KISAH POHON APEL

Oleh Mila Ardika Sitanggang

10965752_765017016907478_1752078601_n
Foto Google

 

Sebagian dari kita mungkin sudah pernah membaca atau mendengar cerita ini, tapi mungkin sebagian dari Sobat Dinamika belum pernah membaca ataupun mendengarnya. Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin mengulasnya kembali untuk Sobat Dinamika dan sebagai bahan review buat yang sudah pernah membaca.

Dahulu, di suatu masa terdapat sebatang pohon apel yang amat besar. Ada seorang anak lelaki yang begitu gemar bermain di sekitar pohon apel tersebut setiap hari. Dia memanjat  pohon tersebut, memetik dan memakan buah apel sepuas hatinya. Adakalanya dia beristirahat hingga terlelap di perdu pohon apel. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat bermainnya. Begitu pula dengan pohon apel, ia juga menyukai anak tersebut.

Waktu berlalu, anak lelaki  itu  tumbuh menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktunya dengan bermain di  sekitar  pohon  apel  tersebut.  Namun,  suatu  hari  dia  datang kembali kepada  pohon  apel  dengan wajah yang sedih.

“Marilah… bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.

“Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.

“Aku mau mainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” tambah  remaja itu dengan nada yang sedih.

Lalu pohon  apel  berkata, “Kalau  begitu,  petiklah  apel-apel yang  ada  padaku.  Jual-lah  untuk  mendapatkan  uang. Dengan  itu,  kau  dapat  membeli  mainan  yang kauinginkan.” Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dari pohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu dan pohon apel pun merasa sedih.

Waktu kembali berlalu, suatu hari sang remaja kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira atas kedatangannya.

“Marilah bermain-main di sekitarku,” ajak pohon apel itu.

“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin

membuat rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?”

Tanya anak itu.

“Maafkan  aku.  Aku  tidak  mempunyai  rumah.  Tetapi  kau  boleh  memotong  dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu menawarkan. Kemudian, remaja yang semakin dewasa itu memotong ke semua dahan pohon apel dan pergi dengan  gembiranya.  Pohon  apel  pun  turut  gembira,  tetapi  kemudian ia  merasa  sedih kembali karena remaja yang beranjak dewasa itu tidak kembali lagi.

Suatu ketika saat hari terasa panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel. Dia telah matang dan benar-benar dewasa.

“Marilah bermain-main di sekitarku,” ajak pohon apel itu.

“Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah  dewasa.  Aku  mempunyai  cita-cita  untuk  berlayar.  Malangnya,  aku  tidak  mempunyai  perahu,” ungkap lelaki itu.

“Aku  tidak  mempunyai  perahu  untuk  kuberikan  kepada  kau.  Tetapi  kau  boleh  memotong  batang  pohon  ini  untuk  dijadikan  perahu.  Kau  dapat  belayar  dengan  gembira,”  kata pohon apel.

Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi. Namun, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin merentan karena  usianya datang  menuju pohon apel. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel.

“Maafkan  aku.  Aku  tidak  ada  apa-apa  lagi  untuk  diberikan  kepada  kau.  Aku  sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati,” kata pohon apel dengan nada pilu.

“Aku tidak menginginkan apelmu, karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya. Aku tidak mau dahanmu, kerana aku sudah tua untuk memotongnya. Aku tidak mau batang pohonmu, kerana aku tidak berupaya untuk berlayar lagi. Aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.

“Jika  begitu,  istirahatlah  di  perduku,”  ujar  pohon  apel.  Lalu,  lelaki  tua  duduk  beristirahat di perdu pohon apel dan beristirahat. Mereka berdua menangis penuh haru.

Tahukah Sobat Dinamika, sebenarnya pohon apel yang dimaksudkan dalam cerita di atas adalah kedua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketikakita  meningkat  remaja,  kita  memerlukan  bantuan  mereka  untuk  meneruskan  hidup.  Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita dalam kesusahan. Namun, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja demi kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup kita. Kita mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel. Tetapi pikirkanlah, demikianlah hakikat dari kebanyakan anak-anak masa kini. Hargailah jasa ibu-bapak kepada kita. Janganlah hanya menghargai mereka semasa saja, Allah Swt berfirman :

Kami  perintahkan  kepada  manusia  supaya  berbuat  baik  kepada  dua  orang  ibu

Bapaknya.  Ibunya  mengandungnya  dengan  susah  payah  dan  melahirkannya  dengan

susah  payah  (pula).  Mengandungnya  sampai  menyapihnya  adalah  tiga  puluh  bulan,

sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

“Ya  Tuhanku,  tunjukilah  aku  untuk  mensyukuri  nikmat  Engkau  yang  telah  Engkau

berikan kepadaku dan kepada ibubapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang

saleh  yang  Engkau  ridhai;  berilah  kebaikan  kepadaku  dengan  (memberi  kebaikan)

kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan  sesungguhnya

aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [Q.S 46:15]

Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang tua kita biarpun

mereka sudah tidak ada di dunia fana ini.

Latest articles

Semangat Baru Muslim dengan Kembalinya Masjid Hagia Sophia

Penulis: Diana Aliya "Kamu pasti akan membebaskan Konstantinopel. Panglima perangnya adalah panglima terbaik. Pasukannya juga pasukan terbaik." (H.R. Ahmad) Keputusan Dewan Negara Turki pada 10 Juli...

Keterlibatan Kita sebagai Pelaku Kebocoran Data

Penulis: Mahmudi “If you’re not paying for it, you are the product.” – Unknown Di era digital yang serba canggih ini, tidak bisa tidak, aktivitas kita...

Berani Hijrah: Agar Selamat Dari Fitnah Akhir Zaman

Medan, Dinamika Online - Komunitas Berani Hijrah (KBH) ajak masyarakat agar selamat dari fitnah akhir zaman. Dalam hal ini KBH mengadakan Safari Dakwah Al-Barokah...

Menulis Kreatif Bersama Edwrite Indonesia

Medan, Dinamika Online – Edwrite Indonesia ialah salah satu media penerbitan yang mengadakan Kelas Menulis Kreatif (KMK) selama tujuh hari melalui grup WhatsApp dengan...

Ini 6 Aplikasi Edit Foto di Ponsel yang Bisa Kamu Coba!

Penulis: Rafifa Luqyana Kesuma Mengabadikan momen ialah hal wajib ketika sedang mengunjungi tempat wisata ataupun sekadar berkumpul dengan teman atau keluarga. Apalagi, saat ini sudah...