Bencana dan Kriminalitas di Negeriku

- Advertisement -

(Foto/Ilustrasi/Freepik)

Penulis: Siska Ramayani Damanik

Tahun 2021 yang diharapkan banyak orang sebagai tahun yang lebih baik dari sebelumnya ternyata tidak sepenuhnya nyata terjadi. Masih berada di awal tahun, negara Indonesia yang semakin bengkak akan jumlah kasus positif Covid-19 harus menerima diri dihujani berbagai bencana sana-sini. Mulai dari kecelakaan pesawat yang memakan banyak korban jiwa, disusul gempa, banjir, longsor, gunung meletus dari berbagai daerah. 

- Advertisement -

Selain kabar dari bencana alam, awal tahun di Indonesia juga dipenuhi dengan kejadian-kejadian kriminal. Banyak aksi perampokan yang meresahkan terjadi. Dilansir dari laman Kompas.com, tercatat kasus-kasus kriminal di Indonesia meningkat 7,04 persen.  

Jika disimak, isi pemberitaan media awal tahun ini dipenuhi oleh isu-isu penangkapan pelaku kriminal. Mulai dari 7 Januari perihal penangkapan pelaku perampokan sekaligus pemerkosaan di Kota Lubuklinggau, kemudian 25 Januari perihal penangkapan perampokan SPBU milik PT. Trical Langgeng Jaya, Semarang senilai Rp561 juta.  Disambung lagi penangkapan perihal perampokan di SPBU Denpasar dengan membawa uang Rp10 juta. 

Selain itu, perampokan juga liar terjadi di swalayan mini.  26 Januari polisi berhasil meringkus empat orang perampok sebuah swalayan di Tangerang Selatan. Selain membawa kabur Rp36 juta, perampok juga mengancam pegawai dengan senjata tajam. Kemudian, disusul 30 Januari perampokan terjadi di Bekasi dan membawa uang Rp46 juta. 

Tak hanya itu, kasus kriminal juga terjadi dalam skala keluarga. Kasus KDRT  masih terus bermunculan hingga awal tahun ini. 24 Januari, seorang istri di Nusa Tenggara Barat tewas dihabisi suaminya sendiri lantaran kebutuhan ekonomi. Akhir-akhir ini, 31 januari lalu seorang istri di Percut Sei Tuan, Sumatera Utara dibakar suaminya karena menegur si suami yang berselingkuh.

Sungguh memilukan ragam kejadian dan bencana silih berganti menerpa negeri ini. Dari sini seharusnya kita bisa belajar untuk muhasabah diri. Boleh jadi apa yang saat ini negeri kita alami adalah apa yang selama ini telah kita tanami, bukankah apa yang kita tanam pasti kita tuai sendiri?

Coba kita hitung sendiri, sudah berapa banyak sampah yang kita buang sembarang tempat? Sudah berapa banyak hutan yang kita tebas? Sudah berapa dalam perut bumi kita kikis? Sudah berapa banyak kita ciptakan polusi? Sudah berapa banyak sungai dan laut yang kita cemari? Bukankah perlakuan seperti itu yang sejak lama kita tanami? Wajar saja kalau bencana datang dari mana-mana sebab itulah hasil panen kita selama ini.

Begitu juga dengan kasus kriminalitas. Di samping sulitnya ekonomi sebab pandemi yang masih melanda bumi pertiwi, sepantasnya kita bisa menyesuaikan diri. Banyaknya jumlah korban PHK yang diakibatkan pandemi secara langsung meningkatkan angka pengangguran dan menambah tugas bagi para penguasa negeri.

Semua masyarakat dituntut kreatif agar tetap berpenghasilan walau di masa sulit. Bagi yang kreatif tentu bisa beradaptasi namun, bagi yang tidak memiliki rasa sabar otomatis lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang. Misalnya dengan merampok.

Dapat disimpulkan bahwa hati kita masih sempit dalam menyikapi situasi. Masyarakat kita masih terlalu nyaman dengan cara-cara instan dalam berpenghasilan. Tidak mau repot dalam inovasi sehingga bukan jumlah pengusaha yang bertambah tetapi jumlah perampok yang terus bertambah. Jika selalu begini yang rugi juga negeri. Sebagai masyarakat, apa kita hanya mampu menjadi perusuh di negeri sendiri? Mari kita jawab dalam hati.

Editor : Yaumi Sa’idah 

Share article

Latest articles