkan segala bentuk dan jenis suara apapun dari knalpot selain bawaan standar pabrikan itu tidak boleh berlalu lintas di jalan raya. Mungkin di luar negeri ada yang membolehkan memakai knalpot aftermarket dengan syarat harus tersertifikasi dan berlisensi,

Jadi, sobat kampus memilih pakai knalpot standar atau aftermarket nih? Itu kembali ke diri masing-masing ya. Saran dari penulis, kita patuhi saja deh aturan hukum yang berlaku di negara tempat kita tinggal, pun demi kenyamanan kita bersama.

 

Editor: Nurul Liza Nasution