Media Sosial: Bisa Jadi Toxic atau Profit

Foto: Dok. Pribadi

Penulis: Asri Alviana

Media sosial dewasa ini tidak hanya lagi sebatas hiburan semata melainkan sudah beralih menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Layaknya pedang bermata dua, media sosial tentu punya dampak positif dan negatif yang ditentukan sendiri oleh penggunanya. Bagaimana cara kita menggunakan atau memanfaatkan media sosial sangat menentukan apa yang akan kita tuai dari fitur andalan era digital ini.

Sebelum membahas lebih lanjut, coba hitung ada berapa macam media sosial yang kamu punya dalam gawaimu, lalu berapa jam kamu menghabiskan waktu berselancar di media sosial? Pernahkah mencoba menghitungnya atau mengatur manajemen waktumu untuk bermedia sosial? Jika pernah, maka kamu termasuk orang yang beruntung, karena bisa memanajemen waktumu dalam bermedia sosial. Jika tidak pernah, coba mulai pikirkan dan hitung dari sekarang berapa besar waktu yang kamu berikan untuk media sosial.

Terlalu sering menggunakan media sosial bisa memberikan dampak negatif bahkan menjadi toxic bagi diri kita. Kecanduan media sosial dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, hal ini berdasarkan informasi yang dimuat dalam laman CNN Indonesia, mengenai studi baru yang menunjukkan bahwa media sosial berbahaya bagi orang dewasa. Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Mental Health and Addiction ini merupakan hasil kolaborasi peneliti Sujarwoto dari Universitas Brawijaya, Gindo Tampubolon dari University of Manchester dan Adi Cilik Pierewan dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Penelitian yang berjudul “A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia” ini menganalisis variabel instrumental data dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2014. Data itu didapat dengan menyurvei 22.423 orang yang berusia 20 tahun ke atas pada 9987 rumah tangga dan 297 kabupaten di Indonesia. Studi ini melihat pengaruh media sosial meliputi Facebook, Twitter, obrolan atau chat terhadap kesehatan mental orang dewasa di Indonesia. Hasil penelitian ini menyimpulkan penggunaan media sosial yang berlebihan berbahaya bagi kesehatan mental karena dapat menyebabkan depresi. Peningkatan penggunaan media sosial dikaitkan dengan peningkatan skor CES-D atau skala depresi pada seseorang sebesar 9 persen.

Sementara itu, berdasarkan data yang dikutip dari kumparan.com, media sosial juga sering kali membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, salah satu alasan kenapa media sosial membuat orang merasa terisolasi adalah karena faktor kompetisi. Ketika seseorang menelusuri media sosial, melihat kehidupan orang-orang lain di luar sana, maka dia memiliki kecenderungan untuk memberikan penilaian dan membandingkan diri sendiri terhadap orang-orang tersebut.

Sebuah riset, yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Houston dan Universitas Palo Alto asal AS pada Oktober 2014 lalu, memperlihatkan bagaimana kita membuat perbandingan tentang perasaan kita lebih baik atau lebih buruk terhadap postingan orang lain. Hasilnya, banyak pengguna merasa tidak puas dan percaya orang lain lebih baik dibandingkan dirinya. Peneliti percaya mereka yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial cenderung dapat memicu gejala depresi.

Ada banyak sekali gangguan mental yang disebabkan penggunaan media sosial yang tidak bijak dan berlebihan di antaranya Borderline Personality Disorder (BPD), Social Media Anxiety Disorder, Fear of Missing Out (FoMO Syndrome), Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan masih banyak lagi.

Kemudian, bagaimana cara agar media sosial memberikan profit atau keuntungan bagi kita? Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, di zaman sekarang ini juga ada banyak sekali orang yang telah menyadari sisi positif dari bermedia sosial dan menggunakannya dengan bijak. Bisa dengan cara menebarkan manfaat bagi orang di sekitarnya melalui konten-konten positif yang menginspirasi dan menambah wawasan orang lain, mengkampanyekan kebaikan atau bantuan sosial bagi yang membutuhkan, serta mengajak orang lain untuk ikut seta melakukan sesuatu yang berdampak positif,  mereka dikenal sebagai influencer.

Bahkan saat ini ada banyak sekali entrepeneur atau pebisnis yang menjadikan media sosial sebagai lahan memulai usahanya, dengan begitu melalui media sosial seseorang bisa menghasilkan uang. Media sosial memang menjadi lahan subur untuk mempromosikan sebuah usaha karena jangkauannya yang tidak terbatas dan target pasarnya yang luas. Lalu, ada para content creator yang memanfaatkan media sosial sebagai tempat berekspresi dan berkarya, mulai dari Instagram hingga Youtube.

Ingin mendapatkan toxic atau profit dari media sosial, pilihannya ada di tangan kita sendiri. Manajemen waktu, kreatifitas dan kesadaran akan kontrol diri menjadi faktor penting dalam sikap bijak bermedia sosial. Menghibur diri juga perlu, asal tidak berlebihan dan menjadi candu. Oleh karena itu, menjadi produktif melalui media sosial adalah pilihan bijak dalam menggunakan teknologi era digital ini.

Latest articles

RBM Adakan Coaching Beasiswa CIMB Niaga

Medan, Dinamika Online - Rumah Beasiswa Medan (RBM) mengadakan coaching beasiswa bersama CIMB Niaga. Kegiatan ini diadakan via aplikasi Google Meet mulai pukul 14.00...

HMJ HKI : Efektivitas HAM Dalam Perkembangan  Perilaku Anak

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum Keluarga Islam mengadakan seminar daring dengan tema “Efektivitas HAM dalam Perkembangan Perilaku Anak Terhadap Lingkungan”. Kegiatan...

Tumbuhkan Minat Literasi, KKN DR 48 UIN SU Adakan Lokakarya Nasional

Medan, Dinamika Online - Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN-DR) kelompok 48 UIN SU mengadakan lokakarya nasional kepenulisan buku saku dan panduan dengan tema...

Gunung Sinabung Erupsi Lagi, Kepala PVMBG: Masih Siaga Level III

Medan, Dinamika Online – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali mengalami erupsi pada Senin (10/8). Masyarakat dihebohkan dengan semburan abu vulkanik gunung...

Semangat Baru Muslim dengan Kembalinya Masjid Hagia Sophia

Penulis: Diana Aliya "Kamu pasti akan membebaskan Konstantinopel. Panglima perangnya adalah panglima terbaik. Pasukannya juga pasukan terbaik." (H.R. Ahmad) Keputusan Dewan Negara Turki pada 10 Juli...