Di mata Negara, Hukum ‘Tak Masuk Akal’ Dipertontonkan

Ilustrator: Ditanti Chica Novri

Penulis: M. Rio Fani

Keadilan terhadap hukum kembali dipertontonkan dengan hal-hal yang tidak masuk diakal. Terlepas dari hukuman yang dianggap tidak setara dengan perbuatan yang dilakukan. Serupa halnya dengan kasus yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Seperti yang diketahui, kedua pelaku penyiram air keras terhadap Novel yang diadili hanya mendapatkan hukuman ‘ringan’ atau ‘tak masuk akal’. Tertuang dalam Pasal 351 dan Pasal 355 KHUP. Seharusnya kasus tersebut telah masuk dalam kategori penganiayaan berat dan dinilai sebagai pembunuhan berencana.

Sayangnya, hukum kembali tidak sebanding dengan perbuatan jika kita memiliki koneksi lebih jauh atau orang-orang sering menyebutnya ‘orang dalam’. Bahkan, Transparency  Internasional Indonesia (TII) menilai hukuman 1 tahun penjara bagi terdakwa RB dan RKM sebagai pelaku penyiraman kepada Novel terlalu rendah.

Jika menelisik lebih dalam menyadur dari laman DetikNews, Sabtu (13/6), kasus tersebut awalnya terjadi pada 11 April 2017. Ketika itu, Novel baru saja pulang dari masjid setelah salat subuh dan kedua pelaku mendekat lalu menyiramkannya air keras. Lalu, 12 April 2017 siraman air keras itu mengharuskan Novel diterbangkan ke Singapura untuk menjalani perawatan intensif.

Setelah itu, pada 31 Juli 2017 setelah memberikan keterangan, polisi meminta Novel melapor dan mengirimkan tim untuk komunikasi dan Kapolri saat itu, Tito Karnavian melaporkan sketsa dan perkembangan kasus kepada Presiden Joko Widodo. 24 November 2017, dua sketsa baru wajah pelaku ditunjukkan Kapolda Metro Jaya yang diperoleh dari dua saksi. Inspektur Kapolda Metro Jaya saat itu adalah Jenderal Indham Aziz yang saat ini menjabat sebagai Kapolri.

9 Maret 2018, Komnas HAM membentuk tim penyelidikan terhadap kasus Novel Baswedan. 27 Juli 2018, setelah absen menjalani proses perawatan mata, Novel kembali aktif di KPK dan mengaku akan bekerja semampunya. 21 Desember 2018, Tim Pemantau Kasus Novel merekomendasikan pembentukan tim gabungan. 11 Januari 2019, tim gabungan akhirnya dibentuk.

11 April 2019, tim gabungan itu belum bisa menemukan pelaku dan motif penyerangan terhadap Novel Baswedan. 26 Desember 2019, polisi menyatakan telah berhasil mengamankan kedua pelaku penyeran Novel. 11 Juni 2019, sidang tuntutan digelar dan keduanya terbukti bersalah. Namun, pada beberapa waktu lalu, majelis jaksa dari Pengadilan Jakarta Utara memutuskan bahwa kedua pelaku dijatuhi hukuman penjara 1 tahun.

Novel Baswedan bahkan menyebut proses persidangan berjalan dengan aneh. Sementara itu, jika kita begeser ke arah timur, ada beberapa mahasiswa yang dituntut belasan tahun dari aksi yang dianggap makar. Padahal, di balik itu semua sebagai mahasiswa demokrasi menjadi landasan untuk menyuarakan suara, aspirasi, seperti yang dilaporkan Kumparan.com, Sabtu (13/6).

Mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih, Ferry Kombo yang menjadi salah satu dari ketujuh mahasiswa itu pun mengungkapkan kekecewaaannya dengan tuntutan berat dari JPU yang dinilai tak sesuai fakta, kata dia kepada awak media seperti dilansir dari Suara.com, Sabtu (13/6). Lantas apa yang kita simak saat ini adalah hukum ‘tak masuk akal’ yang kembali dipertontonkan ke arah mata publik. Diskriminasi terhadap orang-orang minoritas pun kembali dipertontonkan.

Sebenarnya apa yang dicari? Hukum di tanah air saat ini tidak sesuai dengan Sila ke-5 tentang keadilan yang bisa didapatkan semua rakyat Indonesia. Pemimpin, pejabat, bahkan mereka yang memiliki tahta di atas dukungan masyarakat pun masih tutup telinga hingga pada batas waktu yang tidak ditentukan. Sedangkan kita, hanya setitik langkah yang tidak menjadi kepedulian bagi mereka yang berhak menguasai segalanya.

Editor : Khairatun Hisan

Latest articles

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...

UIN SU Wisudakan 649 Mahasiswa

Medan, Dinamika Online - UIN SU mewisudakan sebanyak 649 mahasiswa pada sidang senat terbuka Wisuda ke-73. Prosesi ini berlangsung di Aula Utama Kampus II...