Foto: Internet

Penulis: Tumbularani

Sejak kecil kita telah dikenalkan dengan sejarah. Baik itu sejarah bangsa Indonesia, asal mula suatu tempat, ataupun sejarah lainnya. Bahkan kita terlalu sering membaca buku-buku sejarah, khususnya sejarah bangsa Indonesia mengenai kerajaan-kerajaan, zaman penjajahan, nama-nama tokoh yang berpengaruh saat itu atau lain sebagainya. Selain itu  kita juga diharuskan untuk menghapal nama-nama tokoh, tahun, bulan dan tanggal kelahiran dan wafatnya.

Dengan mudah dan bangga kita menyebutkan bahwa tanggal 21 April adalah hari Kartini, bahkan kita bisa menjelaskan dan menguraikan tentang perjuangan, pengorbanan, hingga karya-karya beliau dengan baik. Sayangnya, mempelajari sejarah mereka sering kali lebih di prioritaskan dari pada mempelajari sejarah Islam.

“Loh, bukannya mempelajari sejarah itu penting? Kita juga harus tau sejarah bangsa kita? Kita juga harus mengenang jasa-jasa para pahlawan kita? Jangan meremehkan sejarah!” Bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan ini.

Sebagai pemuda generasi Islam kita juga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan pertanyaan yang sama. “Loh, bukannya mempelajari agama Islam juga penting? Kita juga harus tahu sejarah agama Islam? Kita juga harus mengenang jasa para sahabat yang memperjuangkan Islam? Jangan meremehkan sejarah Islam!

Apakah kalian bisa menyebutkan tanggal dan tahun berapa penaklukan kota Makkah? Bisakah kalian menyebutkan siapa saja orang yang pertama kali masuk Islam? Atau mampukah kalian menceritakan perjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah? Atau berkisah tentang perang-perang yang terjadi di masa para Rasul dan Sahabat?

Laa haula wa laa quwaata illa billah

Jangan berbicara penting atau tidaknya! Tapi jawablah dengan jujur, manakah yang jauh lebih penting, mempelajari sejarah Islam ataukah sejarah-sejarah lainnya? tolong jawab dengan jujur pertanyaan ini, “apakah sejarah Islam telah cukup anda pelajari dan diajarkan kepada anak-anak kita?

Sangat disayangkan, kita sebagai penerus agama Islam harusnya lebih peduli terhadap agama kita dengan rajin membaca sejarah agama Islam, bukan sejarah lain.

Jika ditarik kebelakang. Sejak anda berada di Sekolah Dasar hingga saat ini, sudah sebanyak apa anda mempelajari sejarah? Pasti banyak bukan? Adakah diantara sejarah-sejarah yang kalian pelajari salah satunya mengenai sejarah Islam? Lalu bisakah kalian menceritakan kembali beberapa sejarah Islam tersebut?

Sebagai seorang Muslim kita terlalu sibuk membaca sejarah-sejarah lain dibandingkan sejarah Islam. Kita mengetahui banyak sejarah-sejarah lain sedangkan kita tidak tahu sejarah agama kita sendiri? Memalukan bukan?

Dan ternyata kesedihan tidak berhenti disitu. Sebagian generasi Islam sangat tertarik untuk membaca dan mempelajari sejarah-sejarah lain. Cerita-cerita kuno zaman Romawi, dongeng dewa-dewa Yunani, kisah-kisah lama benua Eropa, dan lain sebagainya.

Yang ingin saya tanyakan adalah “Itukah sejarahmu? Itukah kebanggaanmu? Itukah wawasanmu? Itukah pengetahuanmu? Dan itukah jati dirimu? Sekali lagi saya tegaskan, itukah sejarahmu?”

Saya tidak katakan bahwa mempelajari sejarah lain tidak penting. Hanya saja saya ingin membagi sudut pandang anda tentang sesuatu. Disaat kita sibuk mempelajari sejarah-sejarah lain, lalu siapakah yang akan mempelajari sejarah agama Islam? Siapakah yang akan menceritakan kembali sejarah-sejarah agama Islam kepada generasi selanjutnya? Apakah anda mau generasi Islam selanjutnya tidak mengetahui dan mengenal sejarah agama mereka sendiri?

Mulai dari sekarang, cobalah lebih peduli terhadap sejarah agama Islam. Boleh membaca sejarah lain tapi jangan lupa membaca sejarah agama Islam. Boleh mempelajari sejarah lain, tapi dahulukan sejarah agama Islam.

Buku-buku sejarah telah menanti anda untuk di baca! Bukan buku sejarah kaleng-kaleng, dan bukan buku sejarah-sejarah lain. Tetapi buku sejarah yang akan membuat kita semangat beribadah dan mampu meningkatkan ketakwaan serta kecintaan kita kepada agama Islam.

 Editor: Atika Andayani