Foto : Dok. Dinamika

Medan, Dinamika Online – Reporter Dinamika melakukan kegiatan bersama kru LPM Dinamika di Lapangan Merdeka, minggu pagi (17/12). Reporter memandu langkah kru Magang LPM Dinamika angkatan XXI menuju Titi Gantung sebagai tahapan terakhir Magang selama 3 bulan. Dimana hal ini masuk dalam program penilaian dari Pihak Penilaian Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA).

Kru Magang terlihat begitu menikmati rangkaian Reportase Lapangan yang terselenggara apik. Reportase lapangan kali ini dibagi menjadi tujuh kelompok. Dimana kelompok 3 ditugaskan di Jembatan (Titi) Gantung.

Kelompok magang melangkah ke Titi dengan semangat. Begitu tiba, sekelompok pemuda dan seorang wanita melakukan gerakan di depan kamera hp pintar. Kebanyakan dari mereka adalah pria brewokan dan wanita berkulit hitam, yah siapa lagi kalau bukan warga kampung Madras atau dahulu disebut kampung Keling. Madras atau Kelling merupakan panggilan bagi kelompok warga keturunan India di Kota Medan.

Tanpa berpikir panjang, Reporter yang sedang berada di lokasi mendekati mereka dan berusaha bercengkrama dengan santun. Reporter mendapat giliran untuk memperoleh informasi dari mereka perihal kegiatan yang sedang mereka lakukan. Ternyata kegiatan yang sedang mereka lakukan adalah proses terakhir untuk shooting film dokumenter sebagai tugas akhir yang diberikan oleh dosen untuk penilaian terakhir di kampus mereka, Institut Bisnis Indonesia (IBI) Medan.

Apa menariknya Titi Gantung bagi Mahasiswa Teknik Informatika semester 5 ini? “Tempat ini menarik dijadikan tempat shoot sebab begitu strategis.” Begitulah kata Ilham Sang penyumbang ide cerita pada film garapan mahasiswa IBI tersebut. Reporter kembali bbagaimana dengan tempat lain di kota Medan, apakah kurang strategis? “Dengan background gedung-gedung tinggi, rel kereta api serta stasiunnya, warga yang melintas dan suara gemuruh dari kereta yang melintas membuat film ini menjadi hidup,” begitu alasannya.

Kelompok ini berjumlah 12 orang, 8 diantaranya merupakan keturunan India. Berdasar kepada pernyataan Ilham, Adegan yang diperankan oleh masing-masing Tokoh dalam film dokumenter ini sudah disesuaikan dengan watak para tokoh. Hal ini agar mempermudah tokoh untuk menyesuaikan skrip dalam skenario film dengan watak dirinya. Menurutnya, dengan menyesuaikan tokoh dengan watak aslinya akan mendapatkan feel yang lebih sempurna.

Seperti film dokumenter pada umumnya, film yang mengisahkan kehidupan Para programmer dan hacker dengan kemasan sisi lain dari pekerjaan yang dilakoni para tokoh. Konfliknya, Ridho (Hacker) melakukan tindakan curang terhadap programmer Handini. Handini wanita keturunan India yang bersaing dengan rekannya. Namun hacker Ridho melacak dan merusak program-program aplikasi yang telah diproduksi oleh Handini beserta rekannya. Di akhir cerita, Para programmer dan hacker beradu kemampuan sehingga pada akhir cerita ada adegan perkelahian, tidak menutup kemungkinan adanya adegan terjatuh, melompat, dan menangis.

Ilham dan kawan-kawan berharap mereka bisa lebih ekstra dalam mengembangkan potensinya agar dapat terjun ke dunia artistik. Adapun dukungan yang diberikan kampus begitu bagus, hal ini dibuktikan dengan adanya surat rekomendasi untuk take dari pihak kampusnya.

Reporter         : Rahmanuddin

Editor             : Maya Riski