Hari Bahasa Ibu Internasional dan Tragedinya

- Advertisement -

(Foto/Universitas Malahayati)

Penulis: Rizki Audina

Tanggal 21 Februari di setiap tahunnya, diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Melansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, peringatan ini ditetapkan pada tanggal 17 November 1999 berdasarkan keputusan UNESCO dalam sidang yang disetujui oleh 188 negara. Di balik keputusan tersebut, terdapat sebuah tragedi berdarah, yaitu aksi demonstrasi besar yang dilakukan oleh Mahasiswa Universitas Dhaka, Bangladesh.

- Advertisement -

Dilansir dari Kompas.com yang mengutip dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peringatan Hari Bahasa Ibu dirayakan oleh rakyat Bangladesh. Dahulu, India, Pakistan, dan Bangladesh dijajah oleh Inggris. Dan pada tahun 1947, India memerdekakan dirinya. Kemudian, Pakistan pun turut membentuk negaranya sendiri. Pakistan terbagi menjadi dua negara bagian, Bengal Barat (Pakistan) dan Bengal Timur (Bangladesh). Kedua negara bagian ini sangat berbeda budaya dan bahasanya.

Hingga di tahun 1948, Pemerintah Pakistan menetapkan Urdu sebagai satu-satunya bahasa resmi Pakistan. Padahal, Bengal adalah bahasa umum yang digunakan saat itu, khususnya di di Bengal Timur. Protes pun tak dapat dielakkan, rakyat Bengal Timur ingin bahasa ibunya, Bengal, dijadikan sebagai salah satu bahasa nasional selain bahasa Urdu. Pemerintah Pakistan membalas tindakan protes tersebut dengan tekanan, melarang rakyatnya berkumpul dan berunjuk rasa.

Amarah rakyat makin memuncak, mahasiswa dan rakyat sipil menggelar unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 21 Februari 1952 dan memakan banyak korban jiwa. Namun, untungnya perjuangan mereka tidak sia-sia. Tahun 1956, pemerintah pun mengakui bahasa Bengal. Selain memakan korban jiwa, aksi tersebut juga berujung pada terpisahnya Pakistan Timur, memerdekakan diri menjadi negara Bangladesh di tahun 1971.

Rafiqul Islam, seorang warga Bangladesh mengusulkan untuk diadakannya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional kepada Sekjen PBB pada tanggal 9 Januari 1998. Usulan tersebut diterima dan disahkan, maka resmilah tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional untuk mengenang peristiwa berdarah di tahun 1952 itu.

Editor : Nurul Liza Nasution

Share article

Latest articles