Depresi pada Remaja

Ilustrasi wanita yang mengalami psikoterapi penyembuhan diri, pemulihan, karena merasa tidak tuntas rehabilitasi mental dalam ilustrasi vektor datar. (Foto/Ilustrasi/Freepik)

Penulis : Putri Anggriani

Semua orang pasti pernah mengalami masalah dalam hidupnya, mau itu masalah kecil ataupun masalah besar, yang mungkin akan berimbas pada perasaan dan pikirannya yang jika tidak dikendalikan maka akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri seperti terjadinya depresi.

Depresi sendiri ialah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli terhadap lingkungan maupun dirinya sendiri. Seseorang biasanya dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau merasa bahwa dirinya tak berharga. Dan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut dan tidak mendapatkan penanganan, maka hal ini bisa menyebabkan penurunan produktivitas kerja, gangguan hubungan sosial, dan parahnya dapat memicu tindakan untuk bunuh diri.

Depresi dapat menyerang siapa saja bukan hanya orang dewasa tetapi anak remaja juga acap kali merasakannya. Remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati (mood). Itulah sebabnya remaja yang terlihat murung atau sedih sering dianggap hal biasa, misalnya karena patah hati, mendapatkan nilai jelek, atau merasa kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tua, merasa sendirian karena tidak memiliki teman, dan lainnya. Padahal sebenarnya hal yang dianggap biasa itu bisa jadi sudah masuk dalam gejala depresi pada remaja. Dan jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlanjut dan menyebabkan munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri.

Faktor pemicu dan gejala depresi pada remaja

Depresi pada remaja bisa dipicu oleh beragam faktor, mulai dari lingkungannya seperti ia mendapatkan tindakan bullying, perubahan hormon, pengalaman traumatis, hingga genetik atau keturunan.

Biasanya, depresi pada remaja menimbulkan keluhan dan gejala berupa :

  1. Mudah menangis, tersinggung dan marah karena hal –hal yang sederhana.
  2. Kehilangan minat dalam melakukan aktivitas sehari- hari.
  3. Mudah menyalahkan diri sendiri.
  4. Sulit berkonsentrasi, sering bolos, dan nilai pelajarannya turun.
  5. Sulit tidur atau insomnia.
  6. Mudah merasa lelah.
  7. Sering sakit kepala atau sakit perut.
  8. Tidak nafsu makan atau justru makan dengan berlebihan.

Dilansir dari Kumparan, ada tujuh dari 10 remaja teridentifikasi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Fakta miris ini ditemukan lewat penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center Amerika Serikat. Beragam masalah kejiwaan pada remaja sudah ditemukan sejak usia 14 tahun.

Dan yang tidak kalah menyedihkan ialah hasil dari penelitian pada tahun 2019 lebih dari 30% dari 914 siswa di Jakarta terkena depresi. Bahkan 16.6% di antaranya mengaku sempat berniat untuk bunuh diri. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Pakar Badan Kesehatan Jiwa (Bakeswa) Indonesia Dr. Nova Riyanti Yusuf. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Jepang dari 250 kasus bunuh diri, seperempatnya dipicu masalah keluarga dan bullying.

Depresi pada remaja lebih sulit untuk terdeteksi karena remaja memang sering mengalami perubahan suasana hati. Oleh karena itu, orang tua, keluarga, guru harus lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja. Jika perubahan mood atau perilaku remaja terlihat berlangsung lama dan sampai mengganggu aktivitasnya, sebaikanya remaja tersebut segera dibawa untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Dan agar terhindar dari depresi, para remaja mestinya juga harus aware dengan perasaan yang terasa dalam hati. Jika seorang remaja sering merasa kesepian, tidak diperhatikan atau disayangi, merasa tidak berharga, merasa sendiri, bahkan tertolak oleh lingkungannya, segera cari tempat curhat yang aman dan dapat dipercaya. Seperti orang tua, kakak, guru ataupun sahabat. sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an surah Al- Baqarah: 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatannya) yang dikerjakannya.”  (QS. Al-Baqarah: 286 )

Tingkatkanlah nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan senantiasa menenangkan hati dengan membaca Al-Qur’an, curhat kepada-Nya lewat doa–doa kita ketika salat, dan perbanyaklah mengingat Allah dengan zikir dan yakin serta percayalah bahwa kita tidak sendiri. Allah selalu bersama kita dan ketahuilah bahwa Allah itu dekat. Dan percaya serta yakinlah akan selalu ada jalan keluar dari setiap masalah dan sebagaimana pula yang di jelaskan di dalam Al-Qur’an pada surah Al-Baqarah: 153, “Hai orang–orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang–orang yang sabar.”   (Q.S Al-Baqarah : 153 )

Editor : Ayu Wulandari Hasibuan