Game Itu Buruk? Semua Tergantung Kamu

0
Ilustrasi bermain game. (foto/ilustrasi/pixabay)

Penulis: Cut Syamsidar

Kalau memang kamu suka permainan, silahkan bermainlah,tapi ingat sampai kapan bermainmain?

Sejak tahun 2016 hingga tahun 2020, digitalisasi semakin berkembang dan mewabah  di seluruh dunia. Begitu juga dengan aplikasi-aplikasi yang kini punya fungsi yang banyak membantu kehidupan sehari-harinya manusia. Gawai, bukan lagi hal yang tidak mungkin digunakan oleh anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia. Zaman juga sudah sangat berubah pesat, kehidupan sosial bisa diperoleh dari mana saja contohnya dari aplikasi seperti Instagram, Twitter, Facebook dan masih banyak lagi termasuk Game Online.

Berbicara tentang gim, hal yang sudah dari dulu mewabah ini tak henti-hentinya menarik hati para penikmatnya. Bahkan, semakin kesini gim semakin menguasai manusia dari lelaki hingga perempuan, dari usia dini hingga lanjut usia juga dari para pekerja keras hingga pengangguran. Di era modren ini gim juga bukan hanya hiburan untuk menuai kepuasan batin saja tetapi, bisa digunakan juga sebagai wadah mencari jodoh dan menemukan teman baru seperti Hago.

Berkat gim, banyak oarang tua yang tak henti-tentinya marah dengan anaknya, banyak pasangan yang cerai berai, banyak hubungan pertemanan yang rusak, pekerjaaan yang terabaikan, juga menimbulkan rasa malas untuk bekerja bahkan sekadar belajar dan efek-efek negatif lainnya. Oleh karena itu, sebagai manusia yang menerima bentuk perubahan, kita harus bisa membentengi diri kita dari sesuatu yang tak ada habisnya seperti gim tersebut.

Baca juga: Kekhawatiran Terhadap Pemimpin Tak Beragama

Selain menimbulkan konflik sosial dan psikologis, gim juga mampu meenimbulkan banyak prestasi baik tingkat lokal ataupun nasional. Contohnya pada Desember lalu, telah digelar Gaming Award di Balai Kartini Jakarta, Gaming Award ini digelar untuk memberi prestasi bagi para gamers di indonesia. Dan terjumlah ada sebanyak 11 penghargaan yang diperoleh gamers indonesia, cukup menarik bukan?

Setiap segala sesuatu memang mempunyai dampak buruk dan baik. Tergantung pada diri kita sendiri. Setiap yang berlebihan itu pasti tidak baik. Maka, bentengi diri kita dengan hal yang baik-baik dan sesuai porsinya artinya tidak berlebih-lebihan dalam melakukannya.

Editor: Amelia Pratiwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.