Ilustrasi : Ditanty Chicha Novri

Penulis : Dzulanda Shari Batubara

Teknologi dan manusia menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Teknologi yang semakin berkembang pesat menjadikan era informasi semakin mudah diakses berbagai lapisan masyarakat tanpa ada batasan waktu dan tempat. Salah satunya adalah smartphone.

Selain kemudahan akses, smartphone juga selalu tampil dengan model-model lebih stylish. Aplikasi yang dapat diinstal di dalamnya dapat membuat pengguna smartphone selalu update dengan berita-berita terkini.

Menurut survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia  (APJII) di tahun 2017 pengguna internet di Indonesia paling banyak menggunakan perangkat smartphone/tablet sebesar 44,16% sedangkan di tahun 2016  sebesar 47,6%. Pengunanya pun bervariasi mulai dari usia 13 tahun  hingga usia lanjut yaitu diatas 54 tahun.  Layanan akses yang di lakukan beragam mulai ber-social media hingga akses perbankan.

Namun, hal ini juga dapat menimbulkan dampak psikologis bagi individu, kelompok dan masyarakat. Baik itu perubahan perilaku dan kebiasaan baik itu sebelum maupun sesudah menggunakannya.

Apakah anda pernah atau bahkan sering mengalami seperti tak bisa jauh dari smartphone? Mungkin anda mengalami kondisi yang disebut dengan nomophobia atau no mobilephone-phobia. Dimana secara singkat maknanya adalah kepanikan yang besar dari seseorang manakala ia sulit untuk mengakses mobile phone-nya.

Salah satu tanda nomophobia yaitu merasa sangat cemas atau panik ketika baterai ponsel habis. Orang yang nomophobia akan terus menyalakan ponselnya sepanjang hari, sebentar-sebentar memeriksa ponsel, terus melakukan pengisian baterai, dan membawa ponsel itu ke mana pun, bahkan ketika ke kamar mandi.

Bahkan menurut sebuah penelitian (Arviani:2014) para responden mengecek smartphone-nya sebanyak 14 kali sehari. Dan (Natalia:2012) para responden lebih memilih smartphone-nya ketimbang hal lainnya jika terjadi sebuah kebakaran.

Istilah nomophobia bukan suatu istilah yang diagnostik yang resmi. Nomophobia juga belum resmi dikatakan sebagai gangguan kejiwaan. Namun menurut beberapa laporan penelitian yang ada di negara seperti Brazil,Turki,India dan Spanyol menunjukkan bahwa fenomena ini nyata ada dan merugikan.

Walaupun jika di kaji dari segi simtom-simtom nya, nomophobia lebih sesuai di golongkan sebagai fenomena kecanduan (addiction). Hal ini karena simtom-sintom yang di gambarkan  tercakup dalam nomophobia seperti ketakutan dan kecemasan ini lebih meyerupai gejala withdrawal (sakau) akibat adiksi.

Adiksi terjadi manakala suatu aktivitas atau zat menggantikan fungsi hormon yang membuat manusia merasa nyaman (dopamine) di otak. Dalam konteks ini, bila seseorang terus menerus mencari sumber ketenangan/kesenangan dari smartphone-nya otak akan belajar mengasosiasikannya. Jika hal ini terus berlanjut akan membahayakan baik itu untuk perindividu maupun kelompok masyarakat.

Jadi, alangkah baik jika kita menyikapinya dengan bijak. Dengan membuat phone-free zone atau phone-free times dimana maksudnya adalah memberikan baik itu ruang, waktu, dan keadaan dimana kita tidak bermain smartphone. Misal saat sedang makan bersama keluarga atau berkumpul dengan teman sekalipun. Dan bisa juga mendisplinkan diri membuat jadwal dalam mengecek dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap smartphone.

Editor : Nanda Septian