Foto : Siti Rogayah

Sodri, anak laki-laki yang lahir di Sei Kepayang Tengah pada 9 Oktober 1995, tepatnya di kampung halamannya, Asahan. Putra dari pasangan Kholil Daulay dan Nur Leli Batubara ini merupakan anak pertama dari sepuluh bersaudara. Sebagai anak pertama, Sodri mengungkapkan bahwa hal itu merupakan tanggung jawab yang besar. Terutama kepada adik-adiknya yang masih melanjutkan pendidikan.

Melihat hal itu, Sodri pantang menyerah dalam mewujudkan mimpi-mimpinya. Sodri memulai prestasinya sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Dengan bermodalkan ilmu yang beliau dapatkan selama di bangku sekolah, akhirnya beliau banyak mengikuti event-event perlombaan. “Dari kelas 2 MTSN saya sering mengikuti lomba MTQ, kemudian itu berlanjut sampai sekarang. Namun sekarang lomba yang saya ikuti, lebih kepada M2IQ (Musabaqah Makalah Ilmiah al-Quran),” ungkapnya singkat.

Lelaki yang berperawakan tenang ini mengatakan bahwa dalam menuntut ilmu itu yang dibutuhkan  adalah perjuangan. “Ketika saya di Aliyah dulu sampai semester IV, saya lima tahun tinggal di Masjid dan mengabdi sebagai marbot masjid. Kemudian dari semester V sampai sekarang, saya tinggal bersama dosen yang bernama Buya H. Amiruddin MS,” tuturnya.

Selain menjalani kuliah sebagai rutinitas sehari-hari, beliau juga memiliki segudang kegiatan. Seperti yang diungkapkannya “Pertama, kegiatannya itu kuliah. Kedua, tahfiz quran di rumah Tasawuf Baitul Mustaqfir al-Amir di Jalan Suluh, dan ketiga mengikuti kegiatan perlombaan baik yang bersifat akademik maupun non akademik,” ucap lelaki yang berusia 22 tahun ini.

Beliau terus berjuang dengan dibuktikan  lewat prestasi-prestasi yang pernah diraihnya. Di antaranya adalah saat beliau sampaikan ketika ditemui di Ruang Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). “Di Serdang Berdagai pada tahun 2015-2016, saya meraih peringkat 1 dan 3 pada cabang M2IQ, kemudian di Dairi saya mendapatkan peringkat 1 dan Alhamdulillah mewakili Dairi untuk ikut MTQ provinsi di Dairi nanti, dan saya juga pernah mengikuti lomba M2IQ di Banten, Tangerang dan daerah-daearh lain di Jawa,” jelas lelaki yang mempunyai hobi bernyanyi religi ini.

Prestasi yang baru saja beliau raih adalah meraih peringkat 6  mewakili UIN SU pada Pionir tingkat nasional se-PTKIN di UIN ar-Raniry Banda Aceh. Hal itu beliau sampaikan dengan rasa bangga, “Alhamdulillah, se-nasional untuk cabang M2IQ saya meraih peringkat 6 besar se-Indonesia dan ‘UIN SU Juara’ telah digaungkan kemarin di pentas podium ketika final prestasi kepenulisan saya di UIN ar-Raniry Aceh,” ucapnya dengan bangga.

Lelaki yang memiliki motto hidup ‘Jangan pernah katakan menyerah sebelum takdir memaksamu untuk menyerah’ ini memegang prinsip hidup yang bijaksana, di mana beliau merasa bahwa kalimat itu memberikan semangat untuk terus berusaha walaupun kita tidak mengesampingkan takdir itu sendiri. Maka tak heran, terpilihnya beliau sebagai juara pertama mahasiswa berprestasi UIN SU 2017 ini merupakan buah hasil dari kerja kerasnya selama ini dalam memperjuangkan segala keinginannya. Teruslah berkarya dan menjadi sosok yang menginspirasi bagi penerus bangsa.

Reporter    : Syafrita

Editor        : Shofiatul Husna Lubis