Tapak Jejak Camelia, Relawan Muda Menginspirasi

Foto: Dok. Pribadi

“Karena dalam film itu saya belajar gitu ya, bahwa persoalan kemanusiaan itu tidak pandang bulu. Dan satu lagi ada satu judul buku yang membuat saya semakin bersemangat yaitu karya Ahmad Rifa’i Rif’an yang berjudul Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati,” ungkap Camelia.

Melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan, rasanya sangat sulit jika dibayangkan. Apalagi di usia remaja yang pada umumnya masih berfikir untuk kebaikan diri sendiri, namun tidak dengan remaja yang satu ini. Camelia Asmawiyah seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU), jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom) yang menjadikan moto dalam hidupnya bahwa, “Di mana pun saya berada, saya harus menjadi sosok yang berarti, menjadi sosok yang bisa menjadi cahaya walaupun cahaya yang kecil,” kalimat tersebut menjelaskan bahwa ia ingin menjadi sosok yang tetap dirindukan meski sudah tidak bersama lagi di dunia.

Berawal dari satu tontonan inspiratif “Hafalan Bacaan Shalat Delisa” yang membuat dirinya berhasrat ingin menjadi manusia yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk banyak orang. Dunia kemanusiaan sudah digelutinya sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), berkecimpung dalam kegiatan ekstra kulikuler PMR (Palang Merah Remaja) yang membuatnya mencoba untuk makin mencintai apa yang dia lakukan. Hal itu memberikan kesenangan tersendiri baginya di saat dia bisa melihat orang-orang tertawa dengan kebermanfaatan yang dia berikan. Tidak berhenti di situ, dia juga melanjutkan kembali kegiatan yang sama setelah menduduki bangku SMA.

“Setelah masuk SMA, saya lanjutin untuk masuk ekskul PMR lagi, sampai saya lebih belajar banyak lagi, ketemu sama orang-orang yang menginspirasi yang membuat mata saya terbuka lebih lebar. Oh ternyata, hidup ga tentang diri saya sendiri loh, ada banyak manusia lain yang butuh dirangkul dan dikuatkan,” ucapnya.

Hal tersebut memberikan kebahagiaan tersendiri baginya. Di sisi lain, ia juga mengungkapkan hal yang menurutnya baik untuk diteruskan. “Jujur kalau untuk membantu materi saya terbatas, belum bisa memberi lebih. Tapi kalau untuk tenaga, inshaallah saya selalu totalitas dalam menjalankan tugas,” tambahnya lagi. Saat itu dia diberikan kesempatan untuk menjadi Ketua PMR unit 031, hal tersebut membentuk tanggungjawabnya semakin bertumbuh.

Mahasiswi semester IV ini berangkat menjadi relawan awal masuk kuliah, ia bergabung di salah satu lembaga kemanusiaan, yaitu Aksi Cepat Tanggap (ACT) bagian Sumatera Utara (Sumut). Namun, ia mengawali kegiatan tersebut melalui organisasi yang lebih mandiri lagi, yaitu Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Medan. Kegiatan pertamanya dimulai pada saat bencana gempa bumi Lombok pada tahun 2018 di awal bulan Agustus, bersama dengan relawan lainnya melakukan aksi penggalangan dana dua bulan penuh di beberapa titik di Kota Medan. Kegiatan tersebut menumbuhkan kepercayaan dalam hatinya bahwa kita semua adalah bagian dari mereka, “Kita adalah satu tubuh,” kata perempuan yang sering disapa Amel.

Lanjut, setiap aksi-aksi berikutnya setiap ada bencana Amel bersama rekan-rekannya selalu bersinergi meluangkan waktu, ongkos, tenaga bahkan air mata. Tak berhenti sebagai relawan penggalangan dana, wanita bercadar ini juga ikut dalam mengumpulkan beberapa donasi pakaian layak pakai, mengajar di Gerakan Relawan Mengajar (GRM) dari program MRI Kota Medan. Amel juga ikut membantu untuk penyaluran sembako, pernah ikut persiapan untuk memberangkatkan bantuan ke Palestina. Tak hanya itu, ia juga pernah membantu acara pawai obor penyambutan bulan Ramadan di tahun 2019, dan masih banyak lagi ukiran kebaikan yang sudah dia lakukan dalam hidupnya.

Aksi terakhir Amel di akhir bulan Februari kemarin, ini kali pertama dia dipercayai untuk turun langsung ke lokasi terdampak bencana, tepatnya di Desa Pematang Si Ria-Ria, Labuhan Batu Utara. Ia mengkukir kebaikan kembali selama empat hari di sana dengan lembaga yang berbeda. Ketika ditanya hal yang paling berkesan buatnya adalah ketika dia bisa turun langsung ke masyarakat, bertemu keluarga baru di sana, merasakan empat hari tanpa sinyal telepon. Amel merasa ia mengambil pelajaran dengan melihat anak-anak yang merindukan buku-buku, yang kehilangan rumah, kehilangan keluarga. Bahkan banyak yang memiliki trauma hebat saat hujan deras datang. Sebab, mereka jauh dari kota, mereka penuh keterbatasan, tapi punya antusiasme yang luar biasa. Anak-anak itu masih punya semangat hidup yang membuat dirinya semakin banyak belajar akan kehidupan.

Tak lepas dari itu semua, orang tuanya selalu memberikan dukungan kepadanya. Memberikan kepercayaan lebih, bahkan selalu memberikan semangat. Ia juga mengaku bahwa orangtuanya bahagia melihat anaknya tumbuh dengan pilihannya. Ibunya juga selalu menjadi pendengar terbaik untuk cerita-ceritanya kebaikannya.

Untuk perkuliahan sendiri, dia bersyukur sampai saat ini tidak pernah terganggu. Walaupun dia pernah tertidur saat presentasi, karena semalaman tubuhnya tidak beristirahat demi keliling Kota Medan. Dia berharap kisah kecil ini dapat menginspirasi banyak pembaca. “Bagi saya, kaya itu bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi kekayaan itu nyata ketika kita saling melengkapi, menguatkan, merangkul dan berbagi. Hidup ini akan menjadi lebih indah, jika kita paham bahwa kita diciptakan untuk tujuan yang mulia menjadi sebuah cahaya walau tercipta dari tanah, kemanusiaan harga mati,” kata Amel. Di akhir kalimat, penulis percaya bahwa setiap orang adalah pahlawan bagi dirinya sendiri juga orang lain saat bencana melanda.

Reporter : Richa Ardelila Hutabarat

Editor : Ayu Wulandari Hasibuan

Latest articles

Addin 311: Hikmah, Hadiah Terindah Dari Yang Maha Indah

“Hikmah adalah aset orang mukmin yang tercecer. Di mana pun ia menemukannya maka ialah yang paling berhak memilikinya.” (Hikmah) Dalam hidup sering kali kita bertemu...

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...