Fenomena Badut Cilik dari Sudut Pandang Trauma Healing

- Advertisement -

(Foto: Internet https://digstraksi.com)

Penulis: M. Rio Fani

Tidak hanya fenomena manusia perak atau ‘Silver Man’ yang sering mencuri perhatian publik, fenomena Badut Cilik juga menjadi buah pembicaraan orang-orang dan cara bagi sebagian orang untuk mencari sudut pandang berbeda dari kehidupan sosial. Tentunya, tidak ada yang ingin dilahirkan dalam keadaan ekonomi yang sulit, semua manusia ingin hidup bebas dengan kebutuhan yang tercukupi. Namun di Medan, fenomena badut cilik dengan kostum ‘raksasa’-nya sering merajalela di berbagai wilayah keramaian.

- Advertisement -

Pada Majalah LPM Dinamika edisi 54, pada rubrik Reportase Utama, beberapa kru sempat melakukan wawancara kepada pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kota Medan tentang ‘aksi bertahan hidup’ yang dilakukan oleh kelompok manusia perak. Hal serupa juga menjadi fokus yang sama soal banyaknya badut cilik yang mencari cara untuk menghasilkan keuangan bagi keluarganya.

Dalam wawancara tersebut, Kepala Dinsos Kota Medan, Ir. H. Endar Sutan Lubis, M.Si menyebutkan, bahwa pihaknya sering melakukan peringatan terhadap kelompok manusia silver hingga badut cilik yang kerap melakukan aktivitasnya sebagai penghibur jalanan. Hal ini tentu membuat badut-badut cilik adalah sebuah fenomena yang telah menjadi perhatian pemerintah.

Namun, apakah fenomena ini pantas dibudidayakan sebagai bentuk kerja keras masyarakat yang menginginkan penghasilan instan? Tentu jawabannya tidak. Menurut pakar kesehatan, Dr. Sujatha Dorai Manickam fenomena badut tersebut sebenarnya digunakan untuk memberikan trauma healing bagi anak-anak sebagai cara untuk memberikan keceriaan. Dokter yang bekerja di Hospital Kuala Lumpur (HKL) itu menjelaskan bahwa awalnya langkah itu disebut ‘Dokter Badut’ untuk menghibur pasien yang mayoritasnya adalah anak-anak.

Ia mengatakan bahwa melakukan jenaka kepada pasien untuk membina keyakinan dan kepercayaan diri kepada pasien agar kembali bersemangat untuk memberikan kesembuhan bagi diri mereka. 

Seperti film Patch Adams pada 1998 yang menceritakan tentang seorang dokter membantu memulihkan pasien, serta memberikan tujuan hidup baru kepada pasiennya. Ia memilih menjadi dokter dengan sikap jenaka atau konyol, layaknya seorang badut agar sang pasien bersikap baik dan memiliki semangat hidup. Hal itu kemudian menjadi inspirasi bagi banyak dokter untuk memberikan bantuan kesehatan mental agar pasien mereka yang merasa ingin mengakhiri hidup, memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri mereka sendiri.

Kembali lagi ke topik, apakah fenomena badut cilik patut diapresiasi atau kita setuju hal itu menjadi jalan keluar masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup? Tentu jawaban itu hanya ada pada diri kita sendiri sebagai mahluk sosial untuk menilainya. Jika hiburan yang diberikan oleh badut kecil menjadi sarana baik menurut kita, maka senyuman adalah hasil yang dituai dari kerja keras mereka. Lantas, mari saling memberi untuk melihat dunia ini lebih baik lagi.

Editor: Amelia Pratiwi

Share article

Latest articles