Foto: TechnoGIS Indonesia

Penulis: Nurul Liza Nasution

Horas Medan!

Siapa sih yang tidak tahu Kota Medan, kota yang terkenal memiliki icon-icon menarik di setiap daerahnya? Tentu kita semua sudah tahu bahwa Medan memiliki banyak tempat wisata dan gedung bersejarah yang tak kalah menarik dengan kota-kota yang ada di Indonesia, seperti Istana Maimoon. Istana Maimoon yang terletak di Jalan Sultan Ma’moen Al Rasyid, No.66, AUR, Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara ini, dibangun pada 1887 silam.

Medan adalah Ibu Kota dari Provinsi Sumatera Utara yang kerap disingkat Sumut. Medan merupakan kota kelahiranku yang juga merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Selain itu, pria dan wanita di Kota Medan juga terkenal dengan wajah yang rupawan.

Semua orang yang tinggal di Indonesia tentu sudah tahu dan tidak asing lagi dengan logat atau gaya bahasa orang Medan yang terkesan kasar dengan penyebutan lafal huruf “e” kasar. Tapi, tidak semua orang yang tinggal di Medan bergaya bahasa seperti itu, namun terkadang kita selalu beranggapan seperti itu dikarenakan pemeran tokoh dalam filim yang berasal dari Kota Medan selalu berlogat Medan dengan lafal “e” kasarnya.

Hal ini memang tidak dapat dipungkiri, karena Kota Medan juga banyak dihuni oleh masyarakat yang bersukukan batak. Pernyataan seperti ini tentu memicu pemikiran orang asing bahwa ucapan masyakat Kota Medan terkesan marah-marah. Padahal itu hanya sebuah kebiasaan masyarakat di kota ini.

Selanjutnya, meskipun masyarakat Kota Medan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, namun tidak semua sama dengan kaidah Bahasa Indonesia yang sesungguhnya. Contoh sederhananya adalah:

  1. Kata “pasar” (pasar tradisional) diucapkan dengan kata “pajak”
  2. Kata “motor” diucapkan dengan kata “kereta”
  3. Kata “mobil” diucapkan dengan kata “motor”
  4. Kata “aku” diucapkan dengan kata “awak”
  5. Kata “kamu” atau “kau” diucapkan dengan kata “ko”, dan lainnya.

Selain banyaknya kata keseharian yang diucapkan tidak sesuai kamus Bahasa Indonesia, orang yang tinggal di Medan biasanya bukan termasuk tipe orang yang bersifat pendiam.

Sisi lain dari Kota Medan adalah wajah orang-orangnya yang menawan, bisa diambil contoh seorang artis Choky Sitohang, sosok pria rupawan yang berdarah Medan. Bahkan, Medan semakin dikenal oleh masyarakat di daerah karena seorang penyanyi bernama Judika, pria berdarah Batak ini berhasil meraih Juara I pada ajang Indonesian Idol pada tahun 2005.

Bagi masyarakat luar yang berjalan-jalan ke kota ini, tidak akan terasa lengkap tanpa mencoba makanan khas Kota Medan yaitu Bika Ambon. Sebagian masyarakat yang mendengar nama makanan ini, pasti beranggapan bahwa makanan itu berasal dari Ambon, padahal tidak. Makanan khas Kota Medan yang satu ini wajib dinikmati para pelancong, sebab akses untuk membelinya sangat mudah karena tersebar di setiap toko roti.

Tidak hanya Bika Ambon, Bolu Meranti juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Medan. Bolu Meranti ini untuk letak tokonya ada di Jalan Sisingamangaraja No.19 B dengan varian harga mulai dari Rp65.000. Selain itu, cita rasa yang akan menggoyang lidah dapat dinikmati yakni buah Durian, buah yang menjadi andalan kota ini.

Bagi pelancong muslim dapat melaksanakan ibadah di Masjid Raya Medan yang juga menjadi icon kota ini, letaknya tidak jauh dari Istana Maimoon tepatnya di Jalan Sisingamangajara No.61. Dan bagi pelancong non muslim, tempat ini juga bisa dikunjungi sebagai tempat bersejarah. Heritage lainnya ada, Vihara Maha Vira Maitreya, Graha Maria Annai Valangkanni, Mansion Tjong A Fie, dan Pagoda Taman Alam Lumbini.

Bagi kamu yang suka dengan suasana yang tenang nan indah, Medan dan sekitarnya juga mempunyai tempat yang sesuai dengan keinginan pelancong seperti pemandangan indah Danau Toba, Pulau Tomok, Berastagi, Air Terjun Dua Warna, dan masih banyak pemandian-pemandian sekaligus tempat wisata dengan airnya yang jernih nan bersih.

Medan juga mempunya lokasi yang sesuai dengan hobi pelancong dengan hal-hal yang ekstrim diantaranya bermain dengan buaya yang dapat dikunjungi di Penangkaran Buaya Taman Asam Kumbang. Kamu bisa kunjungi tempat ini, bagaimana? Berani?

Editor:  Shofiatul Husna Lubis