Ketidakadilan di Negara Hukum

Redaktur Peliputan. (Foto: Dok. Pribadi)

Penulis: Siska Ramayani Damanik

“Penegakan hukum adalah hal yang sangat penting bagi suatu Negara, menegakkan hukum adalah tanggung jawab besar bagi presiden, jika potret penegakan hukum terlihat compang-camping maka nama presidenlah yang pertama menjadi tidak baik. Hal ini harus diprotes dan dikritisi sebab, jika tidak maka akan semakin banyak masyarakat yang merasakan ketidakadilan.-Novel Baswedan

Peristiwa tuntuntan kepada pelaku kejahatan terhadap Novel Baswedan baru-baru ini menjadi buah bibir bagi banyak masyarakat Indonesia. Tak jarang setiap orang yang telah mengikuti jalannya penyelesaian kasus ini mengkritisi pemerintahan Indonesia sebab, sudah dibuat geram dengan hasil akhir persidangan. Bagaimana tidak, kasus penyiraman air keras pada April 2017 lalu yang mengakibatkan korban (Novel Baswedan)  harus rusak mata kirinya dan pengungkitan kasusnya juga memakan waktu sampai 3 tahun lamanya, tetapi hukuman pada pelaku hanya 1 tahun saja. Terkesan aneh dan lucu.

Tentu saja hasil dari persidangan tersebut membuat masyarakat merasakan banyak kejanggalan. Bagaimana bisa kasus yang digolongkan penganiayaan berencana, menggunakan air keras, dan juga berakibat fatal hanya dihukum seringan itu? Apakah memang selemah itu hukum di negeri ini? Jika dengan kasus separah itu mendapat hukuman yang ringan maka bagaimana dengan kasus lainnya? Atau hukuman seringan itu hanya berlaku pada korban tertentu saja? Kalau begitu, siapa yang harusnya disalahkan? Pelaku atau pemberi hukum?

Korban adalah orang yang begitu keras memberantas kasus korupsi di Indonesia, tapi kenapa justru mendapat perlakuan yang tidak adil dari negara? Pelaku adalah dua orang yang sudah 10 tahun mengabdi menjadi polisi, dan dengan sangat memalukannya alasan yang diberikan adalah ketidaksengajaan dan mengaku salah. Cukup kurang logis sebagai acuan meringankan hukum, malah ternilai menutup-nutupi kasalahan yang sudah nyata.

Perlu dijadikan catatan keras bahwa sebenarnya keadaan negara bisa dilihat dari cerminan penegakan hukumnya. Jika hukum masih terlihat semrawut, maka kejahatan akan semakin merajalela, orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi akan semakin leluasa menjalankan aksinya dan “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” perlu dikaji ulang kenyataannya.

Jelas, di sini pemerintahlah yang menjadi sasaran. Jika keanehan-keanehan pada penetapan hukum kerap terjadi, maka wajar bila masyarakat mempertanyakan eksistensi pemerintahnya. Sebagai aparat negara, pemerintah perlu fokus pada penegakan hukum di negeri ini. Jangan sampai masyarakat semakin tidak percaya dengan pemerintahan, dan jangan sampai masyarakat menyamakan aparat dengan keparat.

Terakhir sebagai warna negara, marilah kita banyak berdoa agar negeri ini dikaruniai banyak orang yang berjiwa ksatria, yang mampu membawa negeri ini pada kebaikan, dan dijauhkan dari orang-orang yang tidak adil (zalim).

Latest articles

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...

UIN SU Wisudakan 649 Mahasiswa

Medan, Dinamika Online - UIN SU mewisudakan sebanyak 649 mahasiswa pada sidang senat terbuka Wisuda ke-73. Prosesi ini berlangsung di Aula Utama Kampus II...