New Normal dan Peran Awak Media Semarakkan Protokol Kesehatan

(Foto/Dok. Panitia)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas 2017 mengadakan Art Show Case (ASC)  2020 bertemakan “Bring Back Home” dengan serangkaian kegiatan  yang menarik dari 4 konsentrasi di Jurusan Komunikasi Universitas Andalas. Salah satu kegiatannya adalah Sarasehan Jurnalistik bertajuk “New Normal, Media Harus Apa?”. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 24 September 2020 secara virtual via Zoom Meeting.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain DR. Andani Eka Putra (Kepala Pusat Laboratorium Diagnostik dan Penyakit Infeksi Universitas Andalas), Khairul Jasmi (Pemimpin Redaksi Koran Singgalang), Muhammad Rayhan (Chief Digital Spesialis Haluan.co), dan Akhir Nasution (Reporter tvOne).

Kegiatan Sarasehan Jurnalistik yang bertajuk “New Normal, Media Harus Apa?” diadakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas sebagai ajang memarakkan kembali protokol kesehatan pada masa Kenormalan Baru. Hal senada dengan yang diucapkan oleh ketua Art Show Case Konsentrasi Jurnalistik Angkatan 2017 dalam sambutannya mengatakan ingin kembali memarakkan protokol kesehatan pada masa Kenormalan Baru yang mulai perlahan-lahan diabaikan.

“Jadi, kami dari Konsentrasi Jurnalistik itu ingin acara ini memberikan kita, khususnya anak pers dan Ilmu komunikasi yang nantinya akan berkecimpung di dunia media bisa memahami betul-betul apa dan bagaimana seharusnya kita berperan sebagai awak media untuk menyemarakkan protokol kesehatan,” ujar Anggi Putri Rizkya.

Anggi berharap untuk pers mahasiswa dan mahasiswa ilmu komunikasi setelah berakhirnya acara Sarasehan Jurnalistik bisa mengaplikasikan ilmu-ilmunya. “Acara ini dikhususkan untuk Persma dan mahasiswa Ilmu Komunikasi sebagai yang paling dekat dengan Media. Pengaplikasiannya ini dalam bentuk kita benar-benar memarakkan kreativitas apa yang bisa kita buat sehingga kita bisa membantu ahli media untuk menjadikan Indonesia bebas Covid,” ujarnya.

Memasuki sesi diskusi Akhir Nasution yang merupakan reporter tvOne mengatakan bahwa sebagai wartawan belum pernah merasakan WFH. “Sebagai wartawan televisi, kalau saya sendiri belum pernah merasakan WFH. Pandemi ini wartawan harus tetap turun kelapangan karena jurnalis itu adalah ujung tombak dari pemberitaan. Nah, memang setiap perusahaan media, seperti di Jakarta ini berbeda-beda memperlakukan wartawannya. Ada media yang cukup perhatian. Misalnya tvOne, kita di modali dengan vitamin-vitamim, susu, dan masker,” ujar Akhir.

Lebih lanjut Akhir mengatakan apa-apa saja tugas media dalam peliputan Covid-19. “Pada umumnya inilah 3 tugas media dalam peliputan Covid-19, diantaranya, melakukan sosialisasi protokol kesehatan. Misalnya, kalau sekarang dalam masa Kenormalan Baru ini seperti razia masker, operasi kapasitas penumpang itu kita berkali-kali melakukan peliputan dan juga langsung di lokasi kejadian. Sepertinya masyarakat Indonesia ini lebih banyak belum percaya dengan tulisan-tulisan online. Karena kalau disini misalnya berbicara dengan beberapa warga-warga  di Jakarta mereka juga belum percaya dengan Covid ini, ada penolakan. Terus, kritik atau kontrol kebijakan pemerintah, dan melawan hoaks,” lanjutnya.

Beralih ke narasumber selanjutnya Muhammad Rayhan sebagai Chief digital Spesialis Haluan.co mengatakan yang bekerja seperti esensi media seharusnya, Penyebaran Informal, Pendidikan, Hiburan, Persuasi, Pengawasan dan Sosialisasi, dan Penghimpunan. “ Di masa Pandemi ini Media Massa diharapkan membuat lebih banyak pemberitaan positif terkait penanganan Covid-19, hal tersebut diharapkan akan mampu memberikan dorongan moral kepada setiap individu dalam melakukan kegiatannya di tengah pandemi,” ujar Rayhan.

Rayhan pun berujar zaman sekarang hidup di zaman disruption. “Memang di zaman sekarang kitakan hidup di zaman disruption ya banyak berubah, kebiasaan anak muda berubah, banyak industri yang berganti, terus juga apalagi industri media move menteri nya terlalu cepat,” ujar Rayhan.

Salah satu peserta yang mengikuti Sarasehan Jurnalistik mahasiswa Universitas Andalas Sadiah Ningrum turut mengatakan bahwa acara tersebut diadakan setahun sekali dengan berbagai macam tema. “Art Show Case Jurnalistik yang diadakan oleh ilmu komunikasi UNAND sangat menambah informasi dan sesuai dengan realita yang terjadi. Lalu, kita diperlihatkan tanggapan orang-orang dibelakang layar selama mereka menginput informasi untuk diberitahukan kepada kita. Saya berharap di event berikutnya panitia menghadirkan kembali bintang tamu yang lebih dikenal oleh banyak orang agar meningkatkan antusias orang banyak,” tutupnya.

Reporter : Amita dan Taufik Syahputra

Editor      : Amelia Pratiwi

Latest articles

Pemilihan Pengurus Baru, PEMAPASID Adakan Musyawarah Besar

Medan, Dinamika Online – PEMAPASID (Persatuan Mahasiswa Kota Padang Sidempuan) telah mengadakan musyawarah besar dengan tema "Menciptakan Generasi Kader Pemapasid yang Memiliki Nilai Ukhuwah...

Cara Jitu Bangun Pagi

Penulis : Nurur Ramadhan Nasution Mayoritas orang memiliki harapan untuk bangun pada pagi hari, mulai dari kalangan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, mahasiswa,...

Bangun Potensi Buat Berita, Jurnalistik Syams Gelar Pelatihan

Medan, Dinamika Online – Guna membangun potensi dalam pembuatan berita, i Jurnalistik Syams MAN 1 Medan menggelar pelatihan dengan pembahasan “Membuat Berita”. Pelatihan ini...

Antisipasi Penyebaran COVID-19, Dema FIS Langsungkan Kegiatan Berbagi

Medan, Dinamika Online - Untuk menghindari penyebaran Covid-19, Dema Fakultas Ilmu Sosial (FIS) mengadakan kegiatan berbagi dengan tema "Katakan Tidak pada Corona". Kegiatan ini...

Langgar Prokes, Pemko Medan Tutup Sementara Tempat Usaha

Medan, Dinamika Online – Dilansir dari laman resmi Humas Pemko Medan, Pemerintah Kota Medan melalui Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) mengumumkan bahwa...