Kebebasan Hewan dan Status Moral yang Sama

(Foto/Ilustrasi/Unsplash)

Penulis: M. Rio Fani

Tepat di tanggal 15 Oktober kita memperingati Hari Hak Asasi Binatang. Dalam taraf ini, tidak hanya ‘manusia’ yang memiliki Hak Asasi, binatang juga memiliki hak tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan oleh filsuf Australia Peter Singer (1946) bahwa hewan seharusnya diperhitungkan secara moral karena memiliki kemampuan untuk merasakan sakit.

Tetapi tunggu dahulu, lebih jauh dari membicarakan terkait moral, pada 21 Desember 2017 sebuah pemberitaan melaporkan bahwa seorang petugas kebun binatang di Thailand memaksa seekor harimau untuk mengaum. Bahkan untuk memaksa harimau itu agar ‘bisa’ mengaum, petugas kebun binatang tersebut merantai lehernya dan memukulnya berkali-kali, dikutip dari Liputan6.com, Selasa (13/10).

Mungkin pemberitaan itu telah jauh, untuk itu mari kita melihat informasi lebih dekat dari waktu saat ini. Dilansir dari DetikTravel, Selasa (13/10) viral sebuah video yang memperlihatkan seekor monyet dicat merah di Malaysia. Sayangnya, monyet yang mengalami penganiayaan itu sengaja di video dan videonya disebarkan di media sosial. Tentunya fenomena itu menjadi perhatian pemerintah setempat.

Sementara jika dari catatan lokal Animal Defender Bali selama 2019, setidaknya ada 19 kasus penganiayaan terhadap hewan yang terjadi di Bali. Dari kasus tersebut, diketahui terjadi pada anjing, kucing, sapi dan binatang lainnya berupa pemukulan menggunakan senjata tajam, ditembak, bahkan hal-hal kejam lainnya.

Siapa sangka, manusia yang memiliki kecerdasan alami dan ilmu pendidikan, serta ilmu perasang hati nurani justru melakukan hal-hal yang di luar nalar. Dalam hal ini, Peter Singer percaya bahwa binatang memiliki hak karena pertimbangan moral yang relevan, dan bukan dilihat dari apakah mereka (hewan) bisa berpikir atau berbicara, melainkan karena bisa merasakan penderitaan.

Pria yang keluarganya menjadi korban kekejaman Nazi ini pun menjadi aktivis untuk melakukan pembelaan terhadap kekerasan yang dilakukan manusia terhadap hewan. Di sisi lain, kita tentunya tahu bahwa hewan bisa menjadi sahabat manusia; namun masih banyak manusia lainnya yang justru melakukan penyiksaan terhadap hewan.

Seperti halnya jika kita mengetahui adanya pertunjukkan lumba-lumba ilegal. Bisa saja saat kita merasa terhibur dan takjub dengan aksi pintar hewan tersebut, ada perjuangan yang dirasakan oleh hewan itu. Hal ini terus terjadi karena lemahnya tindakan hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap binatang.

Biasanya, kekerasan terhadap hewan disebut sebagai animal abuse adalah sebuah tindakan di mana manusia menyiksa hewan untuk tujuan selain perlindungan diri atau demi keuntungan pribadi. Tindakan ini sudah terjadi sejak lama dan sampai saat ini masih ada yang melakukan hal tersebut.

Dari berbagai peristiwa, ternyata perlu kita ketahui ada sejumlah regulasi yang mengatur tentang hukuman tindakan kekerasan terhadap hewan. Salah satunya, Praktik Kekerasan di Masyarakat: termasuk pemukulan, penusukan, pencekikan, dan pembuangan hewan: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 302; 406; 335; 170; 540; dan Undang-undang Peternakan dan Kesehatan Hewan no. 18 Tahun 2009, pasal 66 dan 67.

Dengan dasar yang kuat, kita sebagai makhluk yang diberikan kekayaan dari pola pikir: mari untuk terus menjaga binatang dengan sifat hewani. Jika suatu saat melihat ada orang yang menyiksa hewan, maka ada baiknya kita dengan sigap untuk mengingatkan. Karena bagaimana pun, hewan adalah sahabat manusia; jangan sampai kita menjadi mahkluk yang berdiri untuk menindas yang lemah. Mari berdiri bersama untuk saling melindungi dan populasi hewan langka tetap bisa diketahui oleh anak cucu kita nantinya.

Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

Latest articles

Pemilihan Pengurus Baru, PEMAPASID Adakan Musyawarah Besar

Medan, Dinamika Online – PEMAPASID (Persatuan Mahasiswa Kota Padang Sidempuan) telah mengadakan musyawarah besar dengan tema "Menciptakan Generasi Kader Pemapasid yang Memiliki Nilai Ukhuwah...

Cara Jitu Bangun Pagi

Penulis : Nurur Ramadhan Nasution Mayoritas orang memiliki harapan untuk bangun pada pagi hari, mulai dari kalangan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, mahasiswa,...

Bangun Potensi Buat Berita, Jurnalistik Syams Gelar Pelatihan

Medan, Dinamika Online – Guna membangun potensi dalam pembuatan berita, i Jurnalistik Syams MAN 1 Medan menggelar pelatihan dengan pembahasan “Membuat Berita”. Pelatihan ini...

Antisipasi Penyebaran COVID-19, Dema FIS Langsungkan Kegiatan Berbagi

Medan, Dinamika Online - Untuk menghindari penyebaran Covid-19, Dema Fakultas Ilmu Sosial (FIS) mengadakan kegiatan berbagi dengan tema "Katakan Tidak pada Corona". Kegiatan ini...

Langgar Prokes, Pemko Medan Tutup Sementara Tempat Usaha

Medan, Dinamika Online – Dilansir dari laman resmi Humas Pemko Medan, Pemerintah Kota Medan melalui Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) mengumumkan bahwa...