Di Balik Nama Jakarta, Ibu Kota Republik Indonesia

- Advertisement -

(Desain Oleh: Nurhaliza Saiful)

Penulis: Nurhaliza Saiful

Jakarta adalah nama Ibu Kota Republik Indonesia. Siapa sangka, bahwa sebelum menjadi Batavia, nama Kota Jakarta telah berganti berulang kali. Hal tersebut tercatat di dalam sejarah.

- Advertisement -

Dilansir dari berbagai sumber, nama wilayah Kota Jakarta pada awalnya adalah Sunda Kelapa. Tercatat dalam sejarah, terdapat peristiwa yang menjadi latar belakang bergantinya nama-nama sebelum Kota Jakarta.

Berikut nama-nama yang pernah menjadi nama wilayah Kota Jakarta dan peristiwa singkat yang melatarbelakanginya.

Sunda Kelapa (397–1527)

Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda. Pelabuhan Sunda Kelapa ini berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Pelabuhan Sunda Kelapa diperkirakan sudah ada sejak abad ke-5 yang merupakan Ibu Kota Kerajaan Tarumanagara yang bernama Sundapura. Kerajaan Tarumanagara merupakan kerajaan Hindu beraliran Wisnu dan kerajaan ini dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda.

Sunda Kelapa dianggap pelabuhan yang penting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama dayeuh dalam tempo dua hari. Serta, pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan yang menjadi lintas dagang saat itu.

Jayakarta (1527–1619)

Pada abad ke-16, Cirebon yang ingin memisahkan diri dan menyerang Kerajaan Sunda. Cirebon yang dibantu Demak menyerang pelabuhan Sunda Kelapa. Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda. 

Serangan itu berakhir kemenangan untuk Fatahillah yang berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal. Kemudian Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti “Kota Kemenangan”. Tragedi ini menjadi dasar penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, Wali Kota Jakarta, pada tahun 1956.

Batavia (1619–1942)

Pada abad ke-16 akhir, Belanda datang ke Jayakarta dan singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada tahun 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen dan menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten. Kemudian Jan Pieterszoon Coen mengubah nama kota ini menjadi Batavia.

Dalam pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak yang berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama Suku Betawi. 

Jakarta Tokubetsu Shi (1942–1945)

Di masa penjajahan Jepang pada tahun 1942, Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta Tokubetsu Shi. Kemudian menyebut kota ini Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Jakarta (1945-sekarang)

Setelah Indonesia merdeka, Menteri Penerangan Republik Indonesia Serikat (RIS), yaitu Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, saat itu menegaskan bahwa sejak 30 Desember 1949 tidak ada lagi sebutan Batavia untuk kota ini. Sejak saat itu, nama Ibu Kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Pemberian nama Jakarta ini kemudian dikukuhkan pada 22 Juni 1956 oleh Wali Kota Jakarta Sudiro (1953-1960). Sebelum tahun 1959, wilayah Jakarta masih merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Jakarta mengalami perubahan dari sebuah kota praja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu yang dipimpin oleh gubernur. Gubernur pertama adalah Soemarno Sosroatmodjo. Pada 1961, status Jakarta diubah kembali, dari daerah tingkat satu menjadi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI).

Editor: Adelini Siagian

Share article

Latest articles