Foto: www.google.com

Penulis : Syaiful Hadi Pulungan

“Tidaklah seorang itu suka memaafkan, melainkan Dia akan semakin mulia.” (HR. Muslim)

Hadis di atas menjelaskan dimana kita akan menyelami sungguh-sungguh salah satu sifat Rasulullah Saw. ini. Mengingat sebagian besar di antara kita, dalam soal kemampuan memaafkan masih menjadi PR yang tidak kunjung usai. Kerap kali kita kehilangan energi, pikiran, lelah psikis, amarah yang sulit reda, dimana disebabkan kesulitan kita sebagai insan yang memaafkan. Dari Rasulullah Saw. sang teladan kehidupan, kita akan mengambil inspirasi dan semoga dapat diaplikasikan di dalam menjalankan kehidupan yang fana ini.

Kita tidak akan mendapati sifat maaf insan mulia, Rasulullah Saw. dimana dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah dalam riwayat Bukhari. “Kami pernah ikut perang bersama Rasulullah Saw. di wilayah Najed. Ketika waktu istirahat siang tiba, di saat beliau berada dekat lembah yang banyak pepohonan berduri, beliau singgah di bawah pohon untuk berteduh sambil menggantungkan pedangnya di pohon tersebut. Sedangkan orang-orang berpencar mencari pohon untuk berteduh.

Tatkala kami sedang beristirahat, tiba-tiba Rasulullah Saw. menyeru. Kami langsung bergegas mendatangi beliau. Ternyata seorang Arab Badui tengah terduduk lemah di hadapan beliau. Beliau bersabda, “Orang ini mendatangiku saat aku tertidur, Lalu dia mengambil pedangku. Ketika aku terjaga, dia sudah berada di kepalaku dengan menghunuskan pedang seraya berkata, “Siapa yang dapat melindungimu dariku?” Aku menjawab, “Allah Swt.” Kemudian dia memasukkan pedang itu ke sarungnya sambil terduduk lemas seperti ini”.

Bagaimana selanjutnya nasib Badui itu? Jabir mengakhiri kisahnya dengan berkata, “Rasulullah Saw. sama sekali tidak menghukum orang itu”.

Dari pernyataan hadis di atas Nabi telah mengisyaratkan kepada kita betapa pentingnya memaafkan. Dalam kacamata beliau yang arif, memaafkan adalah ciri kuatnya seseorang. Beliau bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan nafsu amarahnya ketika sedang marah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang beliau sampaikan di atas sangatlah jelas termaktub. Kita tidak bisa jika hanya mengatakan seorang wanita yang karena kebencian yang tertahan lalu larut dalam kesedihan hingga menusuk relung qalbu. Dimana perempuan biasanya identik sebagai pribadi yang labil dan lemah. Seorang laki-laki perkasa yang dengan keperkasaannya ia meluapkan amarahnya pun pada dasarnya sama dengan wanita tersebut. Sama-sama lemah. Karena sama-sama tunduk kepada nafsu amarah yang sulit dikendalikannya.

Kali ini kita akan belajar kembali dari Rasulullah Saw. Dimana hal ini dikisahkan oleh Abdullah bin Umar bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Saw. Orang ini benar-benar ingin tahu, seberapa batas pintu maaf dibukakan untuk orang lain. Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, berapa kali kita memaafkan pembantu? Rasulullah Saw. tidak menjawab. Orang tersebut kemudian mengulangi pertanyaannya. Namun, lagi-lagi di sini Rasulullah tetap diam, seakan beliau tidak senang ditanyai tentang dimana batas kesabaran dan kemaafan. Sebab sudah jelas, bahwa tidak ada batas dalam memaafkan, tapi karena orang tersebut memaksa, maka Rasulullah Saw. akhirnya menjawab pertanyaan orang tersebut, “Maafkanlah dia 70 kali dalam sehari”. (HR. Abu Daud)

Orang itu terdiam. Ia paham yang dimaksud Rasulullah Saw. bukanlah mengkalkulasi kesalahan demi kesalahan pembantunya lalu mentotal 70 kali. Yang jika sudah lebih dari 70 kali boleh tidak dimaafkan. Bukan begitu, yang dimaksud adalah berilah maaf seluas-luasnya, 70 kali adalah bilangan yang mengisyarakat seseorang harus berlapang dada atas kesalahan saudaranya. Semoga kita dapat meniru akhlak beliau dan dapat mengambil ibrah dari kisah ini. Karena bagi kita yang ingin memaafkan dengan ikhlas, perdalamlah pengetahuan mengenai hikmah memaafkan.

Kita tidak akan bisa ikhlas, kalau kita tidak tahu keutamaan dibalik sikap memaafkan. Salah satunya cobalah renungkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. berikut:  “Barang siapa yang menyimpan kemarahan,  padahal sebenarnya ia mampu melampiaskannya, Allah Swt. memanggilnya di hadapan para mahkluk hingga memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih bidadari dan mengawinkannya dengan bidadari yang ia inginkan”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Pintu-pintu Surga pada hari Senin dan hari Kamis dibuka. Maka setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun diampuni dosa-dosanya, kecuali orang antara dirinya dan saudaranya (sesama muslim) terdapat permusuhan. Maka dikatakan, tangguhkanlah (pengampunan) untuk kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah (pengampunan) untuk kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah (pengampunan) untuk kedua orang ini hingga berdamai”. (HR. Muslim)

Subhanallah, betapa mulia akhlak Rasulullah Saw. Semoga kita bisa meneladaninya. Allahumma Shalli ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad.

Editor : Nurul Farhana Marpaung