First Time, Solo Travelling di Kota Tanjung Pinang

Foto: Dok. Pribadi

Penulis: Nur Halimah Syafira

Salah satu kota yang terletak di Kepulauan Riau menjadi pilihanku saat berlibur, tak salah aku memilih Kota Tanjung Pinang ini menjadi destinasi liburan. Setelah beberapa hari aku berselancar di internet mengenai wisata apa saja yang terdapat di kota  ini aku pun mulai tertarik dan langsung bergegas memesan tiket, kali ini aku memilih menggunakan jalur laut. Tepat pada tanggal 01 Februari 2019 kuawali perjalananku menaiki kapal ferry dari Kota Dumai menuju Tanjung Pinang.

Nah, bagi kalian yang ingin menikmati liburan dengan pemandangan laut dan menguji adrenalin dengan guncangan ombak silahkan pilih transportasi kapal saja. Biaya yang dikeluarkan juga cukup terbilang murah, berkisar 400-500 ribu rupiah.

Sebelum matahari terbit aku mulai bergegas menuju pelabuhan untuk menaiki kapal Dumai line 5 yang akan berangkat pukul 07.00 wib. Keberangkatan kapal menuju Tanjung Pinang memang terbilang cepat bahkan bagiku terlalu pagi, ibaratnya belum lagi ayam berkokok aku sudah harus bangun dan sampai di pelabuhan. Ya.. apa boleh buat, perjalanan yang akan dilalui pun cukup panjang hingga memakan waktu seharian.

Sepanjang gate yang ku lalui untuk segera masuk ke kapal terlihat kapal ferry bersandar  dengan ukuran besar, sepertinya kapal itu baru karena tampak sangat bagus dan cukup mewah. Tertera di tiket aku menduduki kursi no. 121 B, ABKnya juga ramah dan sopan ia menunjukkan tempat di mana kursiku.

Tak lama kemudian kapal pun berangkat, di awal keberangkatan para ABK mendemonstrasikan bagaimana cara menggunakan pelampung dan sebagainya. Nah, beruntung aku mendapatkan kursi yang strategis jadi bisa leluasa melihat keluar jendela dan menikmati keindahan lautan yang kulalui selama di perjalanan.

Tiba waktunya bersandar setelah beberapa jam di perjalanan terlihat beberapa penumpang bergegas turun, akupun senang dan langsung bangkit untuk meraih tasku di balik pintu kapal. Lalu, terdengar suara yang menginformasikan bahwa “Penumpang dengan tujuan tanjung balai karimun segera bersiap-siap”, terang ABKnya. Lalu, akupun terdiam sejenak dan kembali duduk sambil ngedumel meratapi jendela. Gini ternyata rasanya di PHP-in, sakit!

Saatnya menguji adrenalin, kapal pun mulai berayun ke kiri dan ke kanan ombak pun mulai memainkan perannya. Seketika suasana menjadi hening dan banyak yang tidur, untungnya aku bukan orang yang mabuk perjalanan apapun transportasinya tak membuat ku mual maupun muntah. Namun, sialnya ketika ingin ke toilet ombak yang sedang tinggi mengayunkan kapal begitu kencang hingga menggoyangkan seisi kapal dan membuatku yang sedang berjalan menjadi puyeng dibuatnya.

Tak terasa waktu sudah berlalu cukup lama akupun melihat keluar jendela dan merasa bahwa kapal ini berjalan seperti siput perlahan-lahan melambat. Ternyata, dari kejauhan tampak pelabuhan Sri Bintan Pura yang tandanya sebentar lagi kapal akan bersandar. Melelahkan, akhirnya selama 12 jam sampai juga ke tempat tujuan.

Berjarak 3,4 km dari pelabuhan ke rumah tanteku terbilang cukup singkat. Di sepanjang jalan menuju rumah tanteku terlihat laut biru dan sunset yang indah, tekstur jalannya juga cukup unik seperti menaiki bukit. Melewati taman kota, perpustakaan daerah, dan tepi laut. First impressions ketika datang ke kota ini ialah menawan, aku langsung jatuh hati dibuatnya. Mulai jalanannya yang tertib, bersih dan tidak banyak polusi udara. Perlahan-lahan kota ini memikat hatiku hingga aku merasa seolah-olah ingin memiliki rumah dan tinggal di sini.

Tanjung Pinang menawarkan banyak destinasi wisata yang tentunya berbeda dari kota-kota lain, mulai dari gurun pasir Telaga Biru, Pantai Trikora dan Pulau Dompak. Nah, beberapa destinasi wisata yang pernah kudatangi ini termasuk yang paling populer. Seperti Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, lokasi vihara ini sekitar 12 km dari rumah tanteku yang berada di Jl. Wiratno, butuh waktu sekitar 20-30 menit perjalanan untuk sampai ke sana. Cukup mengeluarkan kocek Rp5.000,- kalian sudah bisa masuk. Sangat terjangkau bukan? Nah, di sini juga banyak spot-spot instagrammable bagi pencinta travelling maupun kaum milenial.

Ada satu lagi tempat yang paling aku recommended bagi kalian yang suka berswafoto, letaknya di wilayah Pulau Dompak, Bukit Bestari, Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Ini nih tempat yang menakjubkan bagiku, yaitu Masjid Raya Dompak lokasinya yang sangat strategis langsung memikat hatiku untuk berkunjung ke sana.

Wisata religi yang terletak di dataran tinggi pulau Dompak sehingga terlihat jelas dari kejauhan, beruntungnya aku bisa naik ke atas dan menemukan pemandangan yang sangat memanjakan mata apabila dinikmati menjelang matahari terbenam. Di balik masjid tersebut terlihat seluruh dataran pulau Dompak beserta kota Tanjung Pinang yang terhubung oleh sebuah jembatan. Nah, jika berminat plesiran ke Tanjung Pinang pastikan kalian mengunjungi tempat-tempat di atas.

Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

Latest articles

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...

UIN SU Wisudakan 649 Mahasiswa

Medan, Dinamika Online - UIN SU mewisudakan sebanyak 649 mahasiswa pada sidang senat terbuka Wisuda ke-73. Prosesi ini berlangsung di Aula Utama Kampus II...