Foto: Dok. Internet

Penulis: Muslim Hidayat

Kebebasan dan hak adalah dalih yang sering digunakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Dalih tersebut digunakan sebagai tameng pembela akan kesalahan atau perilaku menyimpang yang mereka lakukan. Mereka juga berdalih dengan mengatakan bahwa pemerintah tidak perlu ikut campur hingga ke persoalan kamar tidur. Mereka bukanlah manusia koruptor atau pembunuh yang merugikan orang lain, sehingga keberadaannya harus diperangi. Memang, LGBT adalah manusia tapi, apakah perilakunya mencerminkan sebagaimana kodratnya sebagai manusia?

Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tak menghendaki LGBT, dengan delik pencabulan yang dimuat dalam pasal 495 Rancangan KUHP. Hal itu diperluas hingga mengatur hubungan seks sesama orang dewasa dengan jenis kelamin sama. Ancaman hukumannya pun sampai sembilan tahun penjara.

Lesbian adalah suatu orientasi seks bagi perempuan yang menyukai sesama jenis. Sedangkan gay adalah orientasi seks bagi laki-laki yang menyukai sesama jenis. Sementara Biseksual adalah sebutan untuk seorang yang dapat tertarik dengan laki-laki maupun perempuan. Lalu transgender adalah seseorang yang memiliki penampilan atau perilaku berkebalikan dengan jenis kelamin namun, transgender tidak menginginkan adanya perubahan organ seksual. Seseorang yang menginginkan adanya perubahan organ intimnya disebut transeksual.

    Indonesia sebagai negara Pancasila sudah tentu sangat bertentangan dengan keinginan para kaum LGBT ini. Pasal 495 Rancangan KUHP tersebut dianggap sangat cocok diberikan kepada para LGBT, karena perilakunya yang sangat menyalahi norma. Apalagi jika kita merujuk pada sila pertama pada Pancasila, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, artinya pernikahan harus berlandaskan dengan norma agama.

Pada dasarnya, dalam konteks negara hukum Indonesia, kita harus menimbang segala perilaku bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa dalam kaca mata hukum. Artinya, warga negara sah-sah saja jika ada perbedaan pendapat. Namun, hal tersebut harus dikembalikan pada kajian hukum untuk mendapatkan ketetapan apakah LGBT dibenarkan atau tidak.

Perilaku LGBT pada gilirannya akan mendorong hadirnya pemahaman yang menyimpang tentang seksualitas. Dikatakan menyimpang karena tidak dapat menyatukan antara keinginannya dengan prinsip-prinsip dasar kehidupan, sehingga terjadi gangguan keberfungsian sosial. Faktanya, tidak ada satu pun agama, nilai kemanusiaan, atau nilai kemanfaatan maupun yang membenarkan perilaku demikian.

LGBT sendiri bukanlah hal yang baru, karena istilah tersebut sudah ada sejak tahun 1960-an di hampir seluruh daratan Eropa untuk menuntut persamaan dan hak legalitas tanpa memandang orientasi seksual mereka. Pada 1960-an kaum sodomites dan homoseks secara resmi mengganti nama dengan sebutan LGBT, dan pada 1988 Amerika Serikat (AS) meresmikan LGBT.

Pada 1990-an LGBT resmi berada di beberapa negara di Eropa, Denmark merupakan negara pertama yang melegalkan  perkawinan sejenisya itu pada 1988. Diikuti Nepal pada 2008. Sedangkan model pernikahan sejenis di beberapa negara Eropa yang menjunjung tinggi kebebasan telah lama ada, khususnya di Belanda.

Pelegalan pernikahan sejenis kemudian diikuti oleh negara-negara lain yaitu Belgia, Kanada, Spanyol, Afrika Selatan, Norwegia, Swedia, Portugal, Islandia, Argentina, negara bagian AS dari Massachusetts, California, Connecticut, Iowa, Vermont, Washington DC, New Hampshire, New York, dan Meksiko City.

LGBT dengan perkawinan sejenis adalah virus dan ancaman serius bagi dunia, terutama Indonesia. Sebab, LGBT bukan persoalan pilihan orientasi seksual atau masalah Hak Asasi Manusia (HAM), tetapi ini adalah penyakit moral yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, tugas negara harus menunjukkan perannya dalam menghambat virus LGBT dengan segala jenisnya.

Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi ketuhanan dan mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Dalam Alquran  disebutkan “Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS An Naba: 8). Dan disebutkan dalam sebuah riwayat “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Editor: Iin Prasetyo

Tingggalkan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.